Petikan gitar Slash yang membahana dari kamar sebelah membangunkanku
dari tidur panjang. Aku menggeliat malas dan mencoba membuka mataku
yang terasa sangat berat. Pengaruh ekstasi yang kuminum tadi malam
bersama Ardy sudah mulai mengendap. Basi'an, begitu istilah yang
digunakan anak-anak muda terhadap pengaruh pemakaian ekstasi.
Tenggorokanku terasa kering dan panas. Aku mencoba menggapai gelas
yang ada di samping ranjang. Kosong. Tak berisi setetes airpun.
Aku menoleh. Ardy masih tergolek di sampingku. Tadi malam memang ia
mengkonsumsi pil-pil setan itu jauh lebih banyak dariku. Tak heran jika
sekarang ia masih tertidur nyenyak. Perbuatan yang kami lakukan semalam
sangat liar.
Aku berusaha bangkit untuk mengambil sebotol Aqua dari dalam kulkas.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku berhasil menuangkan air putih ke dalam
gelas dan meminumnya. Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi, ingin
mengguyur tubuhku yang terasa panas dan berkeringat.
Untung saja tempat kost yang baru kutempati dua bulan terakhir ini tidak
seketat tempat kostku yang dulu. Rata-rata penghuni rumah mewah
bertingkat tiga ini memang orang-orang mencintai pergaulan bebas dan
pengkonsumsi narkoba seperti diriku. Ditambah lagi pemilik kost tinggal di
Bandung dan jarang mengunjungi tempat ini. Mereka hanya
mempercayakan keamanan kost kepada seorang satpam dan lima orang
pembantu rumah tangga yang mata duitan. Keenam orang hanya ingin
uang kost dibayar tepat waktu, dengan sejumlah tip untuk membungkam
mulut mereka. Mereka tidak peduli para penghuninya mabuk-mabukan,
pesta narkoba atau tinggal bersama. Yang penting bagi mereka adalah
uang karena mereka sendiri bukan orang yang suci. Tersiar kabar bahwa
pembantu-pembantu rumah tangga itu menjalani pekerjaan lain sebagai
pramuria di warung bilyard.
"Vi! Evi! Lagi ngapain kamu di dalam? Mandi ya?" Terdengar suara Ardy
mencariku.
"Iya, Dy! Panas, nih!" Seruku dari dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama yah! Aku mau pipis nih!" Teriaknya.
Aku melengos. Memang setelah pengaruh obat-obatan tidak terasa lagi,
aku sering merasa malas dan muak melihat Ardy. Entah mengapa. Aku
hanya menyukainya jika dalam keadaan fly. Mungkin karena itulah cinta di
antara pemuja obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas sepertiku tak
pernah langgeng.
Ardy sedang duduk mencangkung dengan celana pendek dan kaus oblong
kumalnya ketika aku keluar dari kamar mandi. Asap rokok berbentuk
bulatan-bulatan putih seperti donat menghempus dari hidungnya. Aku
tersenyum terpaksa.
"Vi, basi'an kamu? Langsung mandi gitu!" ujarnya dengan gayanya yang
kurang ajar.
Aku melengos. Aku memang tidak menganggap Ardy istimewa. Ia sama
bejatnya seperti Roy, Glen, Harry, Rudy, bahkan Aryo yang telah merenggut
keperawananku dan pergi begitu saja meninggalkanku. Mereka semua
adalah pemuda-pemuda berandalan yang bisanya hanya berhubungan
intim dan mengkonsumsi narkoba. tak lebih.
"Sok tau banget kamu! Kamu sendiri juga kegerahan, kan ?!" Tukasku tak
suka. "Oh ya, kamu mau ke kampus nga siang ini? Daftar ulang , lho! Aku
mau ke kampus, ah!"
Sebenarnya aku tak berniat ke kampus. Tapi karena ingin mengusir Ardy
yang sudah dua hari menginap di sini. Aku tepaksa melakukan hal itu. Aku
tau, Ardy sangat menghindari kampus. Mungkin semester ini pun ia sudah di-
DO.
"Masih mikirin kampus juga , Vi?" Ardy tersenyum sinis. "Aku males, ah! Lagian
buat apa belajar susah-susah? Toh kita masih bisa beli inex sama PT, kok!
Nanti aja deh, kalo aku udah insyaf baru ke kampus. Aku mau ke rumah Tony
aja!"
Ardy bangkit dan mengganti celana pendeknya dengan jeans bolongbolong
kesayangannya.
Aku pun sibuk berdandan dan merapihkan berkas-berkas pendaftaran
ulang, berpura-pura ingin pergi ke kampus. Padahal sehabis ini aku aku akan
pergi ke kost Firna. Kemarin sahabatku itu mengajak shopping di Plaza
Senayan. Daripada suntuk di kamar terus, lebih baik mencari udara segar.
Siapa tau ada cowok keren yang bisa kugaet! Aku sudah bosan dengan
Ardy yang sudah dua bulan menjadi pengawal setiaku. Meskipun
tampangnya lumayan keren, badannya sama sekali tidak bagus. Kurus
kerempeng seperti tiang listrik. Maklumlah pecandu narkoba! Mana bisa ia
memiliki tubuh berotot seperti Ade Rai.
"Eh, Vi...."kata Ardy di depan pintu.
"Apa?!"
"Eh, jangan galak-galang dong! gini lho.... eng....bagi duit dong, Vi. Biasa..."
Ardy memamerkan nyengir kudanya. "Buat beli cimeng."
"Ah, buat beli cimeng aja make minta sama aku!" Tukasku merogoh dompet
dan melemparkan dua lembar lima puluh ribuan.
"Udah sana cabut! Eneg melihat tampangmu di sini!" Ardy tertawa senang
dan melambaikan tangannya.
Pertengahan Oktober 1998
Aku memegang perutku sambil tertatih-tatih menuju kamar mandi. Perutku
terasa sangat mual. Di kelas tadi, pandanganku tiba-tiba kabur dan aku
merasa ingin pingsan. Setelah pamit pada Pak Suryadi, dosen killer pengajar
manajemen pemasaran, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Di kamar mandi,
kumuntahkan semua isi perutku. Kepalaku berdenyut-denyut seperti
dihantam oleh tongkat yang sangat besar. Perutku terasa keras dan nafasku
sesak. Aku mencoba bangkit. Ini pasti pengaruh putaw yang kukonsumsi
bersama Firna dan teman-teman beberapa hari ini. Aku memang belum
terbiasa menggunakan barang yang satu itu. Mungkin seperti inilah
reaksinya, kataku dalam hati. Mual dan pusing.
Cepat-cepat kukeluarkan lipstik dan bedak dari tas mungilku. Aku harus
berdandan untuk menutupi pucat pasi wajahku. Ketika hendak
mengembalikan pearalatan kecantikan itu ke tempat semulanya,
pandanganku bersirobok dengan bungkusan panty shield. Aku terpana.
Otakku mulai berpikir cepat. Terakhir kali aku mendapat haid kira-kira satu
setengah bulan yang lalu. Ah, sudah lama sekali? Apa.....aku sedang
mengandung?!
Dengan panik, aku segera melarikan mobilku menuju apotik terdekat.
Tanganku bergetar memegang test kehamilan pribadi bersampul biru. Aku
segera pulang ke kost yang hanya sepuluh menit dari kampus, dan
mencoba alat yang mengerikan itu. Selama menunggu hasilnya, aku
mondar-mandir tak karuan di dalam kamar. Jantungku berdegup kencang
sekali. Oh Tuhan, aku tidak ingin hamil! Jeritku dalam hati.
Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Tertera dua garis merah di benda
putih yang pipih dan panjang itu. Aku berteriak tak percaya. Kubanting kuatkuat
alat pengecek kehamilan dan gelas aqua bekas kugunakan untuk
menampung urine. Tidak! Oh.....aku tidak mau mengandung! Aku tidak mau
punya anak!
Aku menghenyakkan tubuhku ke atas ranjang. Berteriak-teriak seperti orang
gila. Ku jambakjambak
rambutku yang panjang sampai kulit kepalaku seperti mau lepas.
kutinju dinding kamar berkali-kali. Yang ada hanya kesakitan. Tapi tidak
melenyapkan jabang bayi di dalam rahimku.
Mengapa aku sedemikian bodoh? Aku lupa memakai alat kontrasepsi ketika
berhubungan dengan si brengsek Ardy! Padahal biasanya aku tak pernah
lupa. Mungkin karena pengaruh ekstasi yang memabukkan, membuatku
lupa akan kebiasaanku untuk mencegah kehamilan. Tapi nasi udah menjadi
bubur. Aku memang mengandung. Dan cara terbaik yang harus kulakukan
sekarang adalah menggugurkan kandunganku? Aku tidak ingin
membesarkan anak di luar nikah. Tidak mungkin aku menuntut
pertanggungjawaban Ardy. Pasti ia akan mengelak dan menuduh bayi ini
hasil hubunganku dengan orang lain. Lagipula aku tidak siap menikah
dengan pemuda bajingan itu dan membesarkan anakku dengannya.
Menjadi orang tua tunggal pun aku tak siap.
Apa yang akan terjadi jika aku nekad mempertahankan janin ini?! Papa
yang kejam dan bengis akan mengusirku. Beliau tidak memukulku dan
menamparku seperti dulu kalau aku pulang sekolah lewat waktu atau aku
kedapatan bergaul akrab dengan pria. Papa yang sok ningrat dan berdarah
dingin itu pasti akan mencincang tubuhku! Dan beliau pasti tidak akan
mengakuiku sebagai anaknya lagi. Padahal aku sangat membutuhkan harta
dan warisannya. Aku adalah anak sulungnya dan aku harus mewarisi
kekayaannya yang berlimpah ruah.
Cepat-cepat kuraih handphone dari dalam tas dan menghubungi Firna. Ia
pasti tau cara mengeyahkan janin ini karena beberapa bulan lalu ia pun
pernah melakukan yang sama.
Akhir oktober 1998
Berkat pertolongan Firna, aku berhasil menemui seorang dokter ahli
kandungan yang bernaung di balik klinik megahnya di pusat Jakarta untuk
mengadakan aborsi terhadap bayi-bayi malang dari wanita-wanita muda
yang tidak siap memiliki anak sepertiku. Ketika sedang di-USG, aku sempat
melihat bulatan kecil berwaran putih di layar monitor. Itu adalah janinku!
"Tuh, lihat.....sudah agak besar kan, anakmu, Evi?” Ujar dokter itu. "Sudah
siapkah kamu menggugurkan janin yang lucu ini? Kelak dia akan menjadi
anak yang sehat. Apa kamu tidak menyesal nantinya?"
"Nggak, Dok! saya ngak akan nyesal, kok!" Tukasku sekeras batu. Kulirik Firna
yang cepat-cepat mengalihkan pandangan dariku. Aku tidak akan
mempertahankan bayi ini. Aku tidak sanggup melihatnya menghancurkan
masa depanku!
"Ok, deh....kalo gitu! Siap-siap aja di ruangan sebelah, ya! Pembayarannya
tolong di urus di kasir.” Kata Dokter itu tersenyum. Aku melengos. Sok
moralitas kau Dokter! Padahal dalam hati kau bersorak kegirangan
membayangkan dua juta rupiah lagi masuk ke kantongmu!
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Tidak seperti yang pernah kubaca di korankoran,
proses pengguguran kandungan ini tidaklah mengerikan. Mungkin
karena aku di bius sehingga aku tidak merasakan apa-apa. Sehabis itu sudah
boleh pulang dan aku merasa sangat lega karena akhirnya si pengganggu
itu tidak ada lagi dalam rahimku.
Pertengahan Januari 1999
“Evi! Evi! kenapa kamu, Nak? Pa! Pa! Aduh, bagaimana ini? Evi! Evi kenapa,
Pa?!”
Sayup-sayup aku mendengar suara Mama. Aku berusaha membuka mataku
lebar-lebar. Tapi tidak dapat memperjelas penglihatanku. Hanya bayangbayang
sosok Mama dan Papa mendekatiku dan menguncang-guncang
tubuhku. Tak lama kemudian, aku segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat.
Tubuhku terasa ringan seperti kapas. Efek beberapa butir valium yang
kutenggak bersama sekaleng bir memang membuatku seperti hilang
ingatan. Sejak beberapa hari aku mulai bosan dan akhirnya mencoba
bereksperimen dengan mencampurkan minuman keras dan obat-obat
terlarang itu. Aku tidak tahu akibatnya akan seperti ini. Kedatangan Papa
dan Mama yang mendadak ke Jakarta pun tak kuhiraukan lagi. Aku seperti
ingin mati saja.
Awal Februari 1999
Aku mengikuti Papa dan Mama ke sebuah kamar putih yang bersih di ujung
gang. Anganku masih melayang-layang dan tubuhku terasa sakit karena aku
belum benar-benar bebas dari narkoba. Mungkin karena itulah Papa dan
Mama membawaku ke tempat terpencil ini. Sebuah pesantren yang memiliki
divisi rehabilitasi ketergantungan narkoba.
Setelah bercakap-cakap sebentar dengan seorang wanita yang berjilbab
putih, Papa dan Mama meninggalkanku. Aku tak peduli pada mereka. Yang
kuinginkan saat ini adalah putaw, cimeng, dan valium!
"Oh....oh, tolong! Tolong! Tolong! Mana PT? Mana PT? Aku butuh PT! Ohhh!"
Aku menjerit-jerit kesakitan. Sakaw, itulah keadaanku saat ini. Tubuhku terasa
sakit dan luluh lantak. Tulangku ngilu. Perutku mual dan lendir tak hentihentinya
mengalir dari hidungku. Aku berteriak-teriak sampai wanita berjilbab
tadi dan empat orang lainya datang. Mereka menyeretku ke kamar mandi.
Sambil melafazkan dzikir, mereka menyiram sekujur tubuhku. Aku mengerang.
Pagi-pagi buta seperti ini aku diguyur air dingin!
"Tolong! Aku mau pergi dari sini! Lepaskan aku! Tolong! Tolong! Tolong!" Aku
memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita-wanita
itu. Tapi mereka seperti pantang menyerah. Setelah selesai memandikanku,
mereka mengganti bajuku dan dengan tetap berdzikir mereka
menidurkanku. Aku masih berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya sepanjang
malam aku menjerit-jerit tanpa ada yang menolong.
Pertengahan Oktober 1999
Aku sudah tidak menjerit-jerit lagi. Tubuhku sudah sehat menurut pemeriksaan
dan laporan dari pembimbingku, aku sudah terlepas dari narkoba. Khasiat
jamu ramuan dari pesantren, mandi dini hari diiringi dzikir dan doa,
berendam di kolam yang tertutup dan air rebusan jahe yang diteteskan ke
kedua bola mataku ternyata cukup ampuh menyembuhkan sakaw-ku. Kini
aku sudah dapat mengikuti rutinitas pesantren dan bergaul dengan temantemanku
yang lain. Aku pun sudah mengenakan jilbab! Ya, aku sudah
berjilbab seperti Ustadzah Maryam, Ustadzah Ayu, Wina, Shanti, Elvira, Saras,
Dewi, dan muslimah-muslimah lainnya di pesantren ini. Dan aku memakainya
bukan karena peraturan di sini mengharuskan wanita berjilbab, tapi karena
hidayah dari Allah.
Meskipun bagi orang luar kegiatan pesantren ini membosankan, tapi bagiku
di sinilah surgaku. Aktivias sholat berjamaah, tadarus Qur'an, mengikuti kajian,
berdzikir, salat malam, kerja bakti membersihkan pondok dan sekitarnya,
membuatku lupa akan kesenanganku dulu. Aku bahkan telah meminta izin
kepada orang tuaku dan para pembimbingku untuk tinggal di sini dalam
waktu yang cukup lama agar bisa mengabdikan diri. Aku ingin menolong
orang lain yang pernah mengalami nasib yang sama seperti diriku dulu. Aku
ingin membantu menyembuhkan dan mengembalikan kepercayaan diri
mereka. Alhamdulillah niat baiku ini disambut dengan gembira oleh para
pembimbing dan pengurus pondok pesantren. Bahkan kabarnya Ustadz Fikry
yang menjadi ketua yayasan sekaligus anak pendiri pondok dan kepala
pembimbing menyetujui dan mendukung niatku. Ia pun mengusulkan agar
aku menjadi guru dan pembimbing di panti asuhan "Nurul Iman" milik
yayasan yang letaknya tak jauh dari pondok ini.
Pertengahan Mei 2000
Sore hari yang cerah usai memberikan pelajaran bahasa inggris kepada
anak-anak panti asuhan. Ustadzah Salma memanggilku. Pengurus "Nurul
Iman" itu mengatakan bahwa besok ada seorang ikhwan yang ingin
berta'auf denganku dan kalau memang kami berjodoh, ia akan segera
melamarku untuk menjadi istrinya.
Subhanallah! Betapa terkejutnya aku mendengar kabar itu. Rasanya tak
mungkin ikhwan yang sedemikian alim dan istiqamah seperti yang
diceritakan Ustadzah Salma mau meminangku. Rasanya sudah lama aku
mengubur impian menjadi istri dan ibu yang baik mengingat masa laluku
yang sangat suram.
"Allah selalu memaafkan umat-nya yang pernah melakukan kesalahan,
Evi."Ucap Ustadzah Salma dengan lembut ketika aku menyampaikan
kekhawatiranku. "Jika seseorang telah bertobat. Lagipula kita ini manusia
biasa, bukan Tuhan atau Malaikat. Setiap orang pasti pernah berbuat
kesalahan, entah besar atau kecil. Allah akan memaafkan dan memberikan
karunia kepada kita yang sudah kembali Fitrah-Nya. Jangan pesimis, Evi.
Jangan pernah terbelenggu oleh masa lalu. Ambilah hikmah dari masa
lalumu, dan buang yang buruk!"
"Tapi.....apakah ikhwan itu telah mengetahui latar belakang hidup saya,
Ustadzah? tanyaku lagi.
"Apakah... ia benar-benar mau menerima saya yang sudah pernah berzina
dan mengkonsumsi obat-obat terlarang?"
"Tidak ada yang tidak ia ketahui tentang kau, Evi," sahut Ustadzah Salma
sambil mengusap jilbabku.
"Dan ia siap menerimamu apa adanya. Percayalah, ia sangat jujur dan baik
hati."
Aku mengangguk haru. Hatiku mulai tenang. Dan ketika acara ta'aruf tiba,
aku tidak lagi diliputi keraguan seperti sebelumnya. Aku mulai mantap dan
berdoa kalau memang Allah telah mengizinkanku untuk menggenapkan
setengah dienku, aku telah siap. Tak disangka ikhwan yang datang
melamarku adalah Ustadz Fikry! Setelah melaksanakan salat istikharah
beberapa malam, kami pun memutuskan untuk segera menikah.
Akhir Mei 2001
Pagi ini, aku sedang melayani suamiku sarapan pagi. Seperti biasa, tepat
pukul delapan pagi setelah sarapan dan salat dhuha, Bang Fikri kembali
dengan rutinitas di pondok pesantren. Sedangkan aku bersiap-siap untuk
mengajar panti. Entah mengapa, ketika aku sedang mengoleskan selai
coklat ke atas setangkup roti tawar di atas piring Bang Fikri, kram yang
sangat dahsyat terasa di daerah pinggul dan di bawah perutku. Aku
berteriak kesakitan sampai roti ditanganku terlempar.
"Evi....Evi! Ada apa, Vi! Evi!?" Bang Fikri meraih tubuhku yang terjatuh di lantai.
Ia menepuk-nepuk pipiku tapi aku tak mampu bergerak lagi. Rasa sakit yang
tak tertahankan membuatku tidak mampu berbuat apa-apa.
Dokter yayasan yang datang memeriksaku menyarankan agar aku segera di
bawa ke rumah sakit Ibu dan Anak terkenal di Jakarta. Menurutnya,
penyakitku sangat parah dan berkaitan dengan organ reproduksiku.
Memang sejak pengguguran kandungan beberapa tahun lalu, jadwal
haidku tidak teratur. Pernah aku lima bulan tidak mendapat haid. Tapi sekali
menstruasi, darah kental bercampur onggokan-onggokan daging seperti
hati ayam keluar dari vaginaku. Kupikir hal itu biasa aja dan aku enggan
memeriksakan kandunganku ke dokter karena takut suamiku akan
mengetahui rahasia pengguguran kandungan yang kupendam selama ini.
Aku memang belum pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun kecuali
Firna.
Setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit dan melakukan beberapa
tes mulai mulai USG vagina, observasi, tes kimia darah, hormon, dan urine;
dokter spesialis kendungan menyatakan aku mengidap kanker leher rahim
atau kanker cerviks! Astagfirullah, betapa beratnya ujian yang harus ku lewati
ini, Ya Allah! inilah akibat kesalahan terbesar dalam hidupku yang pernah
kubuat!
Aku tahu, Bang Fikri sangat terpukul dengan kejadian yang menimpaku ini
aku juga sempat menangis berhari-hari tapi tetap saja tidak ada yang dapat
kulakukan kecuali memasrahkan diri kepada Allah. Dan meskipun sangat
berat, kami berdua berusaha tetap tabah dan tawakal, tidak mau
menyalahkan Allah atas keputusan yang ia buat. Apapun yang terjadi, kami
telah siap dan inilah yang terbaik bagi kami. Akhirnya kami mengikuti saran
dokter untuk mengangkat rahimku agar kanker tidak menjalar ke bagian
tubuhku yang lain. Aku tahu, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk
punya anak lagi, setelah janin yang dengan......kubunuh dulu.
Pertengahan Agustus 2001
Aku terbangun dan mendapati diriku sedang berada di ruangan putih yang
bersih dan sangat terang. Tubuhku kurus kering. Mengenakan gamis dan
jilbab putih. Ranjang yang kutiduri seperti berada di atas asap yang mirip
segumpalan awan di langit. Aku ingin berteriak menanyakan keberadaanku.
Tapi tenggorokanku tercekat, tak sanggup mengeluarkan suara apapun.
“Assalamualaikum, Ibu.” Seorang gadis kecil yang cantik dan berpita putih
menghampiriku. Ia meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak.
“Waalaikumsalam, Nak. Maaf, kau siapa? Aku tidak mengenalmu,” kataku
heran. Gadis kecil itu tersenyum.
“Ibu, Ibu memang belum pernah mengenalku. Aku bidadari kecilmu. Bu.
Bidadari yang kau lenyapkan tiga tahun yang lau,” sahut si gadis. Matanya
yang bulat dan besar menatapku.
“Bidadari kecilku? Maksudmu kau janin yang kugugurkan itu?!”
“Ya benar. Sekarang Ibu bisa melihat dan menyentuhku. Aku masih ada, Bu.
Aku belum mati. Aku masih hidup . di surga.”
“Apakah ini surga? Apakah aku sudah mati?”
“Tidak, Ibu belum mati. Akupun belum mati meskipun aku kau bunuh lewat
tangan dokter yang keji itu. Aku masih ada di sini dan mengawasimu dari
atas.”
Aku terpana. Wajah bidadari kecil itu begitu dekat. Aku menyentuh pipinya
yang halus kemerahan. Ia tersenyum senang. Senyum kanak-kanaknya yang
tulus dan memancarkan keluguan itu menyentuh hatiku. Ya, Allah, betapa
teganya aku menghilangkan nyawnya untuk kepentinganku sendiri! Padahal
ia tidak bersalah! Ia adalah anak yang suci dan bersih, tidak seperti
pasangan biologis berlumur dosa yang membentuknya seperti ini. Sekarang
aku sudah tidak bisa mengandung dan memiliki keturunan lagi. Ia adalah
keturunanku pertama dan terakhir!
“Oh bidadari kecilku!” Isakku dan meraih tubuhnya ke pelukanku. “Maafkan
Ibu, Nak! Dulu Ibu khilaf, Ibu banyak dosa! Betapa teganya dulu Ibu
memusnahkanmu! Maafkan Ibu, Nak! Sekarang semuanya sudah Ibu tebus.”
“Tidak, Ibu bukan aku yang bisa memaafkan kesalahan ibu. Allah tidak ingin
melihat Ibu menderita lagi. Allah akan memberikan kebahagiaan abadi buat
Ibu,” ucap bidadari kecilku. Ia mengusap pipiku lembut, kemudian
melangkah meninggalkanku.
Aku berteriak memanggilnya tapi ia tetap berjalan ke balik cahaya.
Bersamaan dengan menghilangnya bidadari kecil itu, aku mendengar
samar-samar suara ramai di sekelilingku.
“Subhanallah! Evi membuka matanya! Papa Mama Avi sudah sadar!”
Aku mengerjapkan mataku. Dengan pandangan yang masih agak kabur,
aku melihat Bang Fikry duduk di samping ranjang sambil menggenggam
tanganku. Tasbih terjuntai di tangan satunya lagi. Papa, Mama, adik-adikku,
ustadzah Salma, ustadzah Maryam, mengelilingi tempat tidurku. Aku tak
dapat bergerak karena tubuhku terasa sakit dengan selang-selang yang
seperti membelengguku.
“Evie, kau sudah tiga hari koma. Alhamdulillah sudah sadar,” bisik bang Fikry.
Sadar? Aku masih di dunia! Tidak, aku harus pergi! Tugasku di sini sudah
selesai! Aku tidak boleh berada di sini!
Kutatap Bang Fikry lekat-lekat. Ia tersenyum manis. Aku mencoba tersenyum
kepadanya dan kepada orang-orang di sekelilingku. Lalu dengan tenaga
yang ada, kuucapkan Laailaahaillallah berkali-kali. Bang Fikry seperti tahu
maksudku. Dengan penuh ketabahan, ia menuntunku melafalkan
kalimatullah. Yang lain hanya menatap kami sambil terisak. Tidak sampai
sepuluh menit, terdengar suara tersedak dari tenggorokanku.
Kupersembahkan senyumku yang terakhir kepada orang-orang yang setia
menungguiku. Tubuhku terasa ringan ketika dijemput Malaikat Izrail. Aku telah
siap menjalani kehidupan yang abadi di sisi Allah dan bertemu dengan
bidadari kecilku lagi. [Majalah Annida Edisi 10/XI]
Sunday, May 6, 2012
Bidadari untuk Ikhwan Part #5
“Akh,
biar sholat antum lebih semangat lagi, jadi biar saja nasyid ini berkumandang
keras”
ucap Yanto yang tetap mengangkat tangan sambil mengepalkannya.
“Akh,
ternyata antum perlu diruqyah kalau gitu! Jangan-jangan ada jin
bersamayam
ditubuh
antum” gumamku kesal
“Hehe…
afwan akh, tadi kan cuman bercanda!” jawab Yanto dengan mengecilkan suara
tape.
Aku
menggelar sajadah, bersiap untuk menghadap sang khalik. Menghadap sang maha
pemaaf.
Menghadap sang Maha dari segalah maha yang ada di alam semesta ini.
***
Cuaca
diluar sangat cerah, terasa mentari tersenyum dengan sinarnya. Panasnya
tidak
terik, tetapi tidak pula mendung. Udara tidak panas, dan pula tidak dingin.
Cuaca
benar-benar
sangat bersahabat. Terbukti, banyak sekali hilir mudik orang-orang yang
lewat
kontrakanku, terlihat wajah-wajah yang segar. Wajah-wajah yang siap menghadapi
hari
yang lebih baik. Insya Allah.
“Akh,
antum kok nggak siap-siap? Apa nggak ada kuliah!” tanya Heri
“Ana
ada bimbingan jam sembilan! Jadi sekarang bisa nyantai-nyantai dulu” ucapku
“Wah
yang lagi mau kelar kuliahnya, udah bersiap-siap nggak akh?” tanya Heri, sambil
menyeruput
teh hangatku.
“Emang,
maksud antum apa akh? Bersiap-siap untuk apa?” jawabku
“Iya,
berusaha bersiap-siap untuk melanjutkan sunnah Rasulullah! Menyempurnakan
agama
kita”
“Sunnah
Rasulullah! Yang mana?” tanyaku heran
“Akh,
antum kayak nggak tahu aja! Itu loh akh, sekretaris antum dulu, perlu
diselamatkan!”
ucap Heri serius
“Ha..?
maksud antum apa sich, akh?” tanyaku penasaran
“Antum,
harus menyelamatkan ukhti Farah dari fitnah dunia. Juga dari orang-orang jahil
yang
ingin menjahilinya! Jadi antum harus cepat menyelamatkan ukthi Farah! Nikahi
ukhti
Farah” jawab Heri sambil tertawa.
Dengan
tersenyum aku menjawab “Antum itu ada-ada aja! Kenapa bukan antum saja
yang
menyelamatkannya!”
Heri
tertawa sambil mengatakan “Akh, kalau ana sich gampang! Tapi ana
mempersilahkan
senior dulu. Dan lagi, Ukhti Farah kan termasuk jajaran-jajaran bidadari
Allah
yang bisa dibilang sempurna! Apa antum nggak tertarik dengan Ukhti Farah?”
“Akh,
udah nggak usah seperti itu! Ukhti Farah itu wanita yang paling sempurna.
Makanya
ana takut mendekati wanita-wanita sempurna, seperti akhwat yang satu itu”
jawabku
sekenanya
“Antum,
takut apa minder! Udah, ana berangkat dulu. Ana takut terlambat.
Assalamu’alaikum”
jawab Heri sambil tertawa, sambil ngeloyor pergi
“Walaikumsalam”
jawabku sambil tersenyum
Ukhti
Farah, akhwat yang bisa dibilang sempurna. Semua terdapat pada
keagungan
wanita, berada padanya. Aku tidak melihat kecantikan wajahnya, sebelum aku
melihat
kelembutan hatinya. Aku memang belum pernah melihat wajah ukhti Farah, aku
hanya
mendengar keagungan kecantikannya dari teman-teman kuliahku. Teman-teman
yang
masih meninggikan kecantikan wajah, teman-teman yang masih belum tertarbiyah.
Tetapi
saat dia menjadi sekretarisku pun, aku masih belum tahu kecantikan wajahnya.
Yang
aku tahu, sungguh benar-benar kecantikan yang sempurna saat aku mengetahui
sikap
dia. Dan mulai dari situlah aku benar-benar tidak membutuhkan lagi kecantikan
wajahnya,
aku tidak butuh lagi mengetahui wajah cantiknya. Aku tidak butuh lagi
kecantikan
pada jasadnya. Yang aku butuhkan, adalah kecantikan seorang wanita pada
dalam
dirinya, pada tanggung jawabnya sebagai wanita. Yaitu wanita yang mempelihara
aurat-auratnya
atas fitnah dunia.
Banyak
akhwat yang aku kenal, tetapi memang tidak sesempurna ukhti Farah.
Dulu
saat aku masih senang dengan cara jahilia, yaitu mengetest akhwat. Banyak
akhwat
yang
sering aku telphone. Dan banyak juga, akhwat yang dengan nada santai tetapi
benar-benar
menghanyutkan. Bicaranya santun, tetapi topik pembicaraannya tidak pantas
untuk
dibicarakan oleh seorang akhwat apalagi kader dakwah. Ada lagi seorang akhwat
yang
tergesa-gesa menjelaskan sesuatu masalah, lebih-lebih lagi si akhwat
memposisikan
dirinya
sebagai orang yang paling tahu dan paling beriman. Ada juga akhwat yang
menjelaskan
agama Islam, tetapi si akhwat menjelaskannya layaknya seorang marketing.
Sungguh
memang benar-benar lucu. Dan kadang pula menjengkelkan dengan para
akhwat
yang sok suci dan sok yang paling tahu itu. Tetapi itu dulu. Saat terakhir aku
menelephone
ukhti Farah. Selesailah sudah perjalanan mengetest kemampuan para
akhwat.
Dengan nada bicara yang santun, topik yang bagus dan bisa memposisikan
dirinya
sebagai seorang yang sama dengan lawan bicaranya. Setelah itu, sebuah nasehat
yang
bagus dari ukhti Farah
“Afwan,
akh! Ana merasa, antum bukanlah ikhwan yang belum tertarbiyah. Ana takut
antum
adalah ikhwan yang senangnya mengetest akhwat. Ana cuma mau berpesan
kepada
antum, sebaik-baik muslim itu adalah seorang yang bisa menghormati muslim
satu
dengan muslim yang lainnya. Dan bukan saling mengetest kemampuan
kepintarannya!”
Saat
itulah, akhirnya aku benar-benar paham. Bahwa sesungguhnya, sakitlah hati
seseorang
manakala seseorang itu merasa dikerjain oleh saudaranya sendiri. Akhirnya,
aku
tidak pernah lagi mempunyai keinginan untuk mengetahui tingkat kemampuan
saudaraku
sendiri. Biarlah tingkat kemampuan dalam kepintarannya yang akan
membimbing
dia menjadi seorang muslim yang sejati. Seorang muslim sejati tidak akan
memposisikan
dia sebagai orang yang paling pintar dan beriman, seorang muslim sejati
tidak
akan tergesa-gesa dalam menjelaskan sesuatu hal, seorang muslim sejati tidak
akan
memberi
sebuah penjelasan layaknya seorang marketing produk. Karena Islam adalah
agama
perbuatan, maka perbuatanlah yang akan mencontohkan muslim yang baik atau
muslim
yang buruk.
Sejak
saat itu aku memang benar-benar tertarik dengan ukhti Farah, bukan tertarik
karena
wajahrnya. Tapi aku tertarik dengan keteduhan bahasa bicaranya, keteduhan yang
mungkin
membuat manusia benar-benar ingat akan adanya siksa neraka. Sungguh benarbenar
wanita
yang sempurna. Tapi aku sadar bahwa aku bukanlah ikhwan yang pantas
untuk
dia. Untuk wanita sesempurna ukhti Farah.
***
“Gimana
Lid, dosen pembimbing kamu! Enak nggak?” sapa Hendra, teman kuliahku dari
belakang
sambil menepuk pundakku. Saat sedang berjalan menuju fakultasku.
“Eh,
kamu Hen! Tak kira siapa” jawabku sambil tersenyum
Dia
tersenyum lalu berkata “Hem, dosen pembimbingku, nggak enak Lid! Masa aku
kalau
mau ketemu harus janjian dulu. Dan nggak pernah ada di ruang dosen”
“Hem
emang siapa, dosen pembimbing kamu Hen?” tanyaku sambil berjalan.
“Itu,
Pak Hartono!” jawab Hendra
“Hem,
pantes Hen! Pak Hartono kan super sibuk. Tapi enak loh Hen, Pak Hartono kan
orangnya
sabar banget!” terangku
“Iya
sich, tapi kalau gini terus aku nggak akan tepat waktu mengerjakan skripsiku”
keluh
Hendra
dengan wajah terlihat pasrah.
“Ya,
nggak gitu Hen. Kalau kamu janji dulu sama beliau, kan beliau nanti bisa
menyesuaikan
jadwalnya” sergahku sambil tersenyum
“Hem,”
Hendra manggut-manggut. “oh yach, dosen pembimbingmu siapa Lid?”
“Dosen
pembimbingku, Pak Susilo!” jawabku sambil tersenyum
“Ha..
Pak Susilo! Yang bener kamu Lid?” Hendra memandangku tak percaya
“Iya.
Pak Susilo! Kenapa?”
“Jadi
kamu, satu-satunya mahasiswa yang dosen pembimbingnya Pak Susilo!” Hendra
masih
terlihat tidak percaya.
Aku
tersenyum sambil menjawab “iya..!”
“Ha…!
Kamu mau dibimbing si Prof killer itu? Apa kamu dulu nggak milih
pembimbing?”
“Aku
memang milih Prof. Susilo Nugroho! Kasihan beliau nggak ada yang milih”
gumamku
sambil tersenyum.
“Kamu
gila, atau gimana sich Lid? Milih kok yang killer kaya dia” ucap Hendra sambil
menggeleng-gelengkan
kepala.
“Sebenarnya
sich, aku milih Pak Susilo karena dia kan guru besar di fakultas kita!
Apalagi
dia kan juga guru besar di Universitas ini. Jadi aku beruntung Pak Susilo mau
menjadi
pembimbingku” kilahku sembari tersenyum banggga.
“Sekarang
kamu ada keperluan apa kekampus? Apa ikut SP (Semester Pendek)?” tanya
Hendra
“Hem
sorry kalau Khalid ikut SP! Aku kan mau ketemu sama dosen pembimbing yang
baik
hati” jawabku sambil tersenyum.
“Ok
deh, met ketemu sama Prof killer itu! Lid aku mau ke kantin dulu yach.” Ucap
Hendra
sambil menepuk pundakku.
“Ok.”
Kantor
dosen sudah terlihat didepan mata, tinggal beberapa langkah aku sudah
masuk
dikantor yang dipenuhi pembimbing-pembimbing intelektual.
“Permisi,
mbak! Pak Susilo sudah datang belum?” sapaku pada mbak Dina, pengurus
secretariat.
“Ada,
Lid. Masuk aja! Pak Susilo di mejanya” jawab mbak Dina.
“Terima
kasih, mbak!”
Aku
langsung menuju mejanya Pak Susilo. Benar Pak Susilo sudah berada di
mejanya,
sedang mengerjakan sesuatu. Hatiku berdegup tak beraturan. Ini pertama
kalinya
aku berhadapan langsung dengan Pak Susilo.
“Selamat
siang, Pak!” sapaku
Dia
menatap dingin padaku sembari menjawab sapaanku “Siang!” selanjutnya bertanya
dengan
tatapan yang dingin “Ada perlu apa?”
Jantungku
saat itu benar-benar berdegup kencang, layaknya seorang ikhwan yang
sedang
ditawari Murrabi untuk menikah. Bertemu dengan pakar hukum yang satu
ini,
membuatku
merasa sangat canggung. Bagaimana tidak canggung, Pak Susilo merupakan
tetua
dari para dosen hukum difakultasku. Dan beliau merupakan dosen yang tidak
diragukan
kemampuannya. Selain kemampuannya, yang membuat dia benar-benar
disegani
oleh semua mahasiswa dan dosen difakultasku, adalah ketegesannya dalam hal
apapun.
Termasuk masalah nilai. Pak Susilo tidak dapat diganggu gugat masalah nilai. Di
fakultasku
banyak sekali dosen yang mudah merubah nilai, entah karena apa mereka
dapat
merubah nilai. Tapi untuk Pak Susilo, sebuah nilai ujian tidak dapat diganggu
gugat,
dan tidak dapat dirubah. Aku benar-benar senang dengan prinsip dosen yang satu
ini.
Karena, meskipun aku jarang sekali mengikuti perkuliahan beliau. Tetapi aku
tetap
bisa
mengerjakan ujian-ujian yang diberikan oleh beliau. Dan nilaiku bisa dikatakan
sangat
memuaskan. Karena saat itu memang aku sangat sibuk dalam organisasi, sehingga
jarang
sekali aku masuk kuliah. Tetapi aku tetap mempelajari semua mata kuliah.
Sehingga
aku tidak ketinggalan dengan mahasiswa yang lainnya.
“Saya
Khalid, Pak! ” jawabku tenang
“Hem
jadi kamu, mahasiswa yang sok pintar itu yach!” ucap pak Susilo sinis.
Aku
hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecut. Jantung ini semakin berdegup
kencang.
Apalagi kata-kata Professor killer ini benar-benar menyakitkan.
“Khalid,
mahasiswa yang sukanya menuntut. Mahasiswa yang sukanya demonstrasi.
Mahasiswa
yang sukanya manantang para dosen. Apalagi sok idealis!” pak Susilo berkata
tanpa
melihatku, sambil merapikan beberapa berkas-berkasnya.
Darah
muda mulia memuncak. Ucapan sang Professor sudah tidak dapat didiamkan.
Keras
sekali penghinaannya padaku. Saat aku akan mengucapkan sesuatu, pak Susilo
berdiri
sambil menghadapku. Dengan nada mengejek “baik, kalau kamu ingin saya
menjadi
dosen pembimbing kamu! Saya ingin sekarang juga, memberikan soal kuis
kepada
kamu. Jika seandainya jawaban kamu tujuh puluh persen banar, maka saya
bersedia.
Tetapi jika kurang dari itu, maka saya akan bilang ke dosen-dosen yang lain
untuk
tidak menerima seorang mahasiswa yang hanya suka omong besar!”
Aku
benar-benar tertantang dengan ucapan pak Susilo. “baik, saya siap!” jawabku
enteng.
Terlihat
pak Susilo masih mamandang sinis kearahku.
Dalam
hati aku berfikir, bahwa ini saatnya aku menunjukkan kemampuanku
didepan
dosen sacara langsung. Aku ingin membuktikan, meskipun aku jarang mengikuti
Fajar
Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)
www.ggs001.cjb.net
kuliah,
tapi aku tetap bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para dosen.
Meskipun
aku tidak pernah masuk, bukan berarti aku tidak kuliah, apalagi tidak bisa
mengerjakan
soal-soal kuliah. Kuliah hanya aku anggap sebagai alat mengambil ijazah
saja,
karena kuliah yang sebenarnya adalah mendapatkan pengetahuan dari sumber
manapun.
Dan inti dari kuliah adalah belajar. Jadi, bukan berarti orang yang tidak
kuliah
tingkat
keilmuannya rendah. Apalagi menganggap bahwa orang yang tidak kuliah, tidak
belajar.
Pak
Susilo memberikan lembaran kertas yang berisi soal-soal kepadaku. “Ini
kerjakan!
Saya
kasih kamu waktu satu jam” ucap pak Susilo tegas.
Pak
Susilo duduk tak jauh dari hadapanku. Dengan tenang aku mengambil kertas itu,
santai
aku mengerjakan soal-soal yang diberikan pak Susilo. Meskipun memang banyak
soal-soal
yang sulit, tetapi aku tetap yakin bahwa aku bisa mengerjakannya. Sebuah
pertaruhan
yang sangat berat, antara sebuah nama baik, nilai dan soal-soal ujian. Jikalau
aku
tidak bisa mengerjakan soal-soal itu, yang akan terjadi adalah sebuah petaka
buruk
bagiku
apalagi untuk organisasi dan teman-teman yang sangat mempercayaiku.
“Baik,
waktu sudah habis!” ucap pak Susilo mengagetkan aku.
Untung
semua yang aku kerjakan sudah selasai, tetapi entah benar apa tidak. Aku
tidak
tahu, hanya Allah swt dan pak Susilo yang tahu. Kertas soal dan jawaban aku
serahkan.
Dengan teliti sekali pak Susilo memeriksa jawaban soal-soal kuis. Wajahnya
terlihat
sangat dingin, dan terkesan sangat acuh sekali. Berkali-kali terlihat pak
Susilo
menggeleng-gelengkan
kepala, sambil terlihat kecewa. Aku hanya diam, menatap kosong
kedepan.
Menyesali kesombongan, kesombongan yang membuat aku jatuh pada lubang
yang
tak termaafkan, kesombongan yang membuat harga diriku runtuh terpinggirkan
dalam
jiwa yang tak tenang.
“KHALID!”
ucap pak Susilo dengan mengeraskan suaranya, aku sedikit kaget waktu itu.
Setelah
itu pak Susilo berkata “Hem, benar ternyata. Aku sangat meragukan kemampuan
kamu.
Ternyata kemampuanmu, lebih dari yang saya bayangkan!”
Aku
masih diam, tidak mengerti tentang ucapan pak Susilo.
“Khalid,
aku memang sudah menduga. Bahwa kamu memang mahasiswa yang brilian,
saat
banyak dosen-dosen yang meragukan kemampuanmu dalam menerima perkuliahan.
Saya
mengetahui kamu memang mahasiswa pintar. Jadi, akhirnya saya yakin bahwa
kamu
benar-benar mahasiswa yang pintar” ucap pak Susilo dengan tersenyum puas.
Selanjutnya
pak Susilo melanjutkan ucapannya “sekarang, kamu bisa menunjukkan judul
skripsi
yang akan kamu pakai”
Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahuakbar, ucapku berulang-ulang dalam
hati. Sungguh
tiada
suatu yang lebih menggembirakan dalam hati kecuali, seorang professor yang
merekomendasi
ilmuku. Merekomendasi tentang apa yang aku peroleh dari belajarku.
Aku
merasa benar-benar memenangkan sebuah pertarungan. Memenangkan sebuah
pertarungan
yang mempertaruhkan sebuah kehormatan. Memenangkan sebuah pemikiran
baru,
bahwa kuliah bukan berarti harus kuliah.
“Perspektif
hukuman mati dalam Hukum Pidana Positif dan Hukum Islam” jawabku
Sambil
mengernyitkan dahinya pak Susilo berkata “Hem, kayaknya bagus. Apa kamu
sudah
dapat bahan-bahannya?”
“Hem,
Insya Allah sudah Pak! Tinggal di ketik” ucapku mantab
“Ok,
saya tunggu! Saya sudah percaya dengan kamu, dan saya tidak meragukan
kemampuan
kamu” ucapnya tegas.
“Baik
Pak, kalau gitu saya permisi dulu!”
“Baik,
saya akan tunggu hasil-hasil yang sudah kamu tulis”
Setalah
berdiri, aku langsung berpamitan. Tetapi saat aku akan berpamitan. Pak Susilo,
memanggilku
“Khalid, saya orang Islam! Perlakukan saya seperti orang Islam”
“Oh
maaf pak, Assalamualaikum” ucapku saat berpamitan
Pak
Susilo tersenyum sambil menjawab “Walaikumsalam”
Tekad
maju penuh kemanangan, senandung nasyid kunyanyikan dalam hati
“Langkah
ini langkah-langkah abadi
Menapak
gagah laju tanpa henti
Langkah
ini langkah-langkah abadi
Menapak
gagah laju tanpa henti”
Sebuah
kemulian yang diberikan oleh Allah Azza wa jalla. Pada para mujahid dan
mujahidah
yang melaju menegakkan kebenaran menyingkirkan kebathilan. Dan Allah
pasti
akan menolong hambanya yang telah berjuang didalam agama-Nya.
......................................Bersambung.........................................
Subscribe to:
Posts (Atom)
Komentar anda
Like
Fan Page
Mengenai Saya
- Coretanqu
- Talang Jawa, Palembang/Sumatera Selatan, Indonesia
- aku adalah aku yang sekarang bukan aku yang terdahulu
Blogger news
Followers
Archive
Blogroll
Tayangan Ke
Entri Populer
-
Perasaan lahir dari sebuah pertemuan Berputik rindu di hati yang amat mendalam Mekar menyinar seluruh alam kehidupan Segar sentiasa ia dalam...
-
Pada waktu itu pertengahan 2007 saya ditunjuk menjadi sekretaris panitia MUBES Warga PBSID FKIP Unsyiah, saya juga disuruh membuatkan bros...
-
Asa Kerja dengan Cinta dan Harmoni Terasah rasa oleh cinta Terasah bahagia oleh asa Cinta bermuara pada bahagia Karena cinta be...
-
Buka Mata! Ubah Paradigma S ahabatku, mengapa ada pemuda yang gagal dalam hidupnya, tak jelas arah tujuannya dan merep...
-
Diwilayah Seunagan ( Jeuram ). Pimpinan wilayah Seunagan yang pertama yaitu : Teuku Johan Masa jabatan dipegang kira – kira 20 Tahun setela...
-
Jika melihat dari sisi medis, Sosiolog di Universitas of Texas, John Mirowsky, seperti dikutip dari Huffington Post, Senin (3/12), menyebut ...
-
Mendengar kata ‘Bahasa Jiwa’, memori kita akan mengingat sebuah album nasyid Bahasa Jiwa yang beredar pada Tahun 2002 milik team nasyid Mai...
-
Ketika ada seseorang yang kau cintai namun mengkhianati cintamu Bersyukurlah, itu mungkin cara Tuhan untuk memuliakanmu Yakinlah, Dia akan m...
-
Menikah adalah impian, target bagi yang sudah pingin. Ada yang berpatokan pada usia. Ada yang berpatokan pada kemapanan finansial. Ada yang...
-
Betapa indah hidup yang terhubung ke langit Ketika ruhmu yang meronta-ronta rindu Kau pertemukan dengan Rabb Yang Maha Tahu Bagai tetes ...