Sunday, April 15, 2012

AKU HARUS PULANG


"Vie, kamar mandi sudah bersih"
Ibu muncul dari balik pintu mengagetkanku. Aku tersenyum tipis,
mengangguk, menyembunyikan gurat kesedihan yang selalu meneteskan air
mata ibu.
"Iya, Bu!" jawabku.
Usapan lembut ku terima dari tangannya. Dan aku tidak beranjak. Kutatap
langit-langit kamar tua yang lama tak berpenghuni ini. pertama kalinya aku
menginjakkan kaki sejak tujuh tahun lalu sepeninggal eyang. Tak ada satu
pun anak-anak eyang -termasuk ibuku- berminat menempati rumah tua ini.
Aku maklum. Rumah ini jauh terpencil di pedesaan. Untuk mencapainyapun
harus naik dokar dan melewati daerah perbukitan dengan hamparan
ladang-ladang tembakau yang menghijau.
Suasana rumah ini sangat tenang. Begitu alasanku memilihnya sebagai
tempat menunggu ajal. Aku berharap orang-orang di sini akan lebih bisa
menerimaku. Tidak seperti aku saat di jakarta. Aku sudah tak tahan lagi
dengan cercaan, cibiran, juga sikap jijik orang-orang padaku sejak virus aids
itu bersarang di tubuhku. Apalagi tuduhan pelaku seks bebas itu. Pakaian
taqwa yang selalu rapat menutup auratku ternyata tidak cukup membuat
orang-orang sekitarku berfikiran positif. Batinku menjerit meski sebenarnya tak
seratus persen aku menyalahkan mereka. Sebulan yang lalu seorang
muslimah berjilbab yang kost di sebelah rumah di gerebek karena melakukan
seks bebas di kamarnya.
Dan aku ingat benar dengan tetangga rumah yang langsung pindah rumah
sejak mengetahui aku mengidap aids. Beberapa orang juga menghindariku,
bahkan untuk tersenyum pun serasa aku tak punya tempat lagi. Dan ku kira
tak ada yang bisa kusalahkan dengan takdir ini. Transfusi darah saat Hb-ku
anjlok (turun) jadi 5 pun hanya kuanggap sebagai jalan dari Allah, aku
menerima cobaan ini. Makanya, aku tak ingin keluargaku ngotot dan
mengangkat kasus ini ke pengadilan. Biarlah, aku ikhlas .
"Bismillahirahmanirrahiim "
Aku kembali menguatkan tekad untuk tinggal di sini. Ibu dan ayah ikut untuk
menemaniku. Mereka meninggalkan usahanya di Jakarta. Demi aku. Dua
orang kakakku tetap tinggal di sana karena harus menyelesaikan kuliah S-2
nya. Namun, mereka pun berjanji akan sering pulang ke desa. Juga demi
aku.beruntung aku masih memiliki orang-orang tercinta, yang mendampingi
kala aku butuh dukungan.
17 Juli1999
Mbak Vie !!! Mbak Vie !!! Suara teriakan anak-anak dari luar
menyentakkanku. Baru saja juga aku sampai dari rumah Bu RT, mengajari
para remaja putri Karang Taruna membuat bunga dari bahan-bahan daur
ulang. Mereka para remaja pengangguran jebolan SMP yang saat ini
menggantungkan penghidupan dari daun-daun temabakau. Kebetulan
masa panen belum tiba sehingga waktu luang masih mereka miliki.
Aku membuka pintu yang sengaja ku tutup karena hawa dingin. Anak-anak
kecil itu memenuhi pintu depan rumah. "Hari sudah gelap." Ingatku pada
mereka yang datang pada saat menjelang maghrib itu.
"Mbak Vie, kita mau belajar Matematika."
Aku mengulum senyum. Ini baru berita baru. Anak-anak di sini jarang punya
keinginan belajar. Mau sekolah saja sudah syukur. Kesadaran menuntut ilmu
harus di bangun. Sekolah bukan hanya formalitas untuk mendapatkan
selembar ijazah.
"Kalian sekarang pulang, ambil mukena, shalat maghrib ke langgar, dan kita
belajar di sana ya!!" Tanpa banyak komentar mereka langsung berlarian
pulang. Aku pun segera mengambil wudlu, dan berangkat.
"Vie, jaga kesehatan. Jangan pulang malam!" pesan ibu dari dapur.
Tapi, baru sampai di depan pintu perutku tak mampu kutahan. Diare lagi.
Kuingat juga, semua terjadi sejak penyakit datang. Dan kebiasaan itu
menyusahkanku apalagi jika datang saat-saat aku di langgar, pertemuan
Karang Taruna, atau mengisi pengajian. Apalagi kalau demam itu datang
tiba-tiba. Rasanya badan seperti tertusuk-tusuk jarum.
#####
Dan begitulah hari-hari selanjutnya. Setiap sore anak-anak belajar di langgar
usai maghrib sampai Isya'. Aku bahagia bisa berbagi dengan mereka
meskipun ibu selalu mengkhwatirknku yang penuh kegiatan sejak
pertemuanku dengan mereka. Aku ingin mengajari mereka keoptimisan. Aku
ingin menunjukkan bahwa dunia itu luas, tidak hanya desa dan ladangladang
tembakau saja. Aku ingin sekali mengajari mereka bermimpi dan
bercita-cita. Bahwa menjadi orang hebat menjadi hak setiap orang, termasul
mereka. Bahkan bercita-cita untuk jadi presiden sekalipun.
5 Januari 2000
"Astagfirullahal'adzim," rintihku saat pisau itu menyayat kulit jariku.
"Hati-hati, Mbak Vie."
Warsi sahabatku segera meraih tanganku bermaksud menolongku. Ia tak
tega melihat darh mengalir. Tapi segera kuelakkan dengan sedikit kasar.
Warsi terkesima. Segera kututup luka itu dengan kerudungku. Dan aku berlari
ke belakang meninggalkan mereka. Mungkin warsi tersinggung. Aku
khawatir.
Di petak kamar mandi dari ghedeg (bambu) itu, aku tak bisa
menyembunyikan semburan air mataku. Semakin perih. Bukan lukaku, tapi
hatiku. Inikan hukuman buatku sehingga darah pun menjadi maut bagi
orang lain, rintihku emosi. Darah pengidap aids bukan sembarang darah
yang bisa sekenanya terpegang orang lain. dan aku terus menangis hingga
habis suadah air mata itu mengalir.
23 September 2000
Masih lekat ku tatap langit-langit kamar tua itu. Dulu aku pertama kali
mengenangnya dengan hati yang meradang. Saat ini pun aku terakhir kali
mengenangnya dengan hati yang terluka. Perpisahan menjadi saat-saat
yang menakutkanku. Ladang-ladang tembakau, perbukitan dengan
kabutnya, hawa dingin, jalan-jalan yang meliuk menaik yang sering kutapaki
untuk menemui orang-orang yang selalu mencintaiku, anak-anak yang selalu
mendoakanku, Warsi sahabatku juga ibu dan ayahku.
Aku menunjukkan jemariku ke arah tape memberi tanda untuk membalikkan
murrottal yang telah habis. Ibu menerima isyaratku.
"Tidurlah, Nak!" bisik ibu di telingaku.
Aku diam hanya menatapnya. Tulang-tulang yang tinggal menyusun ragaku
terasa pilu. Dan pandanganku berputar pada foto wisuda SMA-ku yang
terpasang di dinding. Kembang senyum dengan bibir memerah tanpa lipstik
dan pipi yang masih segar tak lagi kumiliki.
"Beginikah hidup manusia?" tanyaku pada diri sendiri. dan sebentar lagi
tulang-tulang yang tergolek di kasur itu akan di gerogoti binatang-binatang
tanah. Lalu, kenapa manusia harus berbangga dengan kelebihan fisiknya?
Ku dengar suara ramai dari luar. Aku tidak heran. Seperti itulah, kamar dan
rumah tua ini menjadi ramai dengan kunjungan orang semenjak aku sakit
dan tergolek menanti maut begini. Tapi aku bahagia. Mereka adalah
semangatku. Anak-anak yang setiap sore membacakan Al Baqarah, ibu-ibu
yang yang selalu mengusap lembut kepala dan pipiku yang tak berdaging,
juga kembang-kembang dari bahan daur ulang yang terpasang dari meja
dari pemuda-pemuda Karang Taruna, kesetiaan Warsi sahabatku yang selalu
menungguiku, serta air mata ayah ibuku. Aku bahagia bertemu mereka dan
mendapat cinta mereka. Aku bahagia
(Sumber : Tabloid MQ EDISI 11/TH.II/MARET 2002)

Tuesday, April 10, 2012

Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia


  1. Sadarilah bahwa jika Anda tidak hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan,dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda.Inilah makna sabda Rasulullah: "Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi." 
  2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan kegilaan. 
  3. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada di alam gaib. Jangan pikirkan hingga ia datang dengan sendirinya. 
  4. Jangan mudah terguncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut. 
  5. Beriman kepada Allah, dan beramal salih adalah kehidupan yang baik dan bahagia. 
  6. Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan kesenangan, maka dia harus berdzikir kepada Allah. 
  7. Hamba harus menyadari bahwa segala sesuatu berdasarkan ketentuan qadha' dan qadar. 
  8. Jangan menunggu terima kasih dari orang lain. 
  9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk. 
  10. Kemungkinan yang terjadi itu ada baiknya untuk diri Anda. 
  11. Semua qadha' bagi seorang muslim baik adanya. 
  12. Berpikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah. 
  13. Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain. 
  14. Yakinlah, dari waktu ke waktu selalu saja ada jalan keluar. 
  15. Yakinlah, dengan musibah hati akan tergerak untuk berdoa. 
  16. Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati. 
  17. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. 
  18. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele. 
  19. Sesungguhnya Rabb itu Maha Luas ampunan-Nya.

Number One For Me

I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I'm here for you


For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it's time for you to rise
For all the things you sacrificed

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you


Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday


Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday


You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me


Now I finally understand
That  famous  line
About the day I'd face in time
Coz now I have a child of mine


Even though I was so bad
I've learnt so much from you
Now I'm trying to do it too
Love my kids the way you do


Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you


Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday


Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday


You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me


There is no one in this world
That can take your place
Oooh I'm sorry for ever taken you for granted


I will use every chance I get
To make you smile
Whenever I'm around you


Now I will to try to love you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me


Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you


Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday


Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

The number one for me
The number one for me
The number one for me
Oh oh
number one for me
http://www.index-of-mp3.com/download/lagu/be686ba5/maher-zain-number-one-for-me/

Thursday, March 29, 2012

SOMEONE WHO LOVES U

Seseorang yang mencintai kamu,
tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu.
Dia hanya tahu, dimata dia, kamulah satu satunya

Seseorang yang mencintai kamu,
sebenarnya selalu membuatmu marah/gila/jengkel/stres.
Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang
sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu.

Seseorang yang mencintai kamu,
jarang memujimu,
tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik, hanya ia yang tahu.

Seseorang yang mencintai kamu,
akan marah-marah atau mengeluh jika kamu tidak membalas pesannya atau telp-nya,
karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi ke kamu.

Seseorang yang mencintai kamu,
hanya menjatuhkan airmatanya di hadapanmu.
Ketika kamu mencoba untuk menghapus air matanya,
Kamu telah menyentuh hatinya,
dimana hatinya selalu berdegup / berdenyut / bergetar untuk kamu.

Seseorang yang mencintai kamu,
akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan,
bahkan yang tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata2 itu tepat waktunya.

Seseorang yang mencintai kamu,
tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah,
karena ia tidak mau mengingkari janjinya.
Ia ingin kamu untuk mempercayainya
dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman selama-lamanya.

Seseorang yang mencintai kamu,
mungkin tidak bisa mengingat
kejadian/ kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu,
tapi ia tahu bahwa setiap detik yang ia lalui, ia mencintai kamu,
tidak peduli hari apakah hari ini.

Seseorang yang mencintai kamu,
tidak mau berkata Aku mencintaimu dengan mudah,
karena segalanya yang ia lakukan untuk kamu adalah
untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu,
tetapi hanya ia yg akan mengatakan kata "I Love You" pada situasi yang spesial,
karena ia tidak mau kamu salah mengerti,
dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu.

Seseorang yang benar-benar mencintai kamu,
akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan sekali saja,
karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya.
Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada
yang akan membuatnya bahagia / tersenyum.

Seseorang yang mencintai kamu,
akan pergi ke airport untuk menjemput kamu,
dia tidak akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang
seperti yang kamu harapkan.
Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan
menanyakan : Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari ?
Dengan hatinya yang tulus.

Seseorang yang mencintai kamu,
tidak tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah,
tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam.
Jika kamu menanyakan : mengapa ia telat menelepon, ia akan berkata :
Ketika kamu marah, penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah.
Tetapi, ketika kamu sudah tenang,
penjelasannya baru akan benar2 bekerja / manjur / berguna.

Seseorang yang mencintaimu,
akan selalu menyimpan semua benda2 yang telah kamu berikan,
bahkan kertas kecil bertuliskan 'I LOVE U' ada di dalam dompetnya.

Seseorang yang mencintaimu,
jarang mengatakan kata2 manis.
Tapi kamu tahu, 'kecupannya' sudah menyalurkan semua ......

Seseorang yang mencintai kamu,
akan selalu berusaha membuat mu tersenyum dan tertawa
walau terkadang caranya membingungkanmu ..

Seseorang yang mencintaimu,
akan membalut hatimu yang pernah terluka
dan menjaganya dengan setulus hati agar tidak terluka lagi ...
dan ia akan memberikanmu yang terbaik walau harus menyakiti hatinya sendiri.

Seseorang yang mencintaimu,
akan rela melepaskan mu pergi bila bersamanya kamu tidak bahagia ...
dan ia akan ikut bahagia
walau kamu yang dicintainya bahagia bersama orang lain.

Pernahkah kamu mencintai seperti itu ????
maka Berbahagialah orang yang dicintai oleh dirimu ....

(Someone…)

Kesederhanaan yang paling bernilai adalah kebaikan

Sahabat saya yang hatinya baik,
yang sedang menjadikan kehadirannya bernilai dalam kehidupan ini.

Mudah-mudahan sapa saya malam ini mendapati Anda sedang dalam kedamaian bersama keluarga dan kerabat terkasih.

Tidak terasa satu tahun telah berlalu lagi, dan tahun yang baru ini akan juga menua dengan kesegeraan yang tidak menanti penundaan dan keraguan-keraguan kita.

Kita sering mengeluhkan kurangnya waktu untuk mengerjakan hal-hal penting yang akan membesarkan kehidupan kita, tanpa menyadari bahwa semua pribadi besar yang namanya tercatat indah dalam sejarah kemanusiaan itu, juga menggunakan jumlah waktu yang sebanding dengan yang dijatahkan bagi kita.

Waktu itu bernilai, bukan karena panjangnya, tetapi karena kebaikan yang kita lakukan di dalamnya.

Maka siapa pun dari kita yang menyibukkan diri dengan pikiran dan tindakan yang membaikkan kehidupan pribadi, keluarga, dan mereka yang kita layani, akan menjadi pribadi yang bernilai hidupnya.


Sahabat saya yang mulia hatinya,
dan yang berhak bagi kehidupan yang sejahtera, yang membahagiakan, dan yang cemerlang,

Berikut adalah sedikit catatan bagi pelengkap renungan Anda di ruang keluarga MTSC yang ramah dan saling memuliakan ini.

Berdakwah Tiada Henti

Urwah Ibn Mas’ud Ats Tsaqafi datang menghadap Rasulullah saw menyampaikan kesiapan dirinya untuk berdakwah, menyebarkan Islam di tengah kaumnya, Bani Tsaqif di Thaif, “Ya Rasulallah, tugaskan saya untuk mendakwahi kaum saya, mengajak mereka memeluk Islam”.
Kondisi dakwah yang masih lemah, kecil, dan menjadi musuh bersama membuat  Rasulullah saw mengungkapkan kekhawatirannya. Rasulullah bersabda: “Saya takut, jika nanti mereka menolak, mengusir dan bahkan membunuhmu”. Sebagai pemimpin, Rasulullah saw merasa perlu melindungi keselamatan kader dakwah dari berbagai ancaman dan bahaya yang mungkin terjadi. Di mata Rasulullah saw kader dakwah adalah aset yang sangat berharga.
Urwah meyakinkan Rasulullah saw  bahwa dirinya adalah orang yang sangat disegani di tengah-tengah kaumnya. Sehingga kekhawatiran Rasulullah saw itu dapat dihapus, dan Urwah bisa mendapatkan tugas untuk berdakwah di tengah-tengah kaumnya dari Rasulullah saw. Urwah ibn Mas’ud berkata: “Ya Rasulallah, jika mereka mendapati saya sedang tidur, tidak akan ada satupun di antara mereka yang berani membangunkan saya”.
Kedudukan dan kehormatan Urwah ibn Mas’ud yang sangat tinggi di masyarakat diharapkan akan mampu menjadi modal berharga dalam menyebarkan Islam di tengah kaumnya. Posisi yang terhormat di masyarakat dapat berfungsi sabagai bumper untuk melindungi aktifis dakwah dari benturan-benturan sosial yang mungkin terjadi.
Dengan modal kedudukan dan kehormatan Urwah ibn Mas’ud itulah kemudian Rasulullah saw mengizinkan dan menugaskannya untuk mendakwahi kaumnya. Rasulullah saw bersabda, “Berangkatlah berdakwah, mengajak kaummu masuk Islam”.
Urwah ibn Mas’ud berangkat menuju kampungn halamannya, membawa cita-cita besar mengislamkan mereka, menunjuki kaumnya ke jalan Allah. Ketika sampai di kampung halaman, Urwah ibn Mas’ud melewati tempat berhala Latta dan Uzza yang menjadi kebanggaan dan simbol pemujaan Bani Tsaqif. Dengan geram Urwah ibn Mas’ud berjanji akan menghancurkan berhala-berhala itu. Ia berkata kepada Latta dan Uzza: “Besok pagi akan saya buat kalian hancur berantakan”.
Urwah mungkin berkesimpulan seperti yang pernah difahami oleh Nabi Ibrahim –alaihissalam- bahwa berhala-berhala itu yang menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Berdakwah adalah berijtihad menemukan penyebab masalah umat untuk mencari kemungkinan solusi yang cocok.
Bani Tsaqif yang mendengar ancaman itu bereaksi marah besar. Bagaimanapun juga Latta dan Uzza adalah simbul agama mereka. Urwah bin Mas’ud berusaha menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya kepada kaumnya. “Wahai Kaumku, Sesungguhnya Uzza tidak pernah memuliakan kalian semua, demikian juga Latta tidak akan pernah bisa menghindarkan kalian semua dari bahaya. Masuklah Islam, serahkan diri kepada Allah, maka kalian akan selamat”. Urwah menyerukan dakwahnya itu di hadapan kaumnya. Tiga kali ia kumandangkan seruan itu, tetapi kaumnya sudah tidak menghiraukan apalagi mengindahkannya.
Kedudukan Urwah bin Mas’ud yang mereka segani di masa lalu, hilang begitu saja dari hati kaumnya ketika ia dianggap telah meninggalkan agama nenek moyangnya dan telah berbeda agamanya. Kemarahan Bani Tsaqif karena berhala kebanggaannya dicela dan diserang telah membuat mereka memasang penutup hati dari apapun yang akan disampaikan oleh Urwah bin Mas’ud, dan bahkan melakukan serangan balik kepada Urwah bin Mas’ud. Mereka melempari Urwah bin Mas’ud dengan batu, hingga ada salah satu lemparan batu itu mengenai pelipisnya dan menyebabkan kematiannya.
Inilah tabiat umum manusia, bahkan tabiat makhluk hidup pada umumnya. Ketika mereka merasakan ada ancaman bahaya apalagi mendapatkan serangan maka mereka akan melakukan perlawanan. Dan dalam pertarungan terbuka seperti itu, kekuatan bathil yang dominan sering mengalahkan kebenaran yang masih asing.
Ketika berita kematian Urwah bin Mas’ud sampai ke telinga Rasulullah saw, Beliau berkomentar: “Apa yang telah terjadi pada Urwah bin Mas’ud, seperti yang pernah tejadi pada aktor dakwah di surah Yaa-siin”. Pembela dakwah itu terbunuh oleh kaumnya sendiri, dan ia dipersilahkan masuk surga. Dan aktifis dakwah itu tidak pernah berhenti berdakwah, ia terus mengajak kaumnya masuk Islam, meskipun ia telah gugur dan tidak lagi bersama dengan mereka:
“dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga"[1265]. ia berkata: "Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang dimuliakan". Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber: Majalah Sabili No 3 TH XIX 10 November 2011.

Gesekan Persahabatan

Suasana santai Rasulullah saw bersama Abu Darda ra mendadak berubah serius ketika muncul Abu Bakar As Shiddiq ra yang datang tergopoh-gopoh, berjalan bergegas, menyisingkan kainnya, sehingga hampir tampak kedua lututnya. Dari kejauhan Rasulullah saw memandangi Abu Bakar ra dan berkomentar: “Sesungguhnya sahabatmu itu sedang ada keperluan serius”.
“Assalamualaikum....” Abu Bakar ra menyapa Rasulullah saw dan para sahabat. Setelah dijawab salam itu kemudian Abu Bakar mengadukan masalahanya: “Ya Rasulullah saw, sesungguhnya tadi saya ada sedikit masalah dengan Umar, saya agak tergesa-gesa kepadanya, sehingga membuatnya agak kesal. Kemudian saya menyesali kejadian itu. Saya telah memintanya agar ia bersedia memaafkan saya, tetapi Umar menolak. Saya sempat menyusulnya ke Baqi’, saya tunggu ia keluar dari rumahnya tetapi tetap saja ia menolak memaafkan kesalahan saya. Sehingga saya datang ke mari menghadap engkau Wahai Rasulullah”.
Persahabatan sangat mudah terkoyak oleh gesekan-gesekan kecil dan goresan yang terkadang menyisakan rasa kesal dan kecewa. Padahal persahabatan itu sulit membina dan membangunnya. Maka mempertahankan persahabatan sangat diperlukan kesadaran diri dan keterbukaan untuk bisa memaafkan kekhilafan sahabat yang lain.
Menanggapi kegelisahan Abu Bakar ra yang nyaris putus asa untuk mendapatkan maaf dari Umar, Rasulullah saw berdoa: “Semoga Allah memberikan ampunan untukmu Wahai Abu Bakar”. Dan untuk menunjukkan kesungguhan doa itu, Rasulullah saw mengulangi doa itu tiga kali.
Rasulullah saw pendidik sejati yang mampu meredam kegelisahan sahabatnya, dengan mendekatkannya kepada Allah SWT. Sikap kebapakan yang mengayomi dan solutif inilah yang menyebabkan para sahabat tidak segan-segan mengadukan masalah-masalah pribadinya kepada Rasulullah saw. Para sahabat optimis jika mengadukan masalah kepada Rasulullah saw akan ada solusi dan tidak menyisakan polusi.
Di sisi lain, Umar bin Al Khaththab ra mulai juga menyesali sikapnya “Kenapa menolak memaafkan Abu Bakar, ketika Abu Bakar meminta maaf atas kekhilafannya?”. Umar bin Al Khaththab ra pergi ke rumah Abu Bakar ra. Dan ketika sampai di rumah Abu Bakar, Umar tidak menemukan Abu Bakar di rumahnya. Keluarga Abu Bakar memberitahukan bahwa kemungkinan besar kalau tidak ada di rumah Abu Bakar biasanya berada bersama Rasulullah saw.
Umar bin Al Khaththab  ra  begegas menemui Rasulullah saw dengan harapan mendapatkan Abu Bakar ra di sana dan dapat menyelesaikan masalahnya itu dengan sebaik baiknya. Umar bin Al Khaththab  ra tidak ingin memendam masalah yang tidak terselesaikan dengan baik kepada para sahabatnya khususnya Abu Bakar As Shiddiq.
Melihat kedatangan Umar bin Al Khaththab  ra, wajah Rasulullah saw berubah dan tampak marah, sehingga Abu Bakar ra tampak kasihan dan tidak ingin Umar bin Al Khaththab  ra mendapatkan kemarahan dari Rasulullah saw. Abu Bakar ra ketakutan hingga duduk tersungkur dan berkata: “Ya Rasulallah, saya yang salah, saya yang telah melakukan kezhaliman”. Dua kali Abu Bakar ra mengulang pernyataannya itu, mengiba agar Rasulullah saw tidak marah kepada Umar bin Al Khaththab ra.
Tampak dari cara Rasulullah saw menerima Umar bin Al Khaththab ra, ketidak senangannya jika ada orang yang menolak memaafkan sahabatnya yang telah menyadari kekhilafan dan meminta maaf. Seseorang yang telah mengakui kesalahannya secara psikis ia telah kalah, maka tidak pantas untuk ditambah penderitaannya dengan tidak mendapatkan maaf dari sahabatnya. Dan Abu Bakar ra tampak begitu mulia dan cintanya kepada Umar bin Al Khaththab ra. Ia bersedia menanggung kesalahan itu hanya ada di pundaknya dan berusaha membebaskan Umar bin Al Khaththab ra dari kesalahan.
Begitulah persahabatan dibangun, dikelola dan diperbaiki jika ada gesekan, atau goresan luka. Masalah dalam mu’amalah adalah keniscayaan, dan yang terpenting adalah cara indah dalam menemukan solusi.
Rasulullah saw kemudian mengingatkan kepada seluruh ummatnya secara umum untuk mengingat prestas dan kebaikan orang lain. Rasulullah bersabda: “Wahai manusia semua, seungguhnya Allah SWT mengutusku kepada kalian semua, lalu kalian semua mendustakanku, tetapi Abu Bakar membenarkan dan mengimaniku. Ia telah melipurku dengan jiwa, raga dan hartanya. Bersediakah kalian memaafkan sahabatku ini? Rasulullah mengulang pertanyaannya itu tiga kali. Dan setelah peristiwa itu, Abu Bakar ra tidak terganggu lagi.
Sumber: Majalah Sabili No 4/XIX, 24 November 2011.

Komentar anda