Monday, June 17, 2013

Selalu Fokus Pada Nilai Tambah

Jadilah yang Terbaik, Dengan Membuat Nilai Tambah dan Faktor Kali. Dalam hidup ini tidak semua yang Anda inginkan dapat berhasil seluruhnya, namun itu akan lebih bagus daripada Anda mengerjakan yang sudah pasti tapi tidak berhasil.

Contohnya:
Anda berusaha untuk bekerja dari jam 3 pagi, pulang jam 2 pagi dan hanya tidur kurang dari 1 jam. Tapi jika Anda hanya bekerja menjadi kuli bangunan, sungguh sangat kecil kemungkinannya untuk dapat merubah Anda menjadi besar (Orang Sukses). Oleh karena itu Anda harus berubah! Karena dengan Anda berubah kemungkinan untuk menjadi Orang yang Lebih Besar akan jauh lebih terbuka.

Catatan: Kebanyakan Orang rata-rata bekerja dibidang yang pertama kali Orang tersebut mendapat income. Jika Anda termasuk tipe orang yang seperti ini, Anda harus berhati-hati.

Anda harus berhati-hati dengan apa yang Anda pelajari! dan Anda juga harus berhati-hati dengan income- income Anda yang pertama.
Jika ada seseorang yang belajar Fotografi, dan pendapatan pertamanya yang orang tersebut didapatkan berawal dari memfoto (Misalnya adalah memfoto temannya yang sedang Wisuda). Tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan menjadi juru Foto seumur hidup. Lalu apakah boleh? Orang tersebut boleh saja menjadi juru Foto seumur hidup, tapi dengan syarat adalah menjadi yang terbaik. (Ingat Nilai Tambah dan Faktor Kali). Orang tersebut harus menggunakan Faktor Kali untuk membuat orang tersebut menjadi besar, misalnya dengan menjual Franchise (Kalau Perlu Sebanyak Mungkin).

Anda boleh saja menjadi Fotografer, tapi yang sudah dijelaskan sebelumnya! Harus menjadi yang terbaik! Dan jangan belajar bagaimana cara menjadi yang terbaik saja, tapi belajar bagaimana cara berbisnisnya. Begitu juga jika Anda berprofesi sebagai guru, Anda jangan hanya belajar bagaimana cara mengajarnya. Tapi Anda juga harus belajar bagaimana cara bisnisnya. Karena jika Anda belajar bagaimana cara bisnisnya, Anda akan mendapatkan hal yang lebih dibandingkan jika Anda hanya belajar cara mengajarnya.


Mencintai Tanpa Syarat

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ‘alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah Ta’ala dalam segala keadaan. Kepada-Nya kita kita memuji dengan pujian yang sempurna. Tiada tuhanselain Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya Dia yang layak untuk dipuji dan disembah dengan sepenuh penghambaan. Kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan dan menyandarkan harapan.

Shalawat dan salam semoga tak habis-habis kita lantunkan untuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu‘alaihi wa ‘alaa `alihi wa shahbihi wa sallam. Tiada kecintaan kepada Allah‘Azza wa Jalla kecuali dengan mentaati utusan-Nya, Muhammad Al-Amin yang menjadi penutup para nabi. Inilah risalah terakhir yang harus kita pegangi.Tidak ada yang lebih berharga untuk kita wariskan kepada anak-anak kita melebihi segenggam iman yang kita harapkan dengan sepenuh kesungguhan agar tumbuh berakar menguat dalam jiwa mereka.

Akan tetapi….

Tak seperti harta yang dengan sendirinya diwarisi, harus ada perjuangan agar iman itu tumbuh, berkembang, mengakar dan menguat dalam jiwa anak-anak kita sehingga mereka bersedia meneteskan keringat untuk menyemainya. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka tak berpaling. Dan ini bukan soal kecerdasan. Betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan luas, fasih berbicara bahasa Arab, tapi iman itu tak bersemayam dalam dirinya. Betapa banyak orang yang mengetahui dan bahkan memahami nash dengan sangat matang,tapi ia justru menjadi penentangnya yang paling lantang. Betapa banyak orang yang memiliki banyak hafalan, tapi sikap beragamanya justru plin-plan. Na’udzubillahi min dzaalik. Inilah pertanyaan besar yang perlu kita renungi senantiasa agar segenggam iman dalam jiwa anak kita tak terlepas dan berganti dengan keingkaran.

Telah berlalu dari zaman kita ini orang-orang yang cemerlang pengetahuannya, disegani kepakarannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan dihormati kepemimpinannya. Dan mereka justru meraih itu semua bermula dari keimanannya yang sangat kuat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Iman itu menggerakkan mereka untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya, termasuk belajar mendalami berbagi cabang pengetahuan. Mereka menjadi pribadi yang kuat karena mereka tidak menyandarkan harapan kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata. Tak sibuk meratapi masa lalu karena khawatir menjadi pintu masuknya setan untuk melemahkan jiwa dan imannya.

Ada yang perlu kita renungkan di sini. Jika iman benar-benar tumbuh, maka kesungguhan dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya adalah buah yang manis untuk dipetik. Ini sekaligus menandakan bahwa jika kesungguhan itu tidak hadir, ada yang perlu diperiksa atas iman mereka. Adakah mereka telah benar-benar beriman ataukah hanya memiliki banyak pengetahuan tentang iman. Sangat berbeda mengimani dengan memiliki pengetahuan tentang iman. Seorang yang beriman sudah sepatutnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengilmui apa yang ia imani. Tetapi sekedar memiliki banyak pengetahuan tentang iman tak serta merta menjadikan diri beriman.

Nah, inilah yang perlu kita renungkan seraya mengingat bahwa sepeninggal kita nanti, di luar shadaqah jariyah dan ilmu yang manfaat, tak adalagi yang dapat kita harapkan manfaatnya selain anak-anak shalih yang mendo’akan. Artinya, pertama-pertama mereka harus menjadi pribadi yang shalih dulu, lalu bersebab keshalihannya mereka mendo’akan kita. Bisa saja anak mendo’akan kita setiap hari meskipun mereka tidak shalih. Tetapi apa manfaat yang dapat kita harap jika mereka mengerjakan apa-apa yang menjadi penghalang terkabulnya do’a? Maka, atas do’a anak-anak kita, yang pertama kali kita perlu risaukan adalah iman mereka; keshalihan mereka.

Jika anak-anak menjadi pribadi yang shalih bersebab upaya kita, apakah dengan mengajarkan agama ini secara langsung kepada mereka ataukah mengantarkan mereka meraih keshalihan melalui didikan guru-guru terbaik, maka atas setiap kebaikan yang mereka perbuat ada pahala yang mengalir untuk kita. Jadi, keshalihan itu pun telah berlimpah manfaatnya meskipun mereka belum mendo’akan kita. Apatah lagi jika mereka tak putus-putus berdo’a memohon kasih-sayang Allah ‘Azza wa Jalla bagi kita.

Tetapi apakah yang menjadikan mereka senantiasa berkeinginan untuk mendo’akan kita? Apakah yang membuat mereka senantiasa mengingat kita? Kedekatan emosi. Jika anak-anak itu tak pernah memiliki rasa rindu kepada kita, bagaimana kita berharap mereka akan senantiasa menyebut-nyebut nama kita dalam do’a mereka sesudah kita tiada? Saat hidup saja tak dirindukan. Apalagi jika nyawa telah tercabut dari badan. Masalahnya, sudahkah kita menyemai rasa rindu di hati anak-anak kita? Sudahkah kita memanfaatkan saat-saat berharga untuk anak kita dengan membersamai mereka dan hadir dalam kehidupan mereka secara bermakna? Inilah yang agaknya perlu kita periksa lebih dalam: saat berharga untuk anak kita. Apa maknanya bagi anak?

Apakah ini berarti kita tak perlu bersibuk mengembangkan potensi mereka? Sangat perlu. Hanya saja kita perlu mengingat bahwa itu semua seharusnya untuk menjadikan anak-anak kita semakin ringan hatinya menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla. Kita perlu mencerdaskan anak dan melejitkan potensi mereka.

Apakah ini berarti kita tak perlu bersibuk melejitkan kecerdasan mereka? Sangat perlu. Tapi cerdas saja tidak cukup. Demikian pula cara untuk mengantarkan anak-anak meraih kecemerlangan tersebut amat perlu kita perhatikan. Jangan sampai ambisi kita menjadikan anak “tampak istimewa” justru menjadi sebab rapuhnya jiwa dan lemahnya iman bersebab kita mengejar yang instant, melupakan yang fundamental.

Lalainya kita dari memperhatikan hal-hal yang fundamental justru dapat menjatuhkan kita pada kesalahan yang berkepanjangan, penyesalan tak berkesudahan atau kesia-siaan yang besar, padahal kita telah berpayah-payah melakukannya. Atau justru karena tak mau berpayah-payah, kita mengabaikan yang berharga sekaligus amat bermanfaat untuk anak. Inginnya anak jenius, tetapi cara instant yang kita tempuh ternyata tak memberi manfaat apa-apa. Musik Mozart salah satu contohnya. Banyak orang mempercayai mitos bahwa memperdengarkan musik Mozart kepada bayi akan menjadikannya jenius. Padahal tak ada riset yang mendukung. Yang ada justru membantah anggapan itu. Sudah ratusan ribu keeping CD Mozart terjual, sembari melupakan bahwa pada waktu kecil Mozart tak pernah mendengar musik Mozart, tetapi sampai hari ini tidak ada satu pun jenius yang terlahir darinya.

Sama halnya dengan bakat. Banyak yang berlebihan menilai bakat seolah ia menjadi penentu keberhasilan, seakan bakat dengan sendirinya menjadikan seseorang unggul. Orangtua sibuk mencari tahu bakat anak, tapi lupa melapangkan hati untuk mencintai tanpa syarat, meluangkan waktu untuknya dan menempanya agar memiliki kesungguhan serta tujuan hidup yang jelas. Kita lupa bagaimana para orangtua yang tak mengenal bakat dapat mengantarkan anak meraih kecemerlangan, bersebab penerimaan mereka apa adanya dan kesungguhannya mendidik anak. Di luar itu ada satu pertanyaan serius, bagaimana bakat itu melekat pada diri seseorang? Muncul dengan sendirinya?

Ada paradoks. Kita semakin banyak belajar tentang cara kerja otak, tapi di saat yang sama justru semakin enggan berpikir. Kita enggan menelaah, sehingga tak tahu mana yang ilmiah mana yang pseudo-ilmiah. Seakan ilmiah, padahal bukan.

Catatan ringan di buku ini ingin mengajak Anda semua untuk senantiasa menakar kembali langkah kita mengasuh anak, adakah ia menguatkan segenggam iman anak kita ataukah justru sebaliknya; iman tak semakin kokoh, sementara kecemerlangan yang kita harap pun tak teraih.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon hidayah dan inayah-Nya. Kepada Allah Ta’ala kita memohon keselamatan bagi diri kita, keluarga kita dan keturunan kita seluruhnya. Kepada Allah Ta’ala kita memohon kebaikan dan kebahagiaan bagi kita, keluarga dan keturunan kita seluruhnya. Selebihnya, ingatkanlah saya dan berikanlah nasehat yang tulus. Apa yang benar pasti dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dan apa yang salah sepenuhnya merupakan kejahilan dan kelalaian saya.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Di Tengah Terik Matahari Kota Blitar, 22 Mei 2013
Wassalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh,
Mohammad Fauzil Adhim

Sunday, June 16, 2013

Ternyata Dirimu Mutiara Itu By: Nandang Burhanudin

Sinar itu kini tak lagi temaram
Seiring rotasi bumi yang tak pernah diam
Seperti kepompong yang tak lama mendekam
Ibarat bongkahan sinar surya yang tak pernah padam

Perjalanan kita terus bermetamorfosa
Di awal tak ada cinta apalagi sekuntum bunga
Tak ada ceria apalagi bongkahan mutiara
Harta kita....hanya anak tiga

Deburan ombak menghantam keras
Dari tragedi ke tragedi berganti deras
Raungan, murka, amarah, hingga airmata terkuras
Tersungkur, terkapar, terkulai, seakan terhempas

Teringat saat awal bersanding
Tak ada pesta apalagi pawai keliling
Orang menyebutku tak eling
Karena menikahimu yang tak cantik bahkan keling

Terngiang saat anak ketiga lahir
Diinkubasi dan tertahan karena uang belum cair
Pontang-panting cari hutangan hingga kaki terkilir
Perusahaan teramat nyinyir bahkan bersikap sumir

Ternyata saat kita kukuh dalam sabar
Saat tabah dalam semangat berkobar
Saat padu dalam dekapan keluarga yang tegar
Allah membuka rahasia rezeki hingga tanah belukar

Tahukah apa yang membuat diriku klik?
Dialah kisah Anas bin Malik
Ia terperanjat karena istrinya tak cantik
Ternyata dar i rahimnya lahir Imam Malik

MAAF baru kali ini kutulis sebait puisi
Walau lama dirimu merajuk menginisiasi
Sejak obrolan di cafe tadi pagi
Aku rasa kata-katamu lahir dari keikhlasan hati

Biarkan sejarah mencatat
Bahwa kita adalah jiwa yang berpadu dalam taat
Berharap ridha dan takut akan laknat
Berbagi itu hebat jika sesuai syariat

Aku takkan teriak
Sebab aku bukan lagi air beriak
Biarkan khazanah ini beranak pinak
Berasa spesial seperti martabak

Sunday, June 9, 2013

Kumpulan Kultwit Ustat Salim A. Fillah Tentang Makna Shalat

1.       Shalat adalah seutas tali rindu; senarai tangga cinta; hubungan langsung antara manusia yang fana dengan kekuatan yang abadi.
2.       Shalat adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber alirannya yang tak pernah kering.
3.       Shalat adalah pembebasan dari batas realita bumi yang kecil menuju sunyata jagat raya; dari pandangan yang kerdil ke ufuk semesta.
4.       Shalat adalah angin bersepoi, embun menitik, dan awan berarak di siang nan terik; sentuhan lembut pada hati yang letih dan payah..
5.       Shalat adalah kekuatan jiwa penyangga raga; berdirimu malam-malam, sujudmu yang dalam; mengokohkan hatimu melebihi gunung membiru..
6.       Shalat adalah rasa malu yang kau hadirkan di sepanjang antaranya; tegaknya ia mencegah engkau dari segala yang keji dan nista..
7.       Shalat adalah rehatmu dari menabur kebajikan yang menguras raga & jiwa; lalu kaki & pundak bertaut dalam jama'ah menyatukan cinta..
8.       Shalat adalah tangan langit yang kaugapai tuk hadapi tiap kerumitan dunia; terfirman "Jadikan sabar & shalat sebagai penolongmu."
9.       Shalat adalah pertolongan terbaik dalam payah & susah; ia lambungkan jiwa ke ufuk tinggi; ia hijrahkan ruh ke ruang cahaya & kemenangan.
10.   Di bawah aliran kesegaran wudhu, kita hajatkan kesejukan dalam kesucian. Kita jujur pada diri tentang sah & batal ibadah.
11.   Kita basuh wajah itu, segarkan ia yang seharian berkerut-merut merenda rasa, kucurkan dosa dari mata yang terbeban segala noda..
12.   Kita guyur tangan itu; seharian tak hanya hal mulia yang digenggamnya; hai kulit terwarna dosa, kuku berjelaga hina, lunturlah.. #Shalat
13.   Kita basahi kepala yang akalnya suntuk & membusuk; lelah dia menyiasat, buntu dia dikejar tenggat, luka dia digerus licik.. #Shalat
14.   Mulut & telinga telah compang-camping diragas dusta, ditusuk khianat, dihantam celaan, dihujani adu domba; sembuhkan keduanya.. #Shalat
15.   Kaki itu, yang menyusur bumi mengejar dunia; terseok, tertatih, terjerembab; biar ia diguyur suci tuk berdiri menghadap Ilahi. #Shalat
16.   16. Dalam raka'at-raka'at, kita berhasrat mendekat. Saat bertakbir; sambut keagungan Allah tumpah menundukkan kesombongan kita. #Shalat
17.   Menyebut asmaNya, bergetar dada; ada gigil takut, gerisik harap, & getar cinta; berpaling kita dari selainNya, hanya wajahNya. #Shalat
18.   Saat bertahmid, kita puji Dia; atas nikmat, atas kesempurnaan ciptaan, atas rizki yang mencukupi, atas hidup yang ternikmati.. #Shalat
19.   Mencoba jujur hati, menjaga suci jiwa; Dia Maha Pengasih, kasihNya tiada pilih; Maha Penyayang, sayangNya tak berbilang.. #Shalat
20.   Saat kita sebut Dia Penguasa Hari Pembalasan; menitik airmata mengenang nafas-nafas dosa, mengingat detik yang terisi sia-sia. #Shalat
21.   Amal terrekam sejak baligh sampai mati. Lalu di sisiNya tertayang lagi; membuat malu hati sampai tenggelam di keringat sendiri. #Shalat
22.   Hanya kepadaNya sembah & permohonan. Kita sering lalai, menggantungkan diri pada makhluq tiada daya, terbenam dalam kecewa.. #Shalat
23.   PadaNya kita mengabdi; padaNya pula kita mohon dikuatkan tuk berihsan dalam mempersembahkan shalat, ibadah, hidup, & mati. #Shalat
24.   Semoga kita ditunjukiNya jalan lurus; jalan yang benar, baik, indah, tepat, bermanfaat, & berpahala dalam mengelola nikmatNya. #Shalat
25.   Jalan para hamba yang berlimpah karunia; anugrah dunia, taat yang jauh dari sesat & murka; ganjaran akhirat, surga & ridhaNya. #Shalat
26.   Ruku'lah kita. Maha Agunglah Dia. Sungguh Allah mendengarkan orang yang memujiNya & menjawab derap-derap permohonan menggelora.. #Shalat
27.   Sujudlah kita. Maha Tinggilah Dia. Dan kita rasa betapa dekat denganNya, betapa mesranya, betapa asyik berbincang dalam hening.. #Shalat
28.   Allah, sudilah Engkau mendengar kami mengadu, berkeluh, berkesah tentang sesak dunia. Inilah kami, memohon, berdoa, meminta.. #Shalat
29.   Begitulah gerak & bacaan kita menghiba-hiba, hingga mereguk makna Ihsan: "Kau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya.." #Shalat
30.   Tetapi jika kau tak mampu merasa seakan-akan melihatNya; yakinlah bahwa Dia menatapmu lekat, begitu dekat, setiap saat.." #Shalat


Dasar semua cinta adalah rasa hormat. Pencinta sejati tak hanya mengajakmu berbahagia; dia menjaga rasa hormat pada Syari'at.

Wednesday, June 5, 2013

Jangan Biarkan Cinta Membunuhmu! By: Nandang Burhanudin ***

Asalnya cinta itu bukan dari C.I.N.T.A. Bukan pula dari rayuan jala-jala rasaBukan pula cokelat 1000 aromaBukan pula setangkai bungaBukan pula sekilo emas permata
Cinta berawal dari rindu yang membuncahMata enggan berkerlip apalagi berpisah Saat malam menepi atau siang menjelang selalu gundahBatin menjerit menahan resah Jiwa merona berharap pasrah
Cinta dibuktikan dengan perhatian Bukan sekedar kata bersayap penuh jebakanCinta dibuktikan dengan pernikahan Bukan sekedar mengadu asmara saat pacaran Cinta demikian tak beda dengan jebakan setan 
Pria buruk rupa yang telah menjadi suami, mendatangkan surga Pria gagah rupawan tapi bukan suami, hanya mengantarkan pada neraka Wanita buruk rupa yang telah menjadi istri, mendatangkan pahala Wanita cantik jelita, tapi bukan istri ia hanya mendatangkan dosaTanpa pernikahan cinta hanyalah musibah yang tertunda 
Wahai jiwa-jiwa yang dirudung demam asmara Hati-hati yang merona menanti Srikandi dan Arjuna Mintalah cinta sejati pada Allah Ta'ala Cinta yang halal itu nyata 
Auranya selalu menghadirkan bahagia

Hidup Penuh Intrik

Jika ada petani yg transmigrasi. Dikasih lahan yg masih tandus, berduri, banyak binatang buas, akses jalan pun tak ada. 
Setelah sekian lama berjibaku, si petani sedikit demi sedikit merapihkan tanah, membuat akses, mengusir tikus dan binatang buas. Ia tanami jagung, palawija, padi, pohon jati, hingga nyamplung. Panen pun bertubi-tubi. Ada yg maksimal, ada yg gagal. Setelah sekian lama berjibaku dalam peluh, tiba2 datang pendatang lainnya yg meminta si petani untuk menyerahkan semua hasil panen, plus kepemilikan tanah, ditambah si pendatang meminta si petani menjadikannya sebagai kepala desa?
Pertanyaannya, 
1. apakah si petani ikhlas dan sukarela menyerahkan semua hasil jerih payahnya?
2. Apakah si petani akan patuh mengangkatnya sebagai kades?
3. Apakah sebutan yg pantas untuk si pendatang baru?

Ilusi telah mewabah. Hingga pada kajian Siroh Baginda Rosul. Seakan Baginda ngemis kekuasaan, minta2 pengaruh dan jabatan. 
Ilusi akut telah membuat orang meninggalkan medan juang. Celakanya, itu adalah sunnah Rosul. 
Ilusi stadium tinggi telah membuat lilnglung generasi muda. Saking lilnglungnya, dusta atas nama Rosul menjadi lumrah dilakukan.

Sunguh, Islam seperti ini menambah lama kebangkitan Islam dan kejayaan umatnya. Karena salah resep doktrin, belajar berjuang dari ilusionis yg tak tercatat dalam lembaran sejarah kecuali teori2 memabukkan.
Pertanyaannya, 1. apakah si petani ikhlas dan sukarela menyerahkan semua hasil jerih payahnya?2. Apakah si petani akan patuh mengangkatnya sebagai kades?3. Apakah sebutan yg pantas untuk si pendatang baru?
Ilusi telah mewabah. Hingga pada kajian Siroh Baginda Rosul. Seakan Baginda ngemis kekuasaan, minta2 pengaruh dan jabatan. Ilusi akut telah membuat orang meninggalkan medan juang. Celakanya, itu adalah sunnah Rosul. Ilusi stadium tinggi telah membuat lilnglung generasi muda. Saking lilnglungnya, dusta atas nama Rosul menjadi lumrah dilakukan.
Sunguh, Islam seperti ini menambah lama kebangkitan Islam dan kejayaan umatnya. Karena salah resep doktrin, belajar berjuang dari ilusionis yg tak tercatat dalam lembaran sejarah kecuali teori2 memabukkan.

By: Ust Nandang Burhanudin

Friday, May 17, 2013

Pengalaman Pertama membuka usaha Advertising


Pada waktu itu pertengahan 2007 saya ditunjuk menjadi sekretaris panitia MUBES Warga PBSID FKIP Unsyiah, saya juga disuruh membuatkan brosur untuk pulikasi. Bermodalkan dengan hanya ‘menguasai’ aplikasi office word saya buatlah sebuah poster sederhana menggunakan gambar yang ada di clip art.
Setelah jadi paginya saya tempelkan di tempok. Gak taunya ada kesalahan pengetikan yang sangat fatal yaitu tertulis “kudu gak datang” niat hati nyuruh dating yang tertulis malah larangan tapi karena udah tersebar seantero kampus ya dibiarkan saja. Tapi ada yang paling menggembirakan hasil saya diapresiasi oleh teman-teman terlepas ad kesalahan ketik.
Dimulai dari situ kemudian saya berlanjut menjadi desainer brosur dan spanduk di LDK Al Mudarris di sana saya membuat brosur masih menggunakan aplikasi word, hingga ada seorang adek letting yang ngenalin dengan aplikasi corel DRAW dan photoshop. Pada waktu itu saya Cuma diajarin bagaimana membuat bidang dan memadukan gradasi warna, proses belajarnya gak lebih 2,5 jam dari setelah zuhur sampe asar. Namun perlu diketahui inilah awal mulanya saya memulai desaingrafis secara professional.
Setalah setahun di’pake’ ato lebih tepatnya mewarnai LDK Al Mudarris dengan karya-karya saya ada tahun 2009 saya pindah ke LDK FOSMA. Di sana kreativitas saya kembali di asah dengan membuat sertifikat, brosur, spanduk event yang dibuat oleh LDK FOSMA. Awal mula karya saya untuk FOSMA adalah sertifikat Festival Nasyid se-Aceh yang dibuat dipelataran Gelanggang Mahasiswa. Bermula dari sana saya terus berkreasi sembari belajar hingga pada tahun 2009 saya kedatangan seorang adinda dengan kreativitas yang cetar membahana yaitu Wendi.
Pada tahun 2008 saya mencoba memantapkan diri dengan membuat nama usaha saya ini dengan nama Seulanga Desain, namun pada Tahun 2010 saya melihat ada sebuah peluang usaha baru yang layak dicoba yakni konveksi pembuatan jaket. Lagi-lagi saya memulai usaha dengan modal ompong alias tanpa modal, tanpa ilmu tentang usaha ini sama sekali.
Hanya bermodalkan seorang relasi yang dikenali oleh istri di Lampung saya memberanikan diri konsumen awal saya adalah LDF Al Mudarris sendiri, rumah saya dulu. Setelah gambar saya desain saya mematok harga dibawah harga pasar konveksi yang ada di Banda Aceh saat itu, asli beneran harga pokok Rp. 82.000 saya pasang harga Cuma 95.000 dengan asumsi ongkos kirim dari Lampung – Aceh Rp. 5.000/kg berarti saya bisa untuk Rp. 8.000, tapi gak taunya ongkos kirim dari Lampung-Aceh Rp. 7.000/kg untungnya saya masih bisa menikmati hasilnya bersama istri.
Hingga sekarang usaha saya telah merambah berbagai usaha, lagi-lagi hanya dengan modal nekat, gak pake uang, gak pake ilmu murni modal ompong. Alhamdulillah usaha saya selain di Banda Aceh, Meulaboh, Jeuram, Bieuren, bahkan telah sampai ke Medan, Dumai, Jogja, Sintang semua ini berkat niat dan semangat untuk mencoba dan terus mencoba…. bersambung
        

Komentar anda