Monday, May 28, 2012

Bidadari untuk Ikhwan Part #7


“Oh, nggak Hen! Aku cuma lagi mengingat-ingat aja kok!” jelasku
“Apa yang sedang kamu ingat-ingat, Lid?”
Aku hanya tersenyum sambil mengatakan “Ada deh!”
Seketika itu, aku jadi teringat hari ini aku ada kajian. “Hen, sorry! Aku ada perlu
sekarang. Aku ada janji dengan Ustadku. Besok kita lanjutkan lagi ngobrol kita” ucapku
terburu-buru
Hendri tersenyum sambil mengatakan “Ok, Lid! Ya, besok kita lanjutkan.”
Sebelum berangkat ke rumah Ustad Fadlan, aku harus mengambil beberapa buku catatan
dikontrakanku.
***
Perjalanan menuju rumah ustad Fadlan memang agak jauh. Sekitar 4 kilometer
dari tempat kontrakanku. Karena aku nggak punya kendaraan, jadi aku harus berjalan
kaki menuju rumah ustad Fadlan. Meskipun capek, tapi aku yakin bahwa ada perhitungan
tersendiri dari Allah swt, untukku. Tapi sebenarnya, untuk berjalan 4 kilometer masih
belum ada apa-apanya dibanding dengan rumahku yang ada didesa. Saat aku kecil. Aku
dan teman-temanku bahkan sering melihat pasar reboan di alun-alun kota, yang berjarak
10 kilometer dari desaku. Jadi perjalananku kerumah ustad Fadlan masih aku anggap
belum ada apa-apanya. Pernah suatu kali ustad Fadlan menawari aku sepeda mininya
untuk aku bawa. Mungkin sebelum aku diberitahu oleh teman-temanku tentang
kehidupan keluarga ustad Fadlan. Pasti aku akan menerimanya. Tetapi sejak aku
diberitahu dan melihat sendiri kehidupan keluarga ustad Fadlan. Aku jadi semakin
bertambah keimananku.
Sebelum mempunyai rumah yang layak dihuni. Ustad Fadlan adalah seorang
penjual buku-buku Islami. Dan istrinya, Ustadzah Heni. Adalah seorang guru madrasah.
Mereka berdua sangat tawadhu’ dalam menjalani kehidupan. Hingga bahkan sampai saat
ini. Saat mereka berdua sudah mempunyai tempat tinggal yang layak huni, juga beberapa
kekayaan yang diamanahkan kepada beliau berdua. Mereka tetap tawadhu’ dalam
kehidupan. Beliau terlihat tidak pernah lalai dalam mengelola kekayaan hartanya. Bahkan
sepeda mini yang akan diberikan kepadaku adalah sepeda yang setiap harinya dipakai
oleh Ustadzah Heni untuk mengajar di madrasah. Aku benar-benar tidak tega jika harus
menerima pemberian ustad Fadlan. Biarlah kakiku berjalan saat ini, tapi aku akan
berlarian disurga nanti. Berlarian dengan menggunakan kendaraan yang ada disurga
nanti. Semoga, saja.
Siang ini matahari begitu terik. Deru laju motor dan mobil lalu-lalang
disampingku. Debu-debu berhamburan, menerpaku. Membuat langkah kakiku terasa
berat, tetapi aku yakin bahwa ini tidak seberat saat sahabat-sahabat Rasulullah diuji oleh
Allah dengan siksaan kaum Quraisy. Seberat seorang yang menginginkan kesyahidan.
Apalagi tidak seberat batu panas yang ditindihkan kaum Quraisy ditubuh Bilal.
Subhanallah. Langkah kakiku terus melaju menuju deru ilmu yang menunggu. Melaju
pada setiap langkah yang berpahala. Tetap dengan terik yang menyengat kulit.
Saat kaki melangkah, saat tubuh lelah dan saat-saat mentari bersinar terik. Mata
ini memandang pada tubuh kecil. Tubuh hitam legam dengan pakaian yang dekil.
Berusaha untuk meraih harapan dengan berjalan meminta-minta pada setiap mobil dan
motor yang berhenti. Tidak biasanya. Yang aku tahu, diperempatan itu tidak pernah ada
seorang anak kecil yang berada disitu. Tubuh kecil itu sesekali mengusap ingus yang
mengalir pelan dihidungnya. Tak jarang seseorang yang melewatinya, memberikan belas
kasihan kepada dia. Tapi banyak juga yang tidak berempati kepadanya. Seiring dengan
langkah kakiku, anak itu masih tetap dalam naungan sang surya. Sebenarnya aku ingin
mendekatinya, bertanya asal-usulnya dan sekedar untuk memberitahukan bahwa ada yang
perduli dengannya. Tetapi saat itu aku urungkan. Karena aku mempunyai janji pada diri
sendiri, janji untuk memperoleh ilmu lebih dalam lagi. Dan janji pada ustad Fadlan untuk
selalu hadir dimajelisnya, majelis ilmu para pencari kebenaran. Aku putuskan, untuk
menghampiri anak surya itu setelah pulang dari Liqo’ nanti.
Rumah ustad Fadlan sudah tak jauh lagi, tinggal beberap blok saja aku sudah
sampai pada rumah ilmu itu. Rumah yang dihiasi oleh keindahan ajaran Islam
didalamnya. Rumah yang terbina dan sakinah pada para penghuninya. Sungguh benarbenar
rumah idaman.

JILID 4
“Assalamualaikum!” salamku pada penghuni rumah.
“Walaikumsalam!” serentak jawaban para orang-orang yang ada didalamnya.
Ustad Fadlan menghampiriku lalu memelukku. Pelukan yang membuatku
merasakan keindahan persaudaraan. “Khaifa khaluk, akhi?” tanya ustad Fadlan
“Alhamdulillah, be khoir ustad!” jawabku
Setelah itu ustad Fadlan mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. Ternyata
semua saudara-saudara seimanku pun telah datang lebih awal dariku. Irwan, Hamsah,
Feri, Abidin, Rochim sudah menanti kedatanganku. Setelah aku menyalami mereka
semua. Kajianku pun dimulai.
Ustad Fadlan menerangkan tentang keimanan dengan sangat baik. Tutur katanya
lembut dan mengena pada setiap relung jiwa. Tata bahasa diatur sedemikian rupa agar
tidak menyinggung orang yang mendengarkannya. Sehingga, kita dapat mencerna apa
yang dikatakan oleh ustad Fadlan. Keimanan adalah sebuah unsur untuk dapat
mengetahui, apakah kita memang benar-benar meyakini keberadaan Allah, atau malah
kita tidak meyakini keberadaan Allah.
“Keimanan adalah keyakinan kita terhadap sesuatu, jika kita meyakini adanya
keberadaan Allah. Maka hanya Allah lah yang seharusnya dihati kita. Tidaklah seorang
yang menyatakan diri beriman kepada Allah sedangkan dia masih takut pada selain
Allah. Jikalau kita takut pada selain Allah, maka kita beriman pada apa yang kita takuti
tadi, bukan beriman kepada Allah.” ucapan ustad Fadlan sangat menyentuh kalbuku.
Setelah ustad Fadlan banyak memberikan taujihnya kepada para pencari
kebenaran. Kami berenam ditanya satu-persatu tentang permasalahan yang ada pada
kami. Disinilah ajang curhat para aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah tidak akan
langsung meluapkan masalahnya secara sembarangan kepada setiap orang yang dikenal.
Tiada keluh kesah yang diluapkan kepada manusia, melainkan membuka sebuah wacana
solusi pada setiap individu yang sedang dilanda masalah. Jadi bukan berarti, seorang
aktivis dakwah yang sedang curhat kepada murabbinya adalah orang yang bermental
lemah. Atau bahkan minta dikasihani. Bukan, bukan seperti itu. Seorang aktivis dakwah
yang sedang curhat kepada murabbinya adalah merupakan membuka peluang masalah
yang sedang terjadi pada individu untuk diselesaikan bersama-sama. Sehingga jika ada
seorang aktivis dakwah yang sedang dihadang masalah, selain dia meminta kepada Allah
untuk menyelesaikan masalahnya. Juga membagi ladang pahala bagi saudaranya untuk
menyelesaikan masalahnya.
Dengan begini seorang aktivis dakwah dituntut untuk selalu tahu tentang
permasalahan saudaranya. Sehingga diharapkan, rasa persaudaraan itulah yang
mendorong satu dengan lainnya menciptakan ikatan tali ukhuwah yang sangat erat. Dan
seharusnya tidaklah seorang saudara meminta bantuan atau bahkan belaskasihan kepada
saudara lainnya, tetapi seharusnya aktivis dakwah mengetahui apa yang dibutuhkan
saudaranya dan membantu sebelum saudaranya meminta bantuan atau bahkan yang
menghinakan saudaranya, yaitu meminta belaskasihan.
“Ustad, ana ada permasalahan!” ucap Hamsah.
“Iya, antum ada persoalan apa?” jawab ustad Fadlan dengan lembut.
“Gini, Ustad. Ana ada persoalan tentang ruhiyah ana! Ana rasakan, ruhiyah ana semakin
lama semakin menurun. Ana kok merasa futur, Ustad. Ana masih bingung kenapa iman
ana melemah hari demi hari!” Hamsah sejenak berfikir, lalu melanjutkan keluh kesahnya
“ana menjadi begitu tidak bersamangat untuk berdakwah. Langkah-langkah ana begitu
berat dan gamang dalam setiap dakwah ana! Ana butuh pencerahan kembali, Ustad!”
Hamsah menyelesaikan dengan menghembuskan nafas panjang.
“Hem, iya ana mengerti, Akh! Apa yang antum rasakan memang beberapa kali sering
menghinggapi pada perasaan kita. Kadang kita merasa sangat bersemangat sekali,
sehingga seakan-akan bahwa kekuatan semangat kita tidak akan terbendung! Tetapi
dalam waktu tertentu, ghiroh (semangat) kita menjadi melemah, atau bahkan luntur. Ini
menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua!” sejenak Ustad Fadlan tersenyum, lalu
melanjutkan taujihnya “ikhwa fillah, saat ghiroh kita dalam semangat, puncaknya adalah
saat kita tidak dapat mencapai apa yang kita inginkan. Sehingga semangat kita menjadi
kendur, atau melemah. Dan lama kelamaan akan terkikis habis. Maka dari itu, kenapa
kita sangat perlu adanya Liqo’(pertemuan/berkumpul). Dengan adanya Liqo’ semangat
kita yang semula luntur, Insya Allah akan bangkit kembali. Atau kalau lah semangat kita
luntur tidak begitu drastis penurunannya. Ibaratnya adalah handphone yang perlu di
charge. Maka kita juga perlu untuk di charge kembali. Untuk menumbuhkan keimanan
kita kembali. Untuk mengisi melemahnya ruhiyah kita, saat menghadapi permasalahanpermahasalan
yang berat!” ucap Ustad Fadlan dengan sikap tegasnya. “Akhi Hamsah.
Coba pikirkan kembali apa yang membuat ghiroh antum melemah?” tanya Ustad Fadlan.
Hamsah terlihat sedikit mengerutkan dahinya, mencoba untuk memikirkan apa yang
membuat semangat dia luntur. Tak lama setelah itu “Hem, Insya Allah ana sudah
menemukan penyebab permasalahan ana ini ustad!” ucap Hamsah serius.
“apa itu, yaa akhi?” tanya Ustad Fadlan
“akhir-akhir ini banyak Al Akh, yang meminta tolong ke ana untuk mengerjakan sesuatu
yang berhubungan dengan dakwah kita. Karena memang itu profesi ana, sehingga Al Akh
banyak datang ke ana. Ana mengerjakan lebih dulu permintaan Al Akh, ketimbang
pesanan orang lain. Dana-dana yang lebih dulu masuk, ana arahkan semuanya ke pesanan
Al Akh. Sehingga pesanan-pesanan banyak yang terbangkalai. Setelah ana selesai
mengerjakan pesanan Al Akh. Ana jadi tidak bisa mengerjakan pesanan yang lain. Dan
membuat dana-dana dari usaha ana macet. Karena pembayaran dana dari Al Akh, masih
belum dibayar. Usaha ana benar-benar collaps, dan saat ini pesanan-pesanan yang lain
masih tetap belum bisa ana kerjakan, karena berhubungan dengan dana tadi!” Hamsah
mengerutkan dahinya, setelah itu dia melanjutkan perkataannya “dan kemudian ana, jadi
berfikir. Bahwa berdakwah harus siap untuk rugi. Tetapi ana juga berfikir, bahwa jika ana
rugi terus-menerus. Maka usaha ana nggak akan jalan! Mungkin, itu yang membuat ana
futur ustad”
Ustad Fadlan terlihat mengerti dengan apa yang dialami oleh Hamsah. Tak lama setelah
itu, Ustad Fadlan berkata “iya, inilah Akh yang ana sering bilang kepada setiap Al Akh.
Banyak Al Akh yang salah kaprah tentang memahami arti dakwah. Mereka mengira
dengan mangatas namakan dakwah, meraka dengan mudahnya meminta bantuan kepada
Al Akh yang lain. Tetapi bantuan yang diberikan tidak di imbangi dengan kontribusi yang
lain. Kadang setelah Al Akh puas dengan hasil kerja kita, mereka hanya mengucap,
Syukron, Jazakallah atau perkataan yang lainnya. Padahal kontribusi dari dakwah itu ada
imbalbaliknya. Bukannya kita terus mengimbal tanpa ada baliknya. Dan dakwah bukan
berarti harus merugikan kita. Seharusnya imbalbalik dari dakwah itu adalah menciptakan
suasana yang Islami. Contohnya, dalam Islam diharuskan untuk membayar orang yang
telah bekerja sebelum keringat orang yang bekerja itu mengering. Ini merupakan perintah
langsung dari Rasulullah. Sedangkan kalau hanya dibayar dengan ucapan syukron,
jazakallah. Apakah kita dapat memberikan makan anak dan istri kita dengan perkataan
itu! Memang itu juga salah satu penyebab seorang menjadi futur. Sehingga semangat
untuk berdakwah lama-kelamaan akan terkikis habis. Dan perekonomian umat Islam
tidak akan berjaya, jika harus dibayar dengan perkataan! Karena Rasulullah pun bersabda
yang pada intinya, kemiskinan itu akan menyebabkan kekufuran.”
“Wah saya kok jadi tersindir yach!” celetuk Irwan.
“Ggeerrrr........” serempak semua tertawa.
“Kalau kita sich akh, bukan bermaksud untuk tidak membayar. Tapi kita ngutang dulu!”
ucapku.
“Kalau antum berdua sich ana udah tau, antum kan raja ngutang! Biasalah mahasiswa,
ngontrak lagi!” jawab Hamsah. Yang akhirnya membuat kita tertawa lagi.
Ustad Fadlan tersenyum, lalu setelah itu bertanya “Akhi Hamsah. Usaha antum rugi
berapa? Dan butuh dana berapa?”
“Usaha ana sekarang agak tersendat Ustad. Rugi sekitar 4 jutaan!” jawab Hamsah.
Ustad Fadlan mengangguk tanda mengerti, lalu ustad Fadlan beranjak berdiri sambil
mengatakan “Afwan, sebentar ana tinggal kebelakang!”
Serempak kita menjawab “tafadhol, Ustad!”
Aku dan Irwan tersenyum, tak lama Irwan berkata “wah Ustad, tau saja kalau kita sedang
lapar!”
Serentak kami pun tertawa lagi.
“Hehe…. Antum tau juga, apa yang ada dalam pikiran ana!” kataku.
“Dasar.. mahasiswa!” celetuk Feri.
Tak lama Ustad Fadlan datang. Tak lupa membawa boncengannya.
“hehe… Ustad tahu saja kalau kita lagi mengharapkannya!” ucap Rochim
Ustad Fadlan tersenyum. Tak lama Ustad Fadlan berkata “Akh, Hamsah. Ini ana punya
simpanan uang 4 juta. Antum silakan ambil. Kalau misalkan uang dari Al Akh yang lain
sudah dibayarkan. Baru silakan dikembalikan. Kalaulah memang belum dapat
dikembalikan, antum pakai dulu tidak apa-apa.” Ustad Fadlan terlihat sangat tulus sekali
saat memberikan uang itu.
Subhanallah ucapku lirih dalam hati. Sungguh seharusnya, seperti inilah seorang dai.
Seperti apa yang dilakukan oleh Ustad Fadlan. Sebuah contoh yang sangat bagus. Tidak
hanya berdakwah dengan kata-kata, tetapi diimplementasikan dengan perbuatan.
Manakala seorang saudara muslim membutuhkan bantuan. Maka dengan cepat saudara
muslim yang lainnya menolongnya. Inilah yang seharusnya dipegang umat Islam. Saat
saudaranya sedang butuh pertolongan. Sebelum saudaranya meminta bantuan, maka
saudara yang lainnya langsung menawarkan bantuan. Subhanallah.
“Nggak usah, Ustad! Biar ana menunggu uang pembayaran dari Al Akh saja Ustad.” Ucap
Hamsah.
Allahu Akbar ucapku dalam hati. Sungguh memang seharusnya seperti inilah muslim.
Dia tidak mengharapkan bantuan saudaranya yang lain. Selama dia masih bisa bertahan.
Dan bahkan tidak membutuhkan rasa dikasihani oleh saudara yang lainnya. Inilah yang
seharusnya menjadi sebuah contoh. Aku tak habis pikir. Peristiwa sahabat Rasulullah
terulang kembali. Saat terjadi peperangan, beberapa sahabat Rasulullah sangat
membutuhkan air. Tapi apa yang dilakukan oleh sahabat yang membutuhkan air itu. Dia
bahkan mementingkan saudara yang lainnya. Sahabat Rasulullah ini memberikan air
yang sangat dibutuhkan itu pada sahabatnya yang lain. Sungguh peristiwa yang sangat
luar biasa. Tingkatan keimanan yang paling tinggi itsar (mementingkan saudaranya
ketimbang dirinya sendiri) telah dilakukan oleh saudaraku.
“Tidak, Akh! Kelihatannya, antum lebih memerlukan uang itu dari pada ana. Ambil saja,
ana masih belum begitu membutuhkannya” ucap Ustad Fadlan. “sudahlah Akh, terima
saja! Kelihatannya antum lebih memerlukannya ketimbang ana. Biar nanti usaha antum
dapat berjalan lebih optimal” Ustad Fadlan mencoba untuk mempertegas ucapannya.
“Hem,” Hamsah sedikit berfikir. “kalau begitu syukron Ustad!” jawab Hamsah, sambil
menerima uangnya.
“Afwan!” jawab Ustad Fadlan sambil tersenyum lega.
Sebuah hal yang dapat aku petik hikmahnya. Sebuah fenomena yang membedakan antara
umat muslim dan umat yang lainnya. Sebuah karekter dasar yang seharusnya sudah
tertanam dibenak umat Islam sejak lama. Sebuah tauladan yang telah dicontohkan oleh
Muhammad Rasulullah Saw. Hingga akhirnya, umat Islam lah yang seharusnya berjaya.
“Wah, antum sudah siap untuk usaha lagi nich.” Ucap Abidin.
“Siap usaha, and siap menikah!” timpal Rochim
serempak kami tertawa. Ustad Fadlan hanya tersenyum.
“Iya, kok kalian hanya tertawa! Padahal Rasulullah mengajarkan kepada para pemuda
untuk bersegerah menikah, bagi yang sudah mampu. Dan ana yakin kalian sudah mampu.
Jangan jadi alasan karena nggak punya penghasilan atau pekerjaan yang tetap,
menjadikan kalian menghambat pernikahan! Ingat loh pernikahan itu juga termasuk
membuka pintu rezeki” taujih Ustad Fadlan.
Tak pelak kami pun semua tersenyum, sambil melirik satu sama lainnya.
“Maka dari itu, kalian harus bersegara. Banyak akhwat yang belum menikah loh, Akh!
Masa kalian membiarkan akhwat-akhwat sendiri dalam perjuangannya.” Ucap lanjut
Ustad Fadlan.
Kami masih tetap tersenyum penuh arti. Entah itu senyuman pengharapan, ataukah
senyuman karena malu. Aku tak tahu. Yang penting senyumku adalah senyum
pengharapan. Senyum yang mengharap mendapatkan bidadari untuk menemaniku
berjuang dalam dakwah ini. Aku jujur loh.
Entah sudah berapa lama kami berkumpul. Berkumpul untuk saling mengingatkan
tentang agama yang haq ini. Yang menjadikan kami terus mengingat tentang pentingnya
berdakwah. Apalagi pentingnya jalan menuju surga Ilahi. Dan tak kalah pentingnya
mendapatkan bidadari. Nah kan, bidadari lagi.
Tak terasa mentari sudah akan menyiapkan tempat tidur yang enak. Serta kasur
yang empuk, hingga akhirnya surya pun berangsur-angsur tenggalam dengan membawa
sinar kehangatanannya. Dan menjadi saksi perjuanganku. Perjuangan yang tak akan
pernah henti sampai kapanpun, hingga akhirnya akupun berada diatas sang surya. Tunggu
aku wahai mentari.
***
“Krriiiiiiiinggg………….” Jam wakerku berbunyi keras sekali. Keras, tetapi tidak
sekeras cambuk malaikat dineraka nanti. Aku terbangun. Aku lihat Lorus, jam wakerku.
Menunjukkan pukul tiga pagi. Saat-saat yang paling dinanti. Dinanti, oleh para malaikat
yang memburu manusia-manusia, yang terbangun dari tidurnya. Dan menegakkan sholat
untuk Rabbnya. Hingga malaikat-malaikat tersenyum, seraya mengatakan “Wahai
Tuhanku, janganlah engkau menyiksa para manusia-manusia yang terbangun disepertiga
malam ini. Saat mereka terbangun dan menyembahmu! Menyembah dengan berharap
kepadaMu. Wahai Rabb, jadikan manusia-manusia ini sebagai mujahid-mujahidahmu.
Yang kelak akan engkau masukkan kesurga, yang telah engkau janjikan nanti”
Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Menapak dengan kaki gontai yang
teramat sangat. Karena rasa kantuk yang datang menggebu. Menggebu-gebu seraya
melarangku untuk datang bersimpuh, meminta ampun dan pertolongan kepada sang
Maha Pencipta alam. Allah Swt. Sungguh ini menjadikan rasa jihad yang sesungguhnya.
Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan sifat burukku. Tapi, itu bukan jihad yang
sesungguhnya. Karena jihad yang sesungguhnya, adalah melawan penguasa yang zalim
kepada umat Islam. Langkah kakiku terasa berat, tetapi tetap aku berusaha melangkah.
Melangkah dalam setiap langkah yang berpahala. Air kran aku nyalakan, sungguh segar
nikmat dingin air sepertiga malam. Hingga aku kedinginan. Aku basuh semua yang
seharusnya dibasuh, aku bersihkan semua yang seharusnya dibersihkan. Dari tubuhku ini.
Hingga aku menjadi suci. Suci dalam pandangan Ilahi. Wudhu sudah selesai aku lakukan.
Kini aku kembali berjalan. Berjalan menuju kamar kusam, yang terawat rapi.
Kubentangkan sajadah berlambang Ka’bah. Yaa Rabb, aku menghadapmu.
Sayup-sayup terdengar tartil Al Qur’an mengumandang pada masjid dekat
kontrakan. Sudah biasa. Sholat tahajjud, sudah aku selasaikan. Tinggal kini menanti
datangnya shubuh.
Terdengar suara keras dari kamar Deni “BRUAAAK….”
Serentak semua penghuni kontrakan keluar kamar semua.
“Ada apa, Akh?” tanyaku pada saat melihat Yanto yang sudah berada didepan kamar
Deni.
“Ana juga tidak tau, Akh!” jawab Yanto bingung
Kini penghuni kontrakan sudah berada didepan kamar Deni. Yanto, Heri, Samsul juga
termasuk aku.
“Akhi, Deni! Antum kenapa?” panggilku sambil mengetuk pintu kamar Deni.
Tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali. Kami semua menjadi panik. Tak biasanya
seorang Al Akh yang kami panggil, tidak menyahut panggilan kami. Deni tetap tidak
bersuara.
“Udah kita, kita dobrak saja!” usul Samsul, panik.
“Iya kita dobrak saja!” serentak Yanto dan Heri menyetujui usul Samsul.
Saat pintu akan didobrak. “sebentar-sebentar akh, jangan dobrak dulu! Kita lihat dulu
apakah kamar ini dikunci apa nggak” ucapku, dengan langsung memegang gagang pintu.
“Nah, kan nggak dikunci! Ngapain harus mendobrak segala, habis-habisin energi” ucap
Samsul enteng
“Yee… yang usul dobrakkan antum, Akh!” jawab Heri kesal.
“Udah-udah, kita langsung aja lihat kondisi Akhi Deni sekarang!” ajakku sambil
tersenyum. Tersenyum karena sifat kedua saudara seimanku ini.
Saat kami membuka pintu kamar Deni. Terlihat tubuh Deni terkapar dilantai dengan
barang-barang yang berserakan. Kami semua sangat cemas dengan keadaan Deni.
Dengan cepat aku langsung memeluk tubuh Deni.
“Akh, bangun! Antum kenapa? Akhi, sadar akh!” teriakku. Aku benar-benar sangat
panik. Mengingat bahwa aku adalah yang paling tua dikontrakan.
“Akhi, bangun akh! Sadar Akh” Yanto dengan agak berteriak.
Sedikit demi sedikit Deni membuka matanya. Dengan mengucek matanya dan terlihat
sedikit bingung.
“Ada apa, akh? Kok tumben rame-rame! Tidur ana jadi terganggu.” Ucap Deni dengan
bingung
“Loh antum nggak kenapa-napa, Akh?” tanya Yanto.
“Emang, ana kenapa?” tanya Deni bingung
“Hem, antum nggak ngerasa bikin kita panik yach!” sahut Heri.
“Iya, akh! Tadi di kamar antum terdengar bunyi keras sekali. Seperti ada benda jatuh
dikamar antum!” ucap Samsul.
“Iya! Makanya kami langsung kesini” timpal Yanto
“Bener! Saat kita tiba, antum sudah tergeletak dilantai. Dan barang-barang antum
berserakan semuanya” sahut Heri lagi.
“Ana nggak apa-apa kok. Mungkin, ana terjatuh dari kasur!” jawab Deni sambil
menggaruk-garuk kepalanya.
“Yee…. Antum itu kebiasaan. Kalau tidur nggak bisa dibangunin. Ya, gini akhirnya!
Sampai-sampai jatuh nggak ngerasa jatuh, saking lelapnya!” ucap Yanto
“Kali aja, emang nggak pernah baca doa sebelum tidur!” timpal Samsul.
“Iya, bener! Pasti, tadi nggak sholat tahajjud” sahut Heri
Deni masih terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dan terlihat hanya
nyengir karena malu.
“Udah-udah! Sekarang sholat shubuh. Tuh sudah adzan” selaku.
Kami pun beranjak pergi kekamar masing-masing, untuk mengambil sajadah. Setelah itu
kami berangkat pergi ke masjid bersamaan.
***
Selesai pulang dari masjid. Aku langsung mengambil al ma’tsurat. Dzikir pagi dan
petang. Teman-teman kontrakanku, sudah kembali menjalankan aktifitas yang tertunda.
Menjalankan, apa yang sudah menjadi rutinitas mereka. Meneruskan mimpi-mimpi
indahnya. Bertemu dengan bidadari surga. Nahkan, bidadari lagi.
Sudah jadi kebiasaan dikeluargaku. Kalau sudah bangun pagi, sholat shubuh.
Dilarang untuk kembali tidur. Bapakku, bisa ngomel-ngomel seharian. Kalau tahu
anaknya tidur setelah sholat shubuh. Katanya nanti nggak disiplin lah, orang yang tidur
itu nggak dapat rezekilah atau pintu rezeki ditutup oleh Allah. Aku dulu, jengkel juga
sama Bapak. Masa, orang masih ngantuk-ngantuknya tidak boleh melanjutkan tidur.
Malah disuruh untuk mandi. Kan, dingin.
Tapi setelah itu aku benar-benar tahu kenapa Bapak menyuruh keluarga kami
untuk tidak kembali tidur selesai sholat shubuh. Hikmah yang paling mendasar baru aku
ketahui saat ini. Saat aku sudah terbuai dengan kenikmatan dakwah ini. Kenikmatan yang
akan memberikan aku pencerahan kembali. Pencerahan atas nama Rabb penguasa alam.
Atas nama Al Haq dari segalanya. Dari apa yang ada di alam semesta ini. Sang Ilahi.
Pukul 05.30, sudah kebiasanku juga. Setiap pagi harus selalu diselingi dengan
olah raga. Minimal pemanasan otot dan lari pagi. Atau kalau lagi malas, biasanya aku
bermain sepak bola, di komputerku. Bisa untuk melemaskan otot-otot tangan dan
jemarikan!. Setelah itu, baru mandi.
“Tlluuutt….tlluuuut” telfon berdering tepat pukul 06.00. Saat itu aku sedang asyikasyiknya
bermain sepak bola, liga Italy di komputerku. Karena asyik banget, akhirnya
aku biarkan saja. Itung-itung bikin teman-teman bangun, dan mengangkat telphonenya.
Benar juga, akhirnya Deni yang mengangkat telphonnya.
“Akh, Khalid. Ada yang telephone!” panggil Deni.
“Tumben, ada yang menelephonku pagi-pagi. Biasanya, pagi-pagi seperti ini Samsul
yang dapat telephone. Kadang, para Akhwat yang nelphone Samsul. Ngingetin kalau
siangnya ada Syuro’. Biasalah ketua LDK. Yang pelupa, dan susah diingetin. Gimana
mau ngingetin, ponsel aja kadang masih pinjem teman-teman. Hem, sama kayak aku
dulu.” Aku pause FIFA ku. Lalu melangkah untuk menerima telephone.
“Wah, akhi Khalid! Pagi-pagi sudah ditelphone akhwat. Suaranya merdu loh akh.
Ingatlah akh. Awas, berkhalwat.” Ucap Deni bercanda.
“Hem, kok mikirnya su’udhon terus! Nich ikhwan, lupa sama akhlaq yach?” jawabku
sekenanya, sambil mengambil gagang telphone.
“Afwan, bercanda akh!” jawab Deni.
“Assalamualaikum!” salamku pada seorang yang menelphoneku.
“iya, ini Khalid yach?” jawab si penelphone.
Nih akhwat, di doa’in kok nggak bales doa sich. gumamku kesal, dalam hati. “iya benar,
ini Khalid! Mbak siapa yach?” jawabku.
“Khalid, ini aku! Nova” jawab si penelphone
Aku terpaku, termangu. Nova, gadis cantik yang aku lihat. Gadis, yang membuatku
melupakan kenikmatan untuk menyembah Al Haq. Melupakanku dalam memohon
ampunan dosa-dosaku. Gadis, yang membuat dosa baru buatku. Gadis, yang melenakan
aku dengan Ilahi.
“Hallo, Khalid! Kamu kok diam? Kamu kenapa?” ucap Nova kebingungan.
“Nova? Yang temannya Hendra itu yach?” tanyaku.
“Iya! Apa kamu lupa?” jawabnya singkat
“Oh, iya aku ingat! Kamu dapat nomor telponku dari mana?” tanyaku heran
“Dari, Hendra! Kenapa?”
“Oh nggak apa-apa! Cuman, nanya aja kok. Ada, keperluan apa Nov” ucapku
“Gini, Khalid. Aku pengen tanya-tanya kekamu, tentang Islam! Aku pengen balajar
banyak tentang Islam” Jawabnya
Hem. Ada apa nich, kok nich cewek langsung pengen tanya-tanya tentang Islam.
gumamku dalam hati. Aku langsung teringat. Teringat dengan Nova. Teringat dengan
wajahnya. Teringat dengan akhwat, yang sama persis dengan wajahnya Nova. Teringat
dengan rencanaku memadu-memadukan wajah akhwat itu dengan Nova. Teringat aku
akan meminta tolong sama Deni, untuk mendesain wajah akhwat itu dengan wajahnya
Nova. Tetapi aku harus tetap khusnodhon terhadap Nova. Aku takut, jangan-jangan jika
aku berfikir yang tidak baik maka Allah akan mengabulkan apa yang aku pikir. Karena
Allah kan menurut apa yang diprasangka hambanya. Jadi, aku harus berprasangka baik.
Biar Allah mengambulkan kebaikan itu pula.
“Wah, aku jadi tersandung ee tersanjung! Seorang ketua UK3 mau belajar agama Islam”
jawabku sekenanya.
“Yee… orang mau belajar kok diolok-olok!” ujar Nova, terdengar sinis.
“Nggak! Bukan aku bermaksud mengolok-olok, cuman aneh aja” jawabku
“Nggak anehlah! Seorang yang ingin mengetahui agama orang lain, itukan wajar!”
jawabnya
Kini saatnya aku harus mendakwai orang non muslim. Kini saatnya, aku membuktikan
kebenaran ajaran Islam. Meskipun benak-benak qolbu berontak, bertanya-tanya tentang
kebenaran ketulusan Nova dalam belajar agama Islam. Tapi kalaulah seandainya dia
memang ingin berdebat denganku. Insya Allah, aku sudah bersiapsiaga.
“Hem, Ok deh! Kapan bisa mulai?” tanyaku
“Kamu, punya waktu kapan?” Nova balik bertanya.
“Insya Allah, nanti siang aku ada waktu!” jawabku enteng.
“Kalau jam 8 pagi, gimana?” tawarnya.
“Waduh, sorry! Aku ada bimbingan kalau jam segitu” jawabku.
“Baik, nanti jam 1 siang aku tunggu” jawabnya
“Tempatnya, dimana?” tanyaku
“Enaknya dimana yach? Kalau di kantin gimana?”
“Wah, kalau dikantin nggak kondusif. Lebih baik ditempat yang tenang aja”
“Hem kalau gitu, selesai kuliah aku tunggu kamu di Fakultas ekonomi kelas A”
“Ok, aku akan kesana!”
“Kalau gitu, sampai nantinya yach!”
Saat Nova akan menutup telefonnya.
“Eh, tunggu-tunggu Nov. Jangan ditutup dulu telpnya!” sergahku
“Ada apa, Lid?” Nova terdengar agak heran.
“Enggak, gini loh. Kalau bisa, nanti kamu membawa teman yach! Biar kita nggak
berdua-duaan” pintaku.
“Loh, apa kamu nggak pengen berdua-duaan denganku, Lid? Kan, enak dua-duaan!”
jawab Nova sambil tertawa.
“Maaf, Nov. Kalau gitu aku nggak jadi aja deh! Aku nggak pengen melanggar apa yang
telah diatur oleh agamaku” jawabku ketus.
“Loh, sebentar Lid! Aku tadi cuman bercanda aja kok. Jangan dimasukkan kehati gitu
dong! Ok lah, kalau kamu pengennya seperti itu. Aku akan ajak temenku Rani, Dewi dan
Hendra” jawabnya
“Nah, begitu kan lebih baik! Tidaklah diperbolehkan dalam Islam, laki-laki dan
perempuan itu bercampur baur atau bahkan malah berdua-duaan. Karena itu adalah
mendekati dosa! Dan, kalau untuk bercampur baur. Nanti aku akan atur biar nggak
terkesaan bercampur antara wanita dan laki-laki.” Jawabku mantap.
“Hem. Ok Lid! Aku tungguh, da…..h!”
setelah itu yang terdengar hanya nada “tuttttt……”
Aku tutup telponku. Setelah itu, aku kembali lagi kekamarku. Hilang sudah
semangatku yang tadi telah berkobar-kobar berjuang untuk mengalahkan Roma. Dalam
games FIFAku. Aku matikan games FIFA, setelah itu aku gantikan dengan winamp.
Dengan serta mertapun semangatku kembali berkobar.
“Tujuan kita Allah yang perkasa
Teladan kita Muhammad tercinta
Panduan kita Al Qur’an mulia
Cita-cita kita Syahid dijalan Allah
Islam adalah Satu
Satu iman satu jiwa satu hati
Adilnya tertinggi dihadapan Rabbi
Pada api bagi hindi tirani
Islam adalah Satu
Satu pengorbanan dalam perjuangan
Menggenggam dunia selimuti angkasa
Kibarkan panji-panji kemenangan
Bangkit dan bersatulah
Satukan tekat tuk raih kemenangan
Naungi dunia dengan kedamaian
Dibawah panji Islam nan mulia”

Sunday, May 27, 2012

Ketekunan adalah Kekuatan Sahabat


Apa yang sahabat raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang sahabat lakukan terus-menerus. Keberhasilan bukan suatu yang turun begitu saja. Bila sahabat yakin bukan suatu yang turun begitu saja. Bila sahabat yakin pada tujuan dan jalan sahabat, maka sahabat harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan sahabat untuk bertahan di tengah tekanan untuk bertahan ditengah tekanan dan kesulitan. Sahabat harus tetap mengambil langkah selanjutnya. Jangan hanya berhenti di langkah pertaman. Memang semakin jauh sahabat berjalan, semakin banyak rintangan yang menghadang. Bayangkan, andai saja kemarin sahabat berhenti, maka sahabat tidak akan berada di sini sekarang. Setiap langkah menaikkan nilai diri sahabat. Apapun yang akan sahabat lakukan jangan sampai kehilangan ketekunan sahabat karena ketekunan adalah daya tahan sahabat.
Pepatah mengatakan ribuan kilometer langkah di mulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari langkah-langkah kecil. Dan langkah pertama keberhasilan harus sahabat mulai dari rumah sahabat yang paling baik adalah hati sahabat. Rumah sahabat yang paling baik adalah hati sahabat. Itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itulah mulailah kemajuan sahabat dengan memajukan hati sahabat. Ketekuna hadir bila apa yang sahabat lakukan benar-benar dari hati sahabat.  

Saturday, May 26, 2012

Biru Tuk Langit, Hitam Tuk Malam


Akhirnya Boy nongol juga ke rumah Vivi 'n langsung langsung aja diboyong
ke ruang belajar Seno, kakaknya Vivi.
"Assalamu'alaikum," sapa Boy.
"Walaikum Salam" Seno langsung nyalamin tangannya Boy.
Nggak banyak omong langsung aja komputer yang lagi ngadat itu dengan
pasrah diacak-acak. Dinyalain, diliatin programnya. Setelah dikira-kira bad
sector-nya dimana, seketika itu juga komputer yang dengan manisnya
duduk di atas meja, dibongkar. Tutup CPU-nya dibuka. Isi perutnya yang mirip
perut Robocop diutak-atik.
"Sirkuitnya ada yang longgar," jawab Boy waktu Seno tanya-tanya soal
penggusuran eh pembongkaran komputer kesayangannya itu. Bener aja
saodara-saodara, nggak sia-sia Boy waktu kecil suka ngrusakin mainan
orang, ternyata komputer yang gegar otak itupun dengan lancar
mengeluarkan program-programnya.
"Belajar betulin komputer dimana, Boy" tanya Seno sesudah ngeberesin
bekas operasi.
"Belajar sendiri aja dari buku" jawab Boy sambil minum sirup. "Ditambah nekat
bongkar komputer bokap di rumah" lanjutnya sambil cengengesan Karena
udah sore, Boy buru-buru pamitan pulang sama Seno dan tentu juga sama
Vivi.
"Pinter juga tuh anak" setelah Boy pulang, Vivi diam aja. "Baik lagi",
tambahnya. "Kalau kakaknya?" tanya Vivi iseng.
"Si Erik? baik juga sih, cuman sok kece aja" Komentar Seno sambil ngeliat
reaksi adiknya. Vivi cuman manyun.
"Apa si Boy baru aja maen ke rumah elu?" Erik nggak bisa nahan rasa sirik bin
kagetnya waktu Seno nelpon ke rumah ngasih tahu kalo Boy baru aja pulang
dari rumahnya.
"Tenang aja Rik, Boy kagak ngapa-ngapain, cuman betulin komputer gue
doang" kata Seno sambil ketawa ngeledekin Erik. Sukses gue bikin jealous tuh
anak!
"Oh, jadi dia nggak coba ngrayu-ngrayu Vivi kan?" Erik masih penasaran.
Tawa Seno meledak.
"Mana gue tau? emangnya gue musti ngawasin kemana adik lu pergi?" Erik
bersungut-sungut.
"Ok, Rik, sekian aja informasi dari Seno, wassalam, bye" klik, Seno nutup
teleponnya meninggalkan Erik yang masih panas ati.
Sialan si Boy, bener-bener kutu busuk alias musuh dalam selimut, beraninya
maen belakang.
Bersaing sih boleh aja, cuman jangan maen belakang dong. udah minggu
kemaren nggagalin kencan gue ama Vivi, eh sekarang malah ngedeketin
Vivi. Memang benar, perlu dikasih pelajaran tuh anak, Erik geram.
Baru saja dia masuk ke kamar, suara kaki Boy kedengaran masuk ke dalam
rumah. Erik nggak jadi masuk kamar. Boy ditungguin di depan kamarnya. Boy
sempet kaget juga ngeliat kakaknya menghadang di depan pintu kamar.
"Jadi gitu cara elu bersaing maen curang?" Erik emosi. Boy bengong nggak
ngerti maksud omongan Erik, tapi otaknya cepet mikir, pasti soal mobil
kemaren. Daripada ribut, Boy cuek aja masuk ke dalam kamar. Bruk.
pundaknya tubrukan ama pundak Erik. Erik panas ngerasa dicuekin. Pundak
adiknya ditarik, tapi tangannya ditepis Boy, dan tiba-tiba sebuah pukulan
melayang ke wajah Boy, Duk!
Boy nggak sempat menghindar, badannya terhuyung ke dalam kamar. Tapi
sebentar kemudian Boy melayangkan pukulan balasan ke pipi kiri Erik, giliran
Erik yang terhuyung sampai terjengkang. Dia merasa ludahnya asin. Makin
murka Erik langsung berdiri dan menerjang Boy. Keduanya bergerumul di
lantai dan saling baku hantam.
"Berhenti" satu teriakan menghentikan keduanya. Papi sudah berdiri di
belakang. Mami sesenggukan di balik punggung Papi. Pelan Erik dan Boy
bangkit, pakain keduanya kusut. Darah mengalir dari sudut kiri bibir Erik.
Sementara mata Boy lebam.
"Apa-apaan ini? kalian mau saling bunuh, hah?" tanya Papi dengan suara
tinggi. Erik dan Boy tidak menjawab. "Sekarang kalian bereskan semuanya
dan Papi tunggu satu jam di kamar Papi" Selesai memarahi papi menuju ke
ruang tengah sambil menggandeng Mama yang masih sesenggukan. Tapi
baru aja papi dan mama berjalan beberapa langkah, tiba-tiba, bruk! Boy
ambruk, mama kaget dan menjerit "Boy!!"
Papi dan Mama berdiri di samping ranjang saat Boy membuka mata. Papa
dan Mama membawa Boy ke rumah sakit. Kata dokter Boy terkena gegar
otak ringan akibat terbentur tembok waktu berantem dengan Erik.
Wajah Papi sudah tidak segarang tadi. Kelihatan lebih tenang, hanya
Mamanya yang masih nampak cemas. "Masih sakit, sayang?" tanya Mami
penuh perasaan. Boy tidak menjawab. "Pi", kata Boy pelan, Papi
mendekatkan telinganya pada Boy. "Boy minta maaf, Pi" pinta Boy pelan.
Papi menggelengkan kepala. "Papi sudah maafkan. Papi sudah tahu semua
duduk persoalannya. sekarang kamu istirahat saja. Kita bicarakan nanti aja
kalau kamu sudah kembali ke rumah" Jawab Papi menenangkan Boy.
Sore itu Erik masih duduk-duduk di teras belakang rumah neneknya. Oleh
Papi, Erik dilarang tinggal di rumah selama 2 bulan. Akhirnya dengan sangat
terpaksa dia mengungsi ke rumah nenek. Tapi lumayan, dia nggak kesepian,
karena mini componya boleh dibawa ke sana. Lamat-lamat lagu Paint My
Love-nya Micheal Learns to Rock terdengar di sana. "From my youngest years
till the moment here I've never seen such a lovely queen" begitu Erik
menirukannnya.
Erik jadi teringat Vivi, sudah 2 minggu dia nggak maen atau nelpon ke
rumahnya. Mungkin sudah tahu kejadian yang menimpa Boy, mungkin juga
ia sekarang membenci dirinya dan makin simpati ama Boy. Erik
menertawakan ketololannya sendiri, kenapa ia begitu emosi pada Boy, ia
terbawa emosi setelah diberitahu Seno kakak Vivi, bahwa Boy baru aja ke
rumah Seno. Padahal dalam kenyataanya, Boy hanya bentulin komputer,
kalaupun pada Vivi, boy sebenarya juga naksir, tapi sebagai seorang muslim
yang ngerti halal dan haram, maka Boy nggak melampiaskan rasa
tertariknya pada Vivi dengan memacarinya, berbeda dengan Erik, dan
belum tentu juga Vivi suka pada Boy ataupun erik.
Karena penasaran, Erik mendekati telepon neneknya. Masih dengan raguragu
jarinya menekan tombol telepon. Cukup lama Erik menanti telepon di
seberang diangkat. "Hallo?, bisa bicara dengan Vivi?" Erik mulai
pembicaraanya. "Saya sendiri, Ini siapa ya?" tanya Vivi di seberang. "Erik, ini
Erik" sahut Erik. "Erik?Kak Erik Sugama?" tanya Vivi. "Iya," Erik meyakinkan Vivi,
yang diyakinkan malah terdiam. "Eh .. Vi, gue mau minta maaf. Gue lama
nggak ngontak en maen lagi ke rumahmu, maklum banyak urusan" Erik mulai
Berdiplomasi. "Eng ..nggak apa-apa, emangnya sekarang ada perlu apa?"
tanya Vivi. "Vi.. gimana kalo sabtu sore kita ke Rose Kafe?" Erik harap-harap
cemas kalo Vivi menolak ajakannya. "Memangnya ada perlu apa sih?, kalo
cuman mau minum kopi kan bisa di rumah Vivi?" tanya Vivi curiga.
"eee..Ada yang penting en kayaknya perlu serius deh. Lagian kan asyik kalau
kita sore-sore maen ke sana. Kata anak-anak croissantnya enak lho, eh,
kamu nggak lagi diet kan?" Erik mulai mengeluarkan jurus play boy-nya.
"Bukan soal diet sih, cuman penting banget nggak?" vivi masih curiga.
"Penting dong" jawab Erik. "Harus?" tanya balik Vivi. "Harus!" kejar Erik. Hening,
Erik ikutan diam, menunggu jawaban Vivi. "Ya udah, tunggu ajam empat sore
ya?"
Akhirnya pekik Erik dalam hati. Yes you give me a big chance, God. "Ok, jam
4 sore en jangan lupa tunggu disana" sambar Erik cepat, Telepon Vivi ditutup.
Klik
Jam 4 sore, Erik sudah duduk di kafe Ros. Kaos hijau Ocean Pacific dipadu
dengan jins biru. segelas kopi krim sudah ada diatas meja. Jam 4 lewat lima
menit Vivi muncul dari dalam taksi. What a beauty! puji Erik dalam hati.
Bener-bener sekuntum bunga mawar merah. Erik melambaikan tangan, saat
Vivi mendekati Erik menarik kursi untuk tempat duduk Vivi.
"Mau makan dan minum apa?" tanya Erik setelah Vivi duduk. Yang ditanya
sibuk membuka daftar menu. "Pisang bakar keju, sama kopi krim" jawabnya.
Pelayan yang berdiri di dekat Vivi segera pergi menyiapkan makanan.
"Setengah porsi aja?" pesen Vivi lagi.
"Erik mau bicara apa sama Vivi?" tanya Vivi. Erik terkejut juga, jarang nih
cewek berani mulai bicara pikirnya. "Nanti aja deh beres makan" jawab Erik
bak gentlemen.
"Begini, Vi" kata Erik lembut, "Sebenarnya dari dulu, sejak pertama kali liat Vivi,
Erik langsung suka sama Vivi, jadi Erik mau minta jawaban jujur dari Vivi" Suara
lembut Erik terputus. "Mau nggak Vivi jadi pacar Erik?" sambungnya.
Vivi terdiam. Erik membuka lebar-lebar telinganya buat ngedengerin
jawaban Vivi. Vivi menggeser tempat duduknya. "Vivi .."suara lembut khas
Vivi akirnya keluar, terbata-bata. "Vivi... sebenarnya" Vivi masih ragu untuk
ngejawab sementara Erik still waiting dengan cemas.
"Vivi sebenarnya nggak nyangka dan nggak mau kalau hubungan baik Vivi
dan Kak Erik ... disalah artikan sebagai pacaran oleh Kak Erik. Sekarang ini
...Vivi nggak mau pacaran dulu. Dengan siapapun..." sambung Vivi pelan
dan dengan putus-putus.
"Vivi ... minta maaf ... kalo jawaban Vivi menyinggung perasaan Kak Erik,
bagaimana kalo sekarang kita berteman aja?" pintanya polos. Erik terhenyak
ke sandaran kursi. Tak disangka ada juga gadis yang menolaknya, dan gadis
itu adalah yang setengah mati diinginkannya. Erik terkesima dengan
jawaban Vivi. Matanya setengah tak percaya kalau gadis dihadapannya
adalah Vivi yang baru aja menolaknya. Ah, semoga kupingnya budeg dan
salah denger. But its true!
Vivi jadi serba salah dipandangnya Erik dengan tatapan kosong. Beberapa
menit mereka berdua terdiam.
"Vivi .. pamitan dulu, sudah mau maghrib, Mama pasti nyariin Vivi" akhirnya
vivi memberanikan diri bicara. Gadis itu bangun sambil menyeka matanya
yang basuh dengan sapu tangan merah jambu, berjalan menuju ke kasir,
membayar ongkos makan mereka berdua, lalu pergi keluar dengan taksi
biru.
Erik masih terduduk di kafe yang mulai rame di kungjungi remaja-remaja
yang membawa pasangannya masing-masing. Lagu Ordiniry Love
menggema dengan pilu dari sudut kafe. "This is not your ordinary, your
ordinary love, I was not prepare enough to fall so deep in love.
Erik termangu sendiri di dalam kafe larut dalam kesedihannya.
Lima tahun kemudian. Boy sibuk menyiapkan kamar kosnya yang bakal
dipake tempat pengajian. Hari itu dia harus sudah mulai membimbing adikadik
kelasnya untuk jadi aktivis Islam di kampusnya. Terpaksa kamar yang
biasa berantakan dirapikan. Diktat, kertas-kertas, coretan, buku-buku agama
disimpan rapi di rak. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sehelai foto yang
jatuh dari buku agamanya. Foto dia dengan Erik di Pengandaran, sewaktu
liburan SMP. Dia jadi ingat Erik yang hampir lima tahun belum bertemu,
semenjak perkelahian itu, Erik diminta agar sekolahnya pindah ke Surabaya,
di rumah bibinya. Dan Erik belum pernah bertemu lagi dengan Boy, setiap
Boy ke Surabaya, Erik menghindar dengan menginap di rumah temannya.
Begitu pula setiap Erik pulang ke Jakarta, selalu tidur di rumah Nenek. Boy
hanya tahu dari mama kalo prestasi sekolah Erik, ancur-ancuran, untungya
dia masih bisa kuliah. Terakhir mama cerita kalau Erik bekerja dan akan
menikah dengan teman kerjanya. Tak terasa Boy meneteskan air mata
mengingat masa-masa mereka yang manis waktu SMP, sampe akhirnya
mereka bertemu Vivi. Tapi mereka berpisah bukan karena Vivi, tapi karena
kebodohan dirinya dan Erik. Meraka hanya anak-anak SMA yang berandal.
Dug, dug dug, pintu kamar kostnya diketuk dari luar.
"Boy, ada surat nih" teriak teman kosnya, boy menyeka air matanya sebelum
membuka pintu. "Jazakallah khairan" katanya sambil buru-buru ngambil surat
itu dan cepet nutup pintu takut ketahuan nangis.
Ada dua surat di tangannya. Surat undangan berwarna biru dan merah
jambu. Yang pertama dibuka: undangan pernikahan dari Erik. Boy nyaris
jejeritan kesenangan, Erik menikah dan mengundangnya, ternyata dia tidak
melupakan adiknya.
Giliran surat kedua dibuka, dia menahan nafas membuka surat itu,
undangan pernikahan Vivi Erningpraja. Boy tersenyum, tidak lagi panas
kepala seperti dulu. Alloh jualah yang menentukan segalanya. Erik dengan
gadis lain dan Vivi dengan pria lain. Surat itu disimpannya baik baik. Surat
dari orang yang masih dan pernah dicintainya dan ternyata tidak pernah
melupakan dirinya. Erik dan Vivi, aku akan datang ke pernikahan kalian, Boy
janji pada diri sendiri. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi cemburu.
Gorden kamarnya dibuka, Boy ingin menatap langit malam itu. Langit masih
biru dan malam mulai gelap, tapi semuanya indah dalam pandanganya
yang kini semakin dibukakan oleh Allah. (Iwan)
(Disarikan dari Permata 24/V Desember 1997\}[islamuda.com]

Wednesday, May 23, 2012

Bidadari untuk Ikhwan #6


JILID 3
Aku keluar dari sekretariat dosen, dengan penuh kemenangan. Kemenangan awal
yang akan diikuti oleh perjuangan yang lainnya.
“Hey, Khalid! Gimana bimbingan dengan si Prof killer itu?” sapa Hendra, yang saat itu
berada disampingku.
“Alhamudillah, semua beres!” ucapku penuh kemenangan
“Wah, enak ya kalau aktivis” ujar Hendra
Aku tersenyum sambil mengatakan “makanya, kenapa dulu nggak jadi aktivis!”.
Belum tahu dia tentang perjuanganku untuk mempertahankan nama baik. Dan
belum tahu dia kalau keteganganku saat menghadapi Professor Susilo Nugroho bagaikan
tawaran untuk menikahi seorang akhwat, ucapku dalam hati.
“Kamu mau kemana sekarang, Lid?” tanya Hendra
“Mau, kesekretariat LDK! Kenapa? Mau ikut!” jawabku enteng
“Nggak! Sebenarnya aku ada perlu sama kamu, kalau kamu nggak repot!”
“Wah, ada perlu apa nich? Nggak kok, aku nggak repot!”
“Lid, gimana kita kalau duduk disitu!” Hendra menunjukkan tempat duduk di taman
fakultas hukum. Yang saat itu beberapa tempat duduk yang masih dipenuhi mahasiswamahasiswi
yang sedang berkumpul. Entah apa yang mereka lakukan.
Aku mengangguk setuju.
Setelah duduk di kursi paten beton. Hendra langsung mengatakan sesuatu yang
mengganjal hatinya “Sebenarnya gini Lid!” Hendra mengatakan tentang sesuatu yang
mengganjal pada hatinya. Sesuatu yang membuat dia resah. Membuat dia merasa
bingung harus ditanyakan kemana sebuah persoalan yang berada pada rongga pikirannya.
“Lid, aku mendapat SMS juga mendapat berita dari temanku. Akan ada sebuah
penyerangan besar yang ditujukan kepada orang-orang Kristen. Akan ada sweeping
besar-besaran yang dilakukan oleh umat Islam kepada orang-orang Kristen. Dan setiap
wanita Kristen akan diperkosa, laki-lakinya akan dibunuh!” ucap Hendra serius.
Hendra adalah seorang penganut Kristen yang sangat dekat danganku. Seorang
Kristen yang sangat mendukung tentang Hak Asasi dalam beragama. Seorang yang tidak
suka menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya. Seorang yang toleran dalam
beragama.
“Boleh aku lihat SMSnya?” pintaku
Hendra langsung mengambil HPnya. Dan langsung memperlihatkan SMS gelap itu
kepadaku. “Assalamualaikum, untuk orang Islam semua. Seruan untuk mensweeping
umat Kristen. Kita habisi mereka. Kita perkosa wanita-wanitanya, kita bunuh lakilakinya.
Jangan ada ampun kepada umat Kristen yang kita temui. BUNUH mereka.
Allahu Akbar 5x”
Setelah membaca SMS itu, aku tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum, Lid? Apa ada yang lucu?” terlihat Hendra merasa tersinggung
dengan senyumanku.
“Kawan, saat kamu memperlihatkan SMS itu dan aku tersenyum, bukan aku bermaksud
menyinggungmu. Tapi senyumanku tertuju pada si pengirim SMS itu. Karena
sesungguhnya perkataannya bukan seperti orang Islam yang beriman. Dalam Islam tidak
pernah dihalalkannya untuk membunuh siapapun bahkan umat agama lain. Selama tidak
ada suatu alasan yang syar’I, atau sebuah hukuman. Maka tidak diperbolehkan orang
Islam membunuh. Juga, bermaksiat dalam Islam sangat berdosa besar. Apalagi
memperkosa wanita. Masya Allah. Itu sangat diharamkan pada umat Islam. Karena Allah
sangat murka pada orang-orang yang bermaksiat. Sesungguhnya kawanku, umat Islam
jika mengucapkan takbir, itu terbiasa dengan 3x kali. Tapi disitu janggal, dengan
mengucapkan takbir 5x. Berarti, si pengirim SMS itu tidak mengetahui pasti tentang
kebiasan orang-orang Islam. Bukan berarti aku mengatakan si pengirim SMS itu orang
beragama lain, tetapi bisa juga orang yang mengirim SMS itu adalah orang-orang Islam
tetapi yang tidak beriman. Dan apakah engkau tahu? Bahwa aku tidak pernah dikirim
SMS yang berbunyi seperti itu. Padahal aku adalah termasuk orang-orang yang
memperjuangkan agamaku!” jelasku panjang lebar.
“Tapi umat Kristen diisukan, bahwa mereka telah memurtadkan orang Islam. Apakah isu
itu tidak membuat orang-orang Islam sangat membenci umat Kristen?”
“Kawanku, apakah engkau menyangkal bahwa umat Kristen tidak memurtadkan umat
Islam?” tanyaku balik kepada Hendra
Hendra menunduk lesu, setelah itu menghembuskan nafas panjang “Iya, aku akui. Bahwa
memang ada sebagian besar orang-orang Kristen yang menghalalkan segala cara untuk
memurtadkan orang Islam. Mereka berfikir bahwa umat selain Kristen, adalah dombadomba
yang tersesat. Aku sudah berungkali menolak dogma itu, kepada kalanganku. Tapi
apalah dayaku,” Hendra menghela nafas panjangnya, setelah itu dia melanjutkan
perkatannnya “Aku hanya seorang anak pendeta yang telah terasing dari agamaku sendiri.
Tetapi aku masih yakin bahwa dogma itu harus dirubah. Semua umat beragama adalah
orang-orang yang ber Tuhan. Dan semua orang beragama adalah orang-orang yang baik.”
“Kawan, bukan berarti jika umat Kristen memurtadkan umat Islam. Dan umat Islam
membenci umat Kristen semua! Sesungguhnya yang kita benci bukan umat Kristen
semuanya, tetapi kelakuan yang telah dilakukan oleh segelintir umat Kristen yang
menghalalkan segala cara untuk menempuh tunjuannya. Kawan, kita memang
diperbolehkan untuk bersyiar, kita memang diperbolehkan untuk berdakwah. Tetapi
tujuan kita adalah memberikan sebuah pengetahuan yang benar, tentang arti sebuah
kebanaran itu sendiri. Kita boleh memberikan sebuah bantuan kepada orang lain. Tetapi
kawan, kita harus ingat tentang keikhlasan. Keikhlasan adalah sebuah maksud tanpa ada
tujuan tertentu selain tujuan untuk diridho’I oleh Tuhan kita. Bukanlah itu sebuah
keIkhlasan, manakala kita membantu seseorang dengan tujuan untuk menarik mereka
menuruti apa yang kita inginkan. Ada sebuah hal yang menarik dari sebuah kisah dua
sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Dia adalah Abu Bakar dan Bilal. Abu Bakar adalah
orang yang membeli seorang budak muslim yang saat itu teraniaya dengan harga yang
sangat mahal, dia adalah Bilal. Sungguh saat itu Bilal sudah dizalami oleh orang-orang
Quraisy. Dengan serta merta Abu Bakar membeli Bilal dengan harga yang sangat mahal
dari budak yang lainnya. Setelah itu Abu Bakar membebaskan Bilal dari perbudakan.
Pada suatu masa, yang pada saat itu Abu Bakar meminta dengan sangat kepada Bilal
untuk menuruti perintahnya. Dengan sangat rendah hati, Bilal mengucapkan
“sesungguhnya wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau inginkan dari pembebasanku.
Apakah engkau ingin aku menuruti perintahmu? Atau kah engkau membebaskan aku
dengan keIkhlasanmu kepada Allah. Jika engkau memerdekakanku agar aku menjadi
milikmu, maka lakukan apa yang engkau inginkan. Jika engkau memerdekakanku karena
Allah, maka biarkanlah aku.” Saat itulah Abu Bakar dengan rendah hati pula mengatakan
“Aku membebaskanmu karena Allah, Wahai Bilal!” sungguh ini adalah sebuah kalimat
keikhlasan yang sangat dalam. Tiada dari sebuah maksud keikhlasan melainkan hanya
kepada Allah lah saja. Jadi sebenarnya, bahwa umat muslim boleh memberikan bantuan
kepada umat Kristen. Tetapi umat Islam diharamkan memaksa umat Kristen untuk
mengikuti keinginan dari umat Islam. Dan seharusnya pun, begitu pula sebaliknya.”
Jawabku panjang lebar.
“Tetapi Khalid, apakah engkau menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat
Islam terhadap umat Kristen?” tanya Hendra ragu
“Kawanku, sesungguhnya Islam itu adalah agama damai! Dan sesungguhnya umat Islam
itu, umat yang damai. Tetapi jika umat Islam dizalimi. Tidak ada kata lain selain Jihad.
Aku menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat Islam terhadap umat Kristen.
Selama umat Kristen tidak melakukan sebuah kecurangan. Dan tidak akan ada
pembunuhan dan perkosaan terhadap umat Kristen, meskipun jika memang dilakukan
pensweepingan terhadap umat Kristen yang curang. Karena Islam mengharamkan cara
yang bathil. Insya Allah, Kawan.” Jawabku mantap
“Lid, terima kasih atas jawab-jawabmu! Sebenarnya aku sangat khawatir sekali. Aku
khawatir terjadi permusuhan antar agama. Aku tidak menginginkan adanya sebuah
pertikaian antar agama. Yang aku inginkan adalah, kita merdeka dalam memeluk setiap
agama kita. Tidak ada saling memaksakan kehendak dalam beragama. Dengan
berpedoman bahwa semua orang beragama punya hak yang sama dalam menjalankan
agamanya.” Ucap Hendra
Aku tersenyum, sambil mengatakan “Hen! dalam Al Qu’ran, surat Al-Kafirun “Dan aku
tidak pernah menjadi penyembah yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmulah agamamu dan untukkulah
agamaku” jadi dalam Islam sudah diatur tata cara kehidupan beragama. Selama kita
saling menghormati dan saling memberikan toleransi. Maka tidak akan ada permusuhan
bahkan pertikaian antar agama.”
“Benar, apa yang kamu katakana Khalid! Seharusnya seperti itulah orang-orang yang
beragama. Mereka mengurusi agama mereka masing-masing. Dan apabila saling
memberikan bantuan. Seharusnya bantuan itu diberikan dengan keikhlasan. Tanpa ada
maksud yang lainnya selain untuk mendapatkan pahala dari Tuhan.” ucap Hendra.
Aku mengangguk setuju.
“Lid, atas nama agamaku. Aku meminta maaf atas perilaku segelintir orang Kristen yang
menghalalkan segala cara untuk memuaskan kehendak mereka sendiri”
“Iya, Hen! Sama, aku juga meminta maaf mungkin beberapa dari umat Islam yang begitu
agresif dalam mempertahankan agama Islam. Membuat kamu merasa tidak tenang. Tetapi
sebenarnya apa yang dilakukan oleh umat Islam, hanya untuk mempertahankan saja
bukan menyerang. Dan SMS yang kamu terima itu bukan SMS dari umat Islam. Karena
Umat Islam tidak akan melakukan tindakan sehina itu.” Ucapku
Aku jadi teringat pertemuan awalku dengan Hendra. Saat itu Hendra sangat
tersinggung, saat aku katakan bahwa umat Islam diharamkan untuk mengucapkan
selamat kepada agama lain. Termasuk selamat Natal. Hendra saat itu mengatakan “kalau
begitu Islam tidak memberikan sebuah toleransi beragama”. Sungguh inilah yang selalu
diucapkan oleh kalangan orang yang tidak mengerti Islam. Mereka merasa bahwa ucapan
selamat merupakan sebuah hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Mereka
merasa ucapan adalah sekedar penyejuk hati. Atau sebatas kata-kata yang menyenangkan
orang lain. Padahal, dalam Islam. Ucapan itu merupakan sebuah doa. Jadi umat Islam
seharusnya sangat berhati-hati dalam berucap. Apalagi mengucapkan selamat kepada
agama lain. Dengan santai aku menjelaskan. Bahwa sesungguhnya saat umat Islam
mengatakan selamat kepada agama lain. Maka sesungguhnya umat Islam mendukung
adanya agama tersebut. Padahal dalam ajaran Islam tidak ada sebuah agama yang benar
kecuali agama Islam. Jadi sebuah ucapan selamat berarti membenarkan sebuah agama
selain Islam. Dan itu sangat tidak diperkanankan. Dan ucapan selamat sudah merupakan
sebuah akhidah bagi umat Islam. Jadi jika dalam akhidah sudah tidak diperbolehkan.
Maka kita tidak boleh melakukannya. Seperti halnya umat Kristen yang disuruh umat
Islam untuk sholat Jum’at. Secara otomatis umat Kristen tidak akan diperbolehkan.
Karena itu adalah aturan umat Kristen. Begitu pula sebaliknya jika umat Islam tidak
diperbolehkan mengucapkan selamat Natal. Maka seharusnya umat Kristen mengetahui
bahwa itu adalah bagian dari ajaran umat Islam. Dan seharusnya umat Kristen lebih
toleran kepada umat Islam, dengan tidak mengharapkan ucapan selamat yang diucapkan
oleh umat Islam.
Dengan begitu seharusnya umat Kristen jika mengaku toleran kepada agama lain.
Maka selayaknya mereka tidak memancing-mancing mengucapkan selamat kepada umat
Islam saat hari-hari besar agama Islam. Agar tidak menimbulkan rasa dengki yang timbul
oleh umat Kristen dikarenakan umat Islam tidak mengucapkan selamat kepada umat
Kristen. Karena kita harus ingat, bahwa toleransi beragama itu adalah hal-hal yang
bersifat umum atau muamalah. Bukan toleransi yang bersifat abstrak yang menyangkut
akhidah.
Hendra akhirnya mengerti tentang arti toleransi itu sendiri. Bahkan Hendra
berkali-kali mengucapkan, toleransi umat Islam lebih besar ketimbang toleransi
agamanya sendiri. Sudah lima tahun aku bersahabat dengan Hendra. Sehingga aku tahu
sifat seorang sahabatku itu. Meskipun kami berlainan keyakinan. Tapi kami mampu
memberikan sebuah aktulisasi tentang toleran itu sendiri. “Bukanlah itu sebuah toleransi
beragama, jika toleransi itu menginjak-ngijak keyakinan agama lain dan memaksa
menuruti kehendak dari apa yang kita yakini” itulah perkataan Hendra pada saat itu..
Tak lama setelah perbincangan kami. Pandanganku menangkap seorang wanita. Wanita
yang menggelisahkan hatiku. Wanita yang pernah aku lihat berjalan dihadapanku. Aku
benar-benar terpana melihat wanita itu. Benar-benar cantik. Sungguh benar-benar cantik.
Aku tak menyangka semua ilmuku sirna. Sirna dengan memandang wanita cantik
didepan mata ini.
“Lid, Khalid. kamu melamun! Ada apa?” tanya Hendra dengan memegang bahuku.
“Astagfirllah” ucapku lirih. Disertai ucapan “Subhanallah. Ya Allah sungguh
kebesaranmu menciptakan wanita secantik dia” ucapku dalam hati.
Hendra membalikkan badannya kebelakang. Yang pada saat itu duduknya masih
berhadapan padaku. Serta merta Hendra tersenyum. Lalu berucap “Lid, itu Nova.
Temanku di UK3 (Unit Kerohanian Kristen Katolik)”
“Oh.” Aku hanya mengangguk pelan saat itu
Tak lama Nova mendatangi kami berdua. Wanita yang aku kagumi kecantikannya
mendatangiku. Sungguh aku tidak percaya, dia sekarang berada dihadapanku. Tepat
didepanku.
“Hendra, kamu dicari Wiwid tuh!” ucapnya kepada Hendra.
“Oh, dimana dia sekarang?” Tanya Hendra
“Dikantin Fakultas Ekonomi!” ucapnya lirih.

Dewi Aphrodite telah meninggalkanku. Tetapi kecantikannya masih terbayang dalam
rongga pikirku.
“Khalid,” panggil Hendra
“Iya apa Hend!” ucapku
“Cantik, yach?” ucap Hendra
“Siapa?” ucapku berlagak tidak tahu. Meskipun aku tahu yang dimaksud adalah Nova.
“Ah, kamu. Sok! Nova maksudku” ucap Hendra mempertegas
Aku tersenyum, “iya, cantik! Kenapa?” tanyaku balik
“Lid, aku kasihan kepada Nova!”
“Kasihan kenapa?”
“Nova, adalah anak dari Pendeta Joseph”
“Hem! Lalu kenapa?” tanyaku penasaran
“Aku kenal Nova sejak kecil, Lid! Dan rumah Nova berada di sebelah rumahku. Pendeta
Joseph adalah teman Papaku, Lid. Pendeta Joseph sering memukul Nova, jika Nova tidak
mau mengikuti perintah dari Pendeta Joseph. Kamu tahu nggak Lid. Pernah suatu kali
Nova akan dinikahkan sama seorang pengusaha tua kaya yang beragama Islam. Dengan
janji bahwa jika nanti Nova dinikahi, maka Pengusaha itu akan ikut beragama Kristen.
Kamu tahu kan, Lid! Kecantikan Nova memang begitu merona!” ujar Hendra
“Lalu, gimana. Nova jadi nikah dengan pengusah itu?” tanyaku
“Nggak jadi, Lid!”
“Loh, kenapa?”
“Iya, saat itu Nova menolak keras. karena menolak Nova telah dipukul habis-habisan
oleh Pendeta Joseph. Dan keluarganya mengucilkan dia. Nova pernah disekap dalam
kamarnya. Karena kamar Nova berhadapan dengan kamar adikku yang perempuan.
Sehingga aku bisa melihat kondisi Nova pada saat itu. Benar-benar kasihan dia,.
Pakaiannya lusuh, dan dia tidak diberikan makanan apapun. Tapi aku dan adikku sering
melemparkan roti kering dan air kemasan kearah kamarnya. Aku akhirnya mempunyai
inisiatif untuk menyelidiki pengusaha tua tadi. Setelah aku dan teman-teman selidiki.
Ternyata pengusaha tadi mempunyai seorang istri. Setelah kami selidiki, akhirnya kami
tahu kalau sebenarnya kekayaan dari pengusaha itu adalah kekayaan isterinya. Dan saat
itu pun kami memberitahukan kelakuan pengusaha tua itu. Pengusaha tua itu
mengurungkan niatnya untuk memperisteri Nova.” Cerita Hendra dengan serius.
“Hem..!” aku cuma manggut-manggut
“Dan akhirnya, Nova bisa sedikit bernafas lega. Tetapi kayaknya akan ada rencana lain
yang akan dilakukan oleh pendeta Yoseph. Entah itu rencana apa? Aku tak tahu!” ucap
Hendra bingung.
“Hem…! Ya.. sudahlah kita cuma bisa berdoa saja, semoga rencana itu bukan rencana
yang buruk.” Ucapku.
“Sebenarnya, aku juga mau cerita sesuatu kepadamu Lid!”
“Apa, Hend? Masalah tadi? Atau masalah Nova lagi!”
“Ini bukan masalahku yang tadi Lid! Tetapi ini masih ada hubungannya dengan Nova!”
“Apa itu Hen?” tanyaku
“Gini Lid, di UK3 sedang merencanakan program Baksos (Bakti Sosial) ke desa-desa
kumuh. Aku nggak suka dengan program mereka Lid!”
“Loh, kan bagus Hen!” selaku
“Bagus sih bagus. Tapi ada yang janggal dari Baksos itu! Kenapa yang melakukan
Baksos adalah orang-orangnya pendeta Yoseph. Yang aku sesalkan Baksos itu atas nama
dan dana dari kampus. Nah ini kan nggak etis. Seharusnya kalau itu Baksosnya UK3, ya
seharusnya kan mahasiswa-mahasiswi anggota UK3. Bukannya anak buah pendeta
Yoseph. Nah ini yang janggal. Lid. Dan ini sudah dilaksanakan oleh mereka.” Tutur
Hendra serius.
“Oh, jadi seperti itu yach!” ucapku sejenak. Aku jadi teringat cerita bang Jamal dan bang
Dadang kembali. Didesa binaanku juga sedang didatangi orang-orang yang aneh. Aneh
dengan cara pengajaran dan ajarannya. Kalaulah mereka beragama Islam, ajaran mereka
memang mengajarkan Islam. Tetapi paham dari ajaran mereka sangat bertentangan
dengan Islam. Bahkan bisa dikatakan menghina Islam. Aku benar-benar ragu dengan apa
yang diajarkan oleh orang-orang asing itu. Apakah memang mereka benar-benar
mengerti tentang Islam. Ataukah mereka ingin merusak agama Islam. Aku jadi teringat
gadis yang berjilbab itu. Aku jadi teringat wajahnya, wajahnya seperti tak asing lagi
bagiku. Dia seperti?. Oh iya benar. Dia seperti Nova. Benar-benar wajahnya seperti
wajah Maria Nova. Apakah benar dia Maria Nova?. Benar tak salah lagi bagiku. Baik
nanti aku akan minta tolong Deni, si pakar computer itu! Untuk mencocokkan wajah
gadis berjilbab itu dengan Nova gumamku dalam hati.
“Khalid, kamu melamun lagi! Ada apa Lid?”
Bersambung


Komentar anda