Saturday, June 14, 2014

Tiga Gunung: Prolog ‘Lapis-lapis Keberkahan’



oleh Salim A. Fillah

Dua gunung yang pertama; Akhsyabain julukannya.
Seperti sebutan itu pula wujudnya; dua yang kokoh, pejal, dan keras. Bagai mempelai pengantin, keduanya menjulang tinggi dengan gagah dilatari pelaminan langit. Cahaya mentaripun melipir ketika bayang-bayangnya jatuh di hamparan pasir. Dinding gunung-gunung ini cadas berrona merah, menyesak ke arah Thaif dan Makkah. Angin gurun yang sanggup menerbangkan kerikil, seakan tak mampu mengusiknya walau secuil.
Yang satu bernama Abu Qubais, sedang pasangannya Qa’aiqa’an.
Adalah malaikat penjaga kedua gunung ini suatu hari digamit Jibril menyapa seorang lelaki yang berjalan tertatih di Qarn Al Manazil. Bekas darah yang merahnya mulai menua dan lengket masih tampak di kakinya. Ada yang bening berbinar sendu di sudut matanya. Wajah itu tetap cahaya meski awan lelah dan kabut duka memayungi air mukanya. Jelas beban berat menggenangi jiwanya, tapi kita nanti akan tahu, yang tumpah ruah tetaplah cinta.
“Ya Rasulallah”, begitu kelak ‘Aisyah bertanya sembari bersandar mesra di bahu beliau dan menatap matanya penuh cinta, “Pernahkah kau alami hari yang lebih berat daripada ketika di Uhud?” Maka lelaki itu, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita, seperti diriwayatkan Imam Al Bukhari berikut ini.
“Aku mendatangi para pemimpin Thaif; ‘Abdu Yalail ibn ‘Amr, Mas’ud ibn ‘Amr, dan Hubaib ibn ‘Amr Ats Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Tirai Ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul’, yang berikutnya berucap, ‘Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus?’, dan yang terakhir berujar, ‘Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar Rasul, aku khawatir mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta!’
Lalu setelah tiga hari aku menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapapun yang kutemui, merekapun berramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku.
Akupun pergi dengan kegundahan dalam hati, hingga tiba di Qarn Ats Tsa’alib. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk. ‘Sesungguhnya’, kata Jibril, ‘Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu. Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini untuk kauperintahkan sesukamu.”
Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, ‘Ya Rasulallah, ya Nabiyyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu.’
“Tidak”, jawabku, “Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Bahkan aku ingin agar dari sulbi-sulbi mereka, dari rahim-rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan anak-keturunan yang mengesakanNya dan tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”
***
Mari sejenak kembali ke pertanyaan ibunda kita, sang Khumairaa. Apa yang berat bagi kekasih Allah ini melebihi hari Uhud ketika 3 cincin rantai besi menancap di pelipisnya, perangkap tajam mencocor lututnya, dikabarkan terbunuh hingga cerai berai pengikutnya, kehilangan Paman tercinta, dan 70 sahabat setianya jadi syuhada’?
Hidupnya yang penuh lika-liku dan luka tapi tanpa leka itu, terlalu panjang untuk memeriksa satu demi satu jawabannya. Tapi kita tahu; yang berat baginya bukan lemparan batu, bukan kala dia ruku’ lalu lehernya dijerat, bukan juga saat dia bersujud kemudian kepalanya diinjak dan punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan caci fitnah dan cela makian; bukan tuduhan gila, penyihir, atau dukun; bukan juga 3 tahun kefakiran dalam pemboikotan.
Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah; kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan penuh-penuh. Yang berat bagi kesayangan Ar Rahman itu adalah; ketika dalam gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya.
Terujilah jiwanya, terbuktilah cintanya, dan tertampaklah kemuliaannya. Dia menolak dengan harapan yang memuncak atas kebaikan yang masih kelak. Dia sebenarnya diizinkan, dihalalkan, dan diridhai untuk berkata “Ya”; lalu gemuruh runtuh gunung Akhsyabain yang menimpa musuh ‘menghibur’ hatinya.
Tapi keputusannya adalah “Tidak!” Dan harapannya adalah “Jikapun mereka ingkar, semoga keturunannya yang kelak akan beriman”. Keduanya telah jadi bukti bagi namanya, Muhammad, yang terpuji di langit dan bumi.
Ialah hujjah, bahwa dia ingin diutus sebagai pembawa kasih dan bukan penyebab ‘adzab; Allah bahkan menyatakan dirinyalah rahmat bagi semesta alam. Bahwa dia datang dengan kesediaan menanggung derita ummatnya, amat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta lembut dan welas-asih. Bahwa dia berada di atas akhlaq yang agung; baik dalam akhlaq pada Rabbnya, akhlaq pada dirinya, juga pada sahabat maupun musuhnya. Jernih sekali Nabi menyebut hari terberat; ketika Jibril datang menawarkan pembinasaan musuh. Itulah saat kemuliaan dakwah memenangi batin yang gemuruh.
Adakah nilai hidup seindah pribadi ini, yang terpuji di langit dan bumi?
***
Sementara itu, gunung yang ketiga berasal dari Yunani.
Di satu bagian dunia orang mati, begitu ditulis oleh Homerus dalam Illiad & Odissey, menjulang juga sebuah gunung yang tinggi. Di lerengnya yang terjal dan curam, berbatu dan penuh kerikil tajam, berliku dan kelam, mudah longsor dan seram; seorang lelaki berotot kuat, berkulit liat, bermandi keringat, dengan mata membeliak dan kaki terhentak-hentak menghela sebuah batu raksasa, mendorongnya ke puncak yang runcing menusuk langit.
Ini entah sudah kali ke berapa, dan tiap kali dia menyelesaikan kerjanya, batu itu menggelinding kembali ke bawah dengan mudah. Lalu dia harus memulai dari awal; menyungkah batu itu menyusur tebing menuju puncak, terluka dan pedih, lelah dan perih, getir dan sedih; untuk kemudian sang batu bergegas turun, memintanya mengulang kembali kutukannya yang abadi.
Lelaki itu; Sisyphus namanya.
Selama berabad-abad dalam peradaban Barat, nama dan kisah ini menjadi lambang perjalanan hidup manusia yang nir-hasil dan tanpa makna. Lelah menyiksa sekaligus tak berguna. Harapan yang setapak-tapak sampai puncak lalu sekejap sirna. Sia-sia sekaligus mengerikan.
Tapi Albert Camus dalam esainya yang terbit di Perancis pada tahun 1942, Le Mythe de Sisyphe, menuliskan renungan yang membuat kita berkerenyit. “Kita harus membayangkan”, ujar Camus, “Bahwa Sisyphus berbahagia.” Lahirlah dari tangan Camus kemudian ‘absurdisme’, aliran filsafat dengan inti fahaman berupa sia-sianya pencarian makna, kesatuan dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang tak terfahami, yang tanpa Tuhan dan kekekalan.
Kebahagiaan, bagi Camus, ada di dalam diri, berasal dari ketenangan, ketidakmelekatan, kebebasan dari segalanya, dan penerimaan akan yang absurd. Dunia dan penghidupan kita hari ini, kata Camus, sering lebih absurd dari apa yang dialami dan dikerjakan Sisyphus. Dan seperti juga Sisyphus, kita tak punya pilihan. Maka, pungkas Camus, jalani saja. Dan berbahagialah.
Tidakkah Camus terlalu memaksakan fahaman ini, mengajak kita untuk pura-pura berbahagia?
Camus mungkin terlewat untuk membaca sebuah anggitan lain tentang kisah Sisyphus. Dalam cerita ini, sang gunung merasa menjadi yang paling tersiksa. Maka iapun berkata, “Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang berjalan-jalan antara kaki dan puncakku. Betapa bahagia menjadi batu yang punya Sisyphus untuk membantunya naik agar menggelinding dengan ceria. Bagaimana dengan aku yang diinjak-injak nista oleh mereka berdua?”
Tetapi sang batu juga merasa menjadi yang paling merana. “Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang tubuhnya terlatih, kian kuat dan perkasa tiap kali mendorongku ke puncak sana. Betapa bahagia menjadi gunung yang berdiam anggun dalam rehatnya saat kami kepayahan mendakinya. Bagaimana dengan diriku yang dibawa ke atas hanya untuk terbanting kesakitan setiap waktu?”
Demikian pula Sisyphus merasa menjadi yang paling nestapa. “Betapa bahagia menjadi batu yang tiap saat harus kuhela, dan tiap jatuh harus kusangga. Betapa bahagia menjadi gunung yang besar dan perkasa, kakinya di bumi dan puncaknya di angkasa. Bagaimana dengan diriku yang tanpa jeda harus mendorong batu dan mendaki lerengnya?”
***
Bahagia. Inilah kata paling menyihir dalam hidup manusia.
Tak satu jiwapun kecuali merinduinya. Tak satu akalpun kecuali mengharapinya. Tak satu ragapun kecuali mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia seakan bayang-bayang yang  kian difikir makin melipir, kian dicari makin lari, kian diburu makin tak tentu, kian ditangkap makin melesat, kian dihadang makin hilang.
Dalam nanar mata yang tak menemukan bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Dalam denging telinga yang tak menangkap bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Dalam gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain terkilau lebih bercahaya. Maka penderitaan manusia berlipat berkuadrat saat ia membandingkan diri dengan sosok di sekitarnya. Seperti sang gunung, seperti sang batu, seperti Sisyphus.
Buku tak berharga ini disusun dengan kesadaran kecil, bahwa jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput untuk menikmatinya di sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa. Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema utama kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian.
Sebagai mukmin, kita lalu tahu, bahagia adalah kata yang tak cukup untuk mewakili segenap kebaikan. Di dunia, terlebih untuk akhirat. Oleh itulah, mari jeda sejenak dari membicarakan kebahagiaan.
Maka buku ini diberi tajuk ‘Lapis-lapis Keberkahan’.
Hidup kita seumpama bebuahan beraneka aroma, bentuk, warna, reraba, dan rasa, yang diiris-iris dan ditumpuk berlapis-lapis. Tiap irisan itu adalah karunia Allah, kemudianlah tumbuh dari benih yang kita tanam. Tiap irisan itu, punya wangi maupun anyirnya, teratur maupun acaknya, cerah maupun kelamnya, lembut maupun kasarnya, manis maupun pahitnya, masam maupun asinnya. Tapi kepastian dariNya dalam segala yang terindra itu adalah; semua mengandung gizi yang bermanfaat bagi ruh, akal, dan jasad kita.
Itulah berkah. Itulah lapis-lapis keberkahan.
Ia bukan nikmat atau musibahnya; melainkan syukur dan sabarnya. Ia bukan kaya atau miskinnya; melainkan shadaqah dan doanya. Ia bukan sakit atau sehatnya; melainkan dzikir dan tafakkurnya. Ia bukan sedikit atau banyaknya; melainkan ridha dan qana’ahnya. Ia bukan tinggi atau rendahnya; melainkan tazkiyah dan tawadhu’nya. Ia bukan kuat atau lemahnya; melainkan adab dan akhlaqnya. Ia bukan sempit atau lapangnya; melainkan zuhud dan wara’nya. Ia bukan sukar atau mudahnya; melainkan ‘amal dan jihadnya. Ia bukan berat atau ringannya; melainkan ikhlas dan tawakkalnya.
***
Di sudut kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah ibn Rabi’ah, sosok tegap itu terduduk dan tunduk. Rambut indahnya yang sepapak daun telinga diliputi debu yang lengket oleh peluh. Keringat dan air mata yang menyatu di ujung hidung nan mancung seakan membias terik jadi pelangi. Urat biru di antara kedua alis tebalnya yang bertaut kini marun merona. Lengannya yang kokoh terangkat, bersama mata indahnya yang bening dan bagai bercelak menghadap ke langit. Doanya sangat permata.
“Allahumma inni asyku ilaika dha’fa quwwati.. Wa qillata hiilati..”, lirihnya, “Ya Allah, hanya kepadaMu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku..”
Hanya pembukanya saja telah menakjubkan bagi kita. Dia mengadu hanya kepada Allah; itu tauhidnya, yakinnya, ridhanya, dan tawakkalnya, ikhlasnya. Dan yang dia adukan bukan penderitaannya ataupun kejahatan kaumnya, melainkan kelemahan diri dan kurangnya upaya. Inilah adabnya, akhlaqnya, cintanya.
Maka Adas si orang Ninawa yang mendatanginya untuk menyerahkan anggur semata, kembali dengan terlebih dahulu mencium ubun-ubun, tangan, dan kakinya. Sebab hanya dengan berbincang serta menatap senyumnya yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari salju, Adas merasa telah bertemu seorang manusia yang cintanya diambil dari Khaliqnya di langit tinggi, lalu tumpah ruah membanjiri makhluq di bumi.
Inilah kisah yang terjadi sebelum Jibril membawa Malaikat Akhsyabain menemuinya di Qarn Ats Tsa’alib atau Qarn Al Manazil.
Maka di lapis-lapis keberkahan, kita akan belajar dari Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; sosok yang paling berkah. Belajar tentang hidup yang paling benar, paling berisi, paling bermakna, paling baik, paling indah, dan paling bermanfaat. Mungkin bukan hidup yang paling bahagia, melainkan hidup yang paling berkah. Berkah dengan segala aroma, bentuk, warna, reraba, dan rasa.
Di lapis-lapis keberkahan, kita tinggalkan Sisyphus yang dongeng dan nestapa, menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Di lapis-lapis keberkahan, kita tinggalkan Sisyphus yang sia-sia dan menderita, menuju Muhammad yang mengilhami dan penuh guna. Di lapis-lapis keberkahan, kita biarkan Camus yang enggan memberi makna dan memaksakan rasa, menuju Muhammad yang penuh kerja bercahaya.
Selamat datang di lapis-lapis keberkahan. Selamat datang di hidup yang mengambil teladan dari seorang lelaki, yang namanya terpuji di langit dan bumi. Selamat datang di lapis-lapis keberkahan. Biarlah bahagia menjadi makmum bagi islam, iman, dan ihsan kita; membuntutinya hingga ke surga.

Senyuman Langit


oleh Salim A. Fillah

Inilah kota berjuluk sepotong Syam yang jatuh di Hijjaz; ialah Thaif, di tahun kesebelas kenabian.
Sungguh penduduk kota ini sama sekali tak sesejuk cuaca negerinya, bahkan mereka lebih garang dari angin gurun Tihamah. Inilah Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang telah ditolak oleh tiga bersaudara putra ‘Amr Ats Tsaqafi, pemimpin Thaif, tetap berupaya menyampaikan risalahnya.
Maka orang-orang yang takut kedatangan Muhammad merusak niaga mereka dengan Makkah ini makin murka atas seruan Sang Rasul. Mereka berkerumun, mencerca dan meneriakinya. Dari dua barisan mereka mengejar dan melemparinya dengan batu. Tubuh Nabi itu lebam. Kakinya luka.  Darah meleleh membasahi terompahnya. Zaid ibn Haritsah yang membentengi dengan tubuhnya, entah berapa rajaman yang tertoreh di kepala dan badannya.
Sang Nabi dihinakan dan diusir. Dia terus dikejar dan disakiti hingga tiga mil kemudian sampai di kebun anggur milik putra-putra Rabi’ah. Di sinilah mereka lalu meninggalkannya dan kembali ke Thaif. Adapun Rasulullah, tertatih beliau menghampiri sebatang pohon anggur, lalu duduk beristirahat meredakan rasa sakit yang zhahir maupun batin. Dengan senyum yang tertengadah ke langit namun airmata melelehi pipinya yang mulia, segala aduan hanya tertuju pada Penciptanya.
Utbah dan Syaibah ibn Rabi’ah yang sedang ada di kebunnya merasa iba melihat keadaan cucu ‘Abdul Muthalib itu. “Hai Addas”, panggil salah satu di antara keduanya kepada seorang pembantu, “Ambillah setandan anggur dan serahkan pada lelaki di sana itu.”
Addas beranjak menemui Sang Nabi. Diulurkannya anggur itu dan beliau menerimanya dengan tersenyum. “Siapakah namamu wahai saudara yang mulia?”, tanya Rasulullah. “Namaku Addas. Aku hanyalah pembantu Tuan Utbah dan Tuan Syaibah.” Addas memperhatikan, ketika memetik sebulir anggur dari tangkai, lelaki lusuh dan terluka namun berwajah seri itu menyebut nama Allah.
“Bismillaahirrahmaanirrahiim”, ucap Rasulullah sambil mengulurkan kembali anggurnya untuk menawari Addas. Addas menggeleng dan tersenyum.
“Kata-kata itu tak pernah diucapkan oleh orang-orang di negeri ini”, kata Addas.
“Dari manakah asalmu hai Addas, dan apa pula agamamu?”
“Aku seorang Nasrani. Aku penduduk negeri Ninaway.”
“Oh, dari negeri seorang shalih bernama Yunus ibn Matta?”, tanya Sang Rasul dengan penuh minat begitu Adas menyebut nama negeri asalnya. Mata Addas mengerjap, pupilnya melebar. Lelaki ini benar-benar membuatnya tertarik.
“Apa yang kau ketahui tentang Yunus ibn Matta?”, tanya Addas.
Sang Utusan tersenyum. “Dia saudaraku. Dia seorang Nabi, dan akupun seorang Nabi.”
Mendengar itu, Addas langsung merengkuh kepala Rasulullah. Dikecupnya dahi beliau dengan penuh cinta, diciumnya tangan beliau dengan penuh hormat, dan dikecupnya kaki beliau dengan penuh khidmat. Melihat kejadian itu Utbah dan Syaibah saling berbisik. “Demi Allah”, kata Utbah, “Muhammad telah merusak pembantu kita itu!”
Yang tertarik itu menarik. Maka Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pribadi yang paling menawan di langit dan bumi, sebab cinta dan perhatiannya pada setiap insan yang dihadapi. Inilah kaidah penting pergaulan yang harus dihayati para da’i. Alih-alih menghabiskan waktu membuat orang-orang menyadari pesona kita, jauh lebih bermanfaat bagi seorang pejuang untuk tertarik pada mereka yang diserunya menuju kebenaran. Ialah ketertarikan pada diri lawan bicara, dan segala hal yang terkait mesra dengan mereka. Addas, Ninaway, dan Yunus ibn Matta umpamanya.
Sesungguhnya ketampanan, kepandaian, dan ketaatan pada Allah memang pesona yang menawan mata maupun rasa. Tetapi alangkah memuakkan sesosok insan yang gemar mengunjuk-unjukkan betapa rupawan, betapa cerdas, dan betapa shalih dirinya. Yang dinanti para manusia dari setiap keunggulan jasmani maupun akal, juga  kemesraan kita dengan Allah; hanyalah akhlaq mulia. Bukan yang lain.
Maka seperti Rasulullah, biarkan tangis kita tumpah-ruah hanya pada Allah; dan izinkan sesama merasakan manisnya senyuman langit yang merasuk ke hati mereka, sebab ia berhulu dari ketulusan dalam dada.

Monday, May 5, 2014

Sang Bumi Rua Jurai

Disana berawal sebuah ukhuwah indah
Bertaut dua insan anak manusia
Indahnya kebersamaan

Disana dibumi sang rua jurai
Terpaut ribuan kilometer
Namun terasa begitu membekas
Dalam indahnya sebuah ukhuwah

Di Bumi sang rua jurai
Terpaut dua hati anak manusia
Berawal dari sebuah pertemanan
Disana ku mengenal

Seorang kakak yang baik sekali
Bernama Merli Octa
Teman baik bernama Hastian, Hestian
Disana juga ku mengenal seorang Umi Hoiriana

Kaulah seorang Putri dihati
Hadirmu menerangi hatiku
Hadirmu menyemangatiku
Sosokmu menentramkan diri

Disana dibumi Rua Jurai………
Dibumi penuh kenangan……….
Dibumi penuh kisah indah…………


Ltg, 14 Aprl ‘14

Puisi: Aku dan Kisahku

Tentang Kita

Ini bukan tentang aku
Ini bukan tentang kamu
Ini bukan tentang dia
Ini bukan tentang mereka
Ini tentang kita menuju surge

Aku, Kau dan KUA
Penghulu, saksi dan ayahmu
Melihatku mengucapkan ikrar
Menjemputmu menuju surge

Membangun istana didunia
Membangun surge kita berdua
Merajut asa membangun cita
Bukan aku dan kamu saja
Tapi ini tentang kita

Ltg, 22 Nov ‘13



Mengukir cinta
Merawat luka
Itulah warna-warni rasa
Indah meski sakit itu tetap ada

Bukan rasa yang salah
Tapi cara yang bermasalah
Bukan cinta yang berdosa
Tapi ia tak pernah bicara tentang dimana salah kita

Tuntun ia agar tak salah
Bawa ia dengan cara Allah
Agar indahnya cinta dapat berkah
Indah pada waktunya

Latong, 22 Nov ‘13



Belajar Menghargai

Ikhlaskan hati meski kita belum rela
Belajar bersyukur walau semua masih kurang
Belajar taat  meski ia agak  berat
Belajarlah memahami meski kita tak sehati

Belajar setia meski godaan banyak menghampiri
Belajar memberi meski tak banyak memiiki
Kasihi meski kita sering tersakiti
Belajar mempercayai meski kita susah
Percayalah Tuhan tahu isi hati kita




Budimu Ibu dan Jasamu Ayah

Kasihmu sepanjang masa
Baktimu tak terhingga
Karyamu untuk ananda
Cintamu tiada tara
Kau ibuku

Kasihmu dengan kerja
Baktimu dengan usaha
Karyamu untuk ananda
Karena kami anak-anakmu

Kerjamu untuk hidupku
Usahamu untuk untuk pendidikanku
Masa mudamu untuk kerja
Agar aku dapat hidup sejahtera
Kau Ayahku

Kasihku padamu tak sepanjang cintamu padaku
Baktiku padamu takkan menggantikan
Namun inilah aku anakmu

Latong, 20 Ags ‘13



Rasa yang Ter’bingkai’

Tak perlu kau tahu sakitnya hatiku
Tak ada yang tahu tentang semua kisahmu
rasa ini masih ada meski semua tlah berakhir
Masih terukir dihatiku
Mulailah hidupmu yang baru

Bingkai ia dengan indah ditaman hatimu
Bersamanya berbahagialah
Tak perlu ada lagi mimpi
Tak perlu ada lagi penantian
Itu hanya pandangan semu yang menipu

Selamat tinggal
Semua kenangan tentangmu
Walau hatiku tersakiti

Latong, 9 Juli ‘13



Ada cinta yang terukir
Dalam sekalung luka yang kurasa
Manusia hanya berencana
Tuhan jua yang punya kuasa

Biarkanlah kuberlari
Takkan letih diri ini mencari
Izinkan tubuh ini berlalu
Sembuhkan luka dijemput rinduMu

Dalam mihrab cinta kusandarkan jiwa ini kepadaMu
Kuyakini takdirMu kan sembuhkan
Lara hatiku ikhlasku dengan semua

Dalam mihrab cinta kuserahkan semua padaMu
Kuyakin takdirMu kan terbaik untukku hambaMu
Ikhlasku dengan segalanya

Latong, 6 Juli ‘13



Tuhan utuslah orang yang layak untuknya
Pilihlah yang terbaik untuknya
Tunjukkan yang terindah untuknya
Bahagiakan ia dengan pilihannya

Praha ini akan menjadi sejarah
Kisah ini akan jadi kenangan
Semoga Tuhan hidupkan dirimu dalam kenanganku

Terimakasih untuk kenangan ini
Terimakasih untuk kisah ini
Terimakasih untuk semuanya
Selamat tinggal!!!

Latong, 3 Juni ‘13










Sunday, March 9, 2014

Yakinlah, dan Pejamkan Mata

oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi. 14/12/2011

iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban
Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.
Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.
Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.
Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”
Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.
Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.
Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.
Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.
Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.
Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.
Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.
Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.
Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.
Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.
Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang..
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah

Komentar anda