Tuesday, January 12, 2016

Terima kasih cinta..........

Tetaplah menjadi bidadari
Berseri sepanjang hari
Dalam mengarungi bahagia bersama
Menjemput restu dan ridhaNya

Membina mahligai surga didunia
Melukis pelangi menjemput Ridha Ilahi
Kau berseri bagai bunga ditaman
Berseri dan menebar wangi untukku sepanjang hari

Marilah bersama kita arungi
Meski tak sempurna inilah biduk cinta kita berdua
Meski sederhana ini adalah milik kita
Meski tak seperti istana namun inilah persembahanku
Untuk cintamu padaku

Meski ku tahu aku bukanlah laki-laki gagah nan rupawan
Namun kau rela menerimaku dengan kesempurnaan cinta
Meski ku tahu aku tak punya istana Kisra, singgahsana istana Persia
Namun ku tahu kau mencintaiku dengan sempurna

Terima kasih tak terhingga untuk bukti cintamu
Terima kasih untuk belaian mesra penuh ridha
Terima kasih tak terhingga untuk manja-manja yang menemaniku
Terima kasih cinta..........

Pelabuhan Hatiku

Hari itu aku merasa begitu bahagia
Telah ku putuskan bahwa engkaulah
Anugerah Tuhanku Bidadari dalam wujud sempurna
Mendampingimu menjadi suami

Telah berakhir pencarianku
Akan sosok wanita pelengkap hidupku
Bahwa ternyata Tuhan takdirkan engkau
Melengkapi Tulang rusukku

Engkau mungkin bukan wanita sempurna
Tapi aku tahu bahwa ciptaan Tuhan tak ada yang sia-sia
Bahwa dalam kesederhanaanmu engkau adalah ciptaan yang sempurna
Bahwa dalam kelembutanmu ada kekuatan cinta yang menyatukan kita

Terima kasih, untukmu
Yang telah menemaniku mengarungi bahtera ini
Terima kasih untukmu
Yang telah melengkapi separuh jiwaku

Tuhan kekalkan ikatan kami
Tuhan berkahi perjuangan kami
Tuhan jangan biarkan dia dalam kesedihan
Tuhan jangan biarkan dia kekurangan

Terima kasih dinda
Atas kesetiaanmu selama ini
Terima kasih dinda
Untuk pelayanan mu yang penuh cinta


Sepenuh jiwa aku mencintaimu

Sunday, January 10, 2016

Karena Cinta adalah Memberi

Menurut kamu apa artinya cinta?” lalu sang
kekasih menjawab, “kasih sayang!” “oh,
itu sinonim” “jadi apa dong?” “Cinta itu memberi”
“Ya, benar, kalau namanya
cinta, harus berkorban,” si kekasih membenarkan.
Tak bisa satu memberi dan satu lagi memanfaatkan.
Dengan kata lain, masing-masing sadar akan hak dan
kewajibannya. Bila sudah tidak sadar akan hak dan
kewajibannya, maka tak ada lagi cinta.
Dalam kamus bahasa Inggris, “to take” berarti mengambil.
Sedangkan “to give” berarti memberi. Jadi “take and give” ini
berarti mengambil dan memberi.
Konsep “take and give” ini berkonotasi mengambil dulu baru memberi.
Sepereti ini, kita tidak akan memberikan apapun jika kita belum menerima
sesuatu. Konsep barat ini mengajarkan tidak akan membantu orang jika itu tidak
mendatangkan keuntungan apapun. Memberi dengan melihat-lihat dahulu,
menguntungkan atau tidak.
Take and Give menihilkan ikhlas. Mau shalat asalkan.... Mau infaq asalkan.... Mau
apapun asal ada yang didapat lebih besar dari apa yang dia beri.
Tapi Konsep itu terlanjur menyebar. Padahal ada istilah lain yang lebih mendidik,
konsep ini adalah “Give and Receive (memberi dan menerima). Kaitannya dengan
hukum sebab akibat (law of attraction), sangat relevan, jika ‘give’ adalah sebab maka
‘receive adalah sebuah akibat. If you want to ‘give’ first! artinya sama persis “jika ingin
mendapatkan hak-hakmu maka tunaikan kewajiban dulu.
Jika ingin pintar ya belajar dulu, ingin uang ya usaha, ingin dihargai, ya peduli sama
orang lain, ingin anak shalih-shalihah, si orangtua harus memberikan teladan dulu. Ingin
disayang istri, harus memberikan cinta dan kasih sayang tulus kepada istri.
Selalu dan selalu, setiap anda berbuat akan ada akibatnya. Balasan itu tak selalu berupa
fisik. Bisa kasih sayang, sikap respect atau simpati. Semua balasan itu membuat anda
bahagia. Lalu apa jaminannya jika sudah memberi pasti akan menerima?
“Dan barang siapa yang mengerhajakan kebaikan seberat biji dzarah niscaya dia akan
menerima pahalanya, dan barang siapa yang mengerjakan keburukan seberat biji
dzarah niscaya dia akan menerima balsannya (QS. A-Zalzalah: 7-8).

One Heart

Hati manusia sungguh ajaib, dengan mata hatinya,
manusia mampu melihat jauh kedalam. Apalagi kalau hubungannya
dengan Allah terpelihara baik, batinnya
akan mampu melihat seterang bulan purnama.
Seorang ibu, akan mampu membaca prilaku anaknya,
atasan memperlakukan bawahan dengan sesuai.
Seorang guru, ustad/kiyai akan mampu melihat gerakgerik
santrinya, sehingga menggarahkan agar tak sesat.
Begitupun suami istri, karena telah berjima’ maka mereka
seperti satu tubuh. Kaki tersandung, mulutpun berteriak, aduh!
jadi, dalam rumah tangga keterbukaan menjadi penting. Begitupun
sebaliknya. Jadi untuk apa berbohong?.
Seorang dai, berdakwah dari hati, maka berbicara dari hati akan sampai pada
hati. Maksudnya, juru dakwah ini pernah mengamalkan apa yang dibicarakan,
maka jamaahpun ikut merasakan.
Bagaimana mungkin menerangkan nikmatnya puasa senin-kamis kalau ternyata kita
tidak melakukannya sendiri.
Dan orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong
bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah
yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan
RasulNya. Mereka itu akan diberikan rahmat oleh Allah;Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS: At-Taubah [9]: 71).
Dr. Abdullah Nasih Ulwan mengatakan “Ukhuwah merupakan kekuatan iman yang
melahirkan perasaan kasih sayang mendalam, cinta, penghormatan dan rasa saling
tsiqoh, terhadap seluruh insan yang memiliki cahaya keimanan dan ketaqwaan....”
“Marilah kita pengang teguh pada ukhuwah yang niscaya tidak akan sirna sekalipun
dunia ini akan hancur, hari-hari akan hilang dan berlalu namun ukhuwah tetap kekal
sepanjang masa. Hendaklah kita terus memelihara dan berambisi untuk menunaikan
hak-hak ukhuwah ini, merasakan nilai-nilainya, menjaga wirid Rabithah setiap hari.
Semoga Allah tetap bersama kalian dan tidak menyia-nyiakan perbuatan kalian”,
demikianlah Syeikh Mahdi Akif Mursyid Am Ikhwanul Muslimin dalam sebuah
nasihatnya.

Sekat

Setiap Kajian keislaman, referensinya adalah Al
Qur’an, untuk mendapatkan kepastian dengan
kebijakan Allah swt. Yakin itulah jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Namun antara makhluk dengan sang khaliq dan ketetapanNya terdapat hijab-hijab
yang harus terus ditembus. Seperti ke sekolah
melalui proses tes agar terus naik kelas.
Setiap pribadi terus berupaya sekuat tenaga agar sekat
tersebut terus dibuka oleh Allah Swt. Syeikh
Muhammad Amin Al Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub meyakinkan keutamaan
menghadiri majelis ulama akhirat, seandainya ganjaran pahala (keutamaan) duduk di
majelis ulama diperlihatkan kepada semua manusia maka manusia itu akan saling
membunuh.
Lihat saja orang yang memperebutkan angpau atau antrian zakat. Lihat para
penggemar Band yang berdesakan membeli tiket. Mereka rela antri berjam-jam,
bahkan ada yang menginap untuk mendapatkan tempat terdepan. Mereka selakmenyelak,
hingga ada yang pingsan atau bahkan mati terinjak atau kehabisan oksigen.
Karena sangat yakin dengan apa yang akan mereka dapatkan.
Bagaimana jika disingkapkan ganjaran pahala duduk dimajelis yang nilainya tidak bisa
dibandingkan dengan angpau tadi? Subhanallah.
Hijab batin seperti karat katarak yang menutupi mata hati. Kebodohan, hasad dan
keburukan hati lainnya merupakan hijab ruhaniyah merupakan bentuk hijab batin.
Inilah yang menyebabkan Kemuliaan dan KeagunganNya tidak terungkap oleh
manusia. Kesat hati membuat sekat semakin menebal.
Jika tersingkap tirai, maka orang akan tergiur. Akan total merebutnya, sebagaimana
para sahabat Ra terhadap figur Muhammad saw. Setiap seruannya direspon dengan,
sebab hijab kerohanian para sahabat semakin tipis. Taat bukan karena terpaksa, tapi
karena ridha.
Dalam tarikh Islam disebutkan bahwa Abu Sofyan sebelum masuk Islam ia bertemu
dengan Kaisar Romawi, “Apakah engkau kenal dengan yang namanya Muhammad!”
Abu Sofyan menjawab “Itu saudaraku!” (Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh
Abu Sofyan, semua ini disebutkan dalam Shahih Bukhari). Hingga Kaisar bertanya
kepadanya “Bagaimana sikap pengikutnya kepada Muhammad?” Abu Sofyan
menjawab “Aku belum pernah melihat suku atau kabilah yang pengikutnya memiliki
ketaatan, kecintaan, kesetiaan (loyalitas) habis-habisan kepada majikannya seperti
apa yang diperlihatkan pengikutnya kepada Muhammad!” Abu Sofyan saat itu adalah
musuh Islam, tapi jujur apa adanya mengungkapkan fakta.

Sunday, January 3, 2016

Surga Qudwah

Sesungguhnya Allah menetapkan Rasulullah sebagai qudwah hasanah
bukan sekadar untuk dibanggakan, dikagumi, direnungkan atau dijadikan stempel pembenaran belaka.
Namun qudwah adalah untuk dikaji, dipelajari, dipahami, diikuti dan
diterapkan dalam setiap diri yang bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
Qudwah adalah keteladanan yang aktif menggerakkan jiwa, menjadi inspirasi,
menjadi prinsip dalam dakwa, aplikatif dalam tarbiyah.
Dakwah akan aktif bila nyala qudwah yang nyata didalamnya.
Dakwah bukan kumpulan teori atau rumusan materi basi, namun ia adalah cahaya
yang menerangi jalan, tongkat yang menunjuki dan ruh qudwah yang menghidupkan

Kita bisa melihat, sejengkel apapun para sahabat, ketika sang Nabi telah memberikan
contoh teladan, mereka pun tergerak hati, berebut momentum untuk menjadi yang
terdepan dalam kebaikan. Disinilah, saudaraku, kita belajar pentingnya membangun
surga qudwah di jalan dakwah. 


Gerimis

UJAN lebat dimulai dari gerimis. Dua pertiga dari bumi kita ini mengandung air dan
Hsisanya adalah daratan. Air itu tersimpan dalam banyak wadah seperti samudera, lautan, sungai, danau sampai ke bak mandi. Tubuh kita juga mengandung banyak air. Air yang
ada di berbagai wadah tersebut akan mengalami penguapan atau evaporasi dengan bantuan
matahari. Termasuk juga air yang ada di daun tumbuhan ataupun permukaan tanah. Proses
penguapan air dari tumbuh-tumbuhan itu dinamakan transpirasi.
Kemudian uap-uap air itu akan mengalami proses kondensasi atau pemadatan yang akhirnya
akan menjadi awan. Awan-awan itu akan bergerak ketempat yang berbeda dengan bantuan
hembusan angin baik secara vertikal maupun horizontal. Gerakan angin tersebut menyebabkan
awan bergumpal. Gerakan angin tersebut menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan
saling bertindih-tindih.
Akhirnya gumpalan awan berhasil mencapai atmosfir yang bersuhu lebih dingin. Di sinilah butiranbutiran
air dan es mulai terbentuk. Lama-kelamaan angin tidak dapat lagi menopang beratnya
awan dan akhirnya awan yang sudah berisi air ini mengalami presipitasi atau proses jatuhnya
hujan air, hujan es dan sebagainya kebumi. Seperti itulah proses terjadinya hujan.
Jadi hakikatnya hujan adalah akibat dari sebuah proses. Segala sesuatu di alam ini berproses
atau ada sebabnya dan saling mempengaruhi.
Almarhum Syaikhuttarbiyah Rahmat Abdulla, dalam sebuah kesempatan pernah menasehati
“Bila dirumahmu banyak tikus atau bocor, periksalah shalat malam antum!” Awalnya juga bingung,
mengaitkannya. Tapi kalau tikus atau bocor itu dikaitikan dengan kejorokan atau sifat malas
(negatif) lainnya tentulah kita baru ngeh dengan nasehat itu.
Jadi kalau ingin Tahajud nanti malam, mulailah dengan niat sejak bangun pagi. Makanlah dengan
makanan yang halal dan thayyiban. Istirahat yang cukup dengan menyempatkan istirahat siang.
Jagalah terus niat itu dengan senantiasa berzikir. Karena tidak mungkin orang yang siangnya
bermaksiat malamnya akan merasakan nikmatnya bangun malam (tahajud).
Jadi sedia payung sebelum hujan. Siapa yang waspada ketika gerimis, dia akan terhindar dari
hujan lebat. Siapa yang menabur angin dia akan menuai badai.
??

Komentar anda